Paus Hiu Siti di Teluk Cenderawasih

Paus Hiu Siti di Teluk Cenderawasih

Penyerahan Simbolis Nama Hiu Paus kepada Menteri LHK, Siti Nurbaya

SHNet, JAKARTA – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya,  menerima pemberian nama “Siti” untuk hiu paus yang dipasangi alat penandaan (tag) satelit di Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC). Inisiatif ini merupakan bagian dari dukungan Conservation International (CI) kepada Pemerintah dalam pelestarian hiu paus serta pengembangan ekowisata hiu paus di Indonesia.

Penandaan satelit hiu paus merupakan bagian dari program konservasi elasmobranch (hiu dan pari) yang dilaksanakan oleh CI Indonesia sejak 2013. Tujuannya untuk menyediakan informasi ilmiah terkait spesies-spesies hiu dan pari yang terancam punah bagi kebijakan dalam pelestarian dan pengelolaan ekowisata. Penyerahan simbolis pemberian nama ini disampaikan kepada Menteri Siti pada puncak peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) yang bertepatan dengan Hari Hiu Paus Internasional pada tanggal 30 Agustus 2018.

HKAN tahun ini yang bertema “Harmonisasi Alam dan Budaya”, selaras dengan upaya dan sejumlah langkah strategis Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (BBTNTC) dalam membangun percontohan (role model) ekowisata hiu paus berbasis masyarakat adat Papua.

Siti Nurbaya menyambut baik dukungan ini dalam memperkuat role model oleh Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (Ditjen KSDAE). “Mandat role model yang diberikan kepada 74 Unit Pelaksana Teknis (UPT) ini merupakan cara baru dalam kelola kawasan konservasi secara partisipatif dan didasarkan pada nilai-nilai adat budaya setempat, sosial ekonomi, serta didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi,” katanya.

Di TNTC, keterlibatan masyarakat adat dalam pengelolaan ekowisata berbasis hiu paus menjadi kunci penting kesuksesan role model yang turut didukung oleh pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan fasilitas riset untuk mendukung pelestarian populasi hiu paus yang sangat penting sebagai aset pariwisata setempat. Dalam periode 2011-2017, pendapatan dari tiket masuk ke TNTC dari ekowisata hiu paus menyumbang lebih dari Rp 2,5 miliar bagi negara.

Kepala BBTNTC Ben Gurion Saroy menyampaikan bahwa BBTNTC sedang menindaklanjuti sejumlah langkah strategis membangun role model tersebut, salah satunya dengan pembangunan Whale Shark Center yang pembangunan tahap pertama dari tiga tahap pembangunan utamanya ditargetkan selesai pada 2019, serta akan menjadi yang pertama di Indonesia.

Sebagian besar tujuan yang dirumuskan dalam pengembangan role model ekowisata hiu paus berbasis konservasi dan kearifan lokal ini membutuhkan dukungan penelitian, pengembangan pengetahuan, teknologi, dan kolaborasi. Oleh karena itu, Whale Shark Center dibangun dengan konsep multifungsi untuk mencapai kesuksesan ekowisata hiu paus, khususnya bagi pengembangan ekonomi wilayah dan penerimaan negara melalui PNBP. Dukungan CI Indonesia dalam hal ini penting bagi kami untuk pencapaian tujuan tersebut.

Siti  merupakan hiu paus berukuran 5,60 meter yang dipasangi tag satelit pada tanggal 14 Agustus 2018 di Kwatisore, Bidang Pengelolaan TN Wilayah I Nabire, TNTC. Pemasangan tag satelit dilakukan oleh staf BBTNTC (La Hamid) dan staf CI Indonesia (Abdi Hasan), dan dikawal secara langsung oleh Kepala BBTNTC.

Sejak Oktober 2014 hingga kini, CI Indonesia telah memasangkan tag satelit (finmount) kepada 32 hiu paus di Teluk Cenderawasih dan telah memberikan sejumlah informasi pola pergerakan dan perilaku yang bermanfaat bagi tata kelola ekowisata setempat. Catatan laporan CI Indonesia menunjukkan bahwa terdapat tiga tipe hiu paus di kawasan TNTC, yakni hiu paus ‘rumahan’, hiu paus yang bergerak menyusuri pesisir, serta hiu paus yang bergerak ke arah perairan lepas. Selain itu, berdasarkan analisis terhadap data pergerakan 15 individu hiu paus, diperoleh  dugaan yang kuat akan kecenderungan  hiu paus untuk tinggal terus di dalam Teluk Cenderawasih sebagai habitat yang memiliki ketersediaan makanan yang relatif konstan serta kondisi yang homogen sepanjang tahun.

Ketut Sarjana Putra, Vice President CI Indonesia, mengatakan penandaan hiu paus merupakan bentuk dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam memberikan informasi bagi kebijakan konservasi dan pengembangan ekowisata hiu paus di Indonesia. Tetapi masih banyak hal yang belum diketahui dari spesies karismatik bernilai ekonomi tinggi ini.

“Informasi yang dikumpulkan oleh CI Indonesia bertujuan untuk memperkuat berbagai aspek; termasuk pengembangan code of conduct interaksi bersama hiu paus serta referensi bagi rencana aksi nasional konservasi hiu dan pari. Ke depannya, sebuah tag satelit generasi baru (dilengkapi kamera video) yang dapat mempelajari perilaku penyelaman lebih rinci akan mulai digunakan untuk mendukung Pemerintah.

“Informasi lain yang dapat diperoleh dari ikan terbesar di dunia ini juga dapat menjadi referensi akan kesehatan perairan Indonesia. Sayangnya hiu paus masih dalam ancaman perburuan, tangkapan sampingan, maupun sampah plastik; dan ini dapat diatasi bersama dengan kemitraan strategis berbagai pihak,” katanya. (Ino)