Merampok Cari Dana Untuk “Come Back” PKI

Gang Di Ngawi Dan Kendal Digulung

Merampok Cari Dana Untuk “Come Back” PKI

Jakarta, 4 Agustus 1974 – Penanggulangan perampokan yang dengan intensif dilancarkan selama ini telah berhasil membongkar dan menangkap gang di Ngawi dan Kendal, perampokan mana merupakan bentuk baru karena hasil rampokannya diperuntukkan bagi rencana “come back” PKI.

Hal ini dikemukakan oleh Kepala Staf Kopkamtib Laksamana Sudomo kepada pers setelah melaporkan situasi keamanan dan ketertiban, khususnya hasil penanggulangan perampokan kepada Presiden Soeharto di Istana Merdeka Sabtu siang.

Menurut Kas Kopkamtib, gang tersebut sebelumnya adalah Tapol PKI golongan C yang telah kembali ke masyarakat. Dalam pemeriksaan atas diri anggota gang yang telah tertangkap tersebut mengaku bahwa mereka disuruh merampok dengan maksud mengumpulkan dana bagi rencana meng-come back-kan PKI. Diterangkan, di Ngawi telah tertangkap 5 orang kawanan gang bersenjata api.

Sudomo tidak memperinci jumlah dana yang berhasil dikumpulkan tapi menunjukan kepada hasil rampokan mereka.
Perampokan dengan pola yang sama terdapat di Kendal karena itu disinyalir ada organisasi perampokan untuk tujuan tersebut.

Selain penangkapan di Ngawi dan Kendal tersebut hasil razia dan operasi Kamtibmas itu antara lain ditangkapnya 1 gang perampok di Banten terdiri dari kurang lebih 5-10 orang dengan senjata api. Demikian juga gang yang sama di Cirebon dan Surakarta seperti yang sudah diumumkan oleh pihak Polri.

Daftar senjata
Dalam hubungan ini Ka Staf Kopkamtib telah menginstruksikan kepada Kapolri agar segera mengumumkan pendaftaran kembali senjata api yang ada di masyarakat. Ia tidak menyebut kapan instruksi itu akan dimulai Kapolri.

Kata Sudomo, setelah 3 bulan instruksi itu berjalan dan di masyarakat masih terdapat senjata api yang tidak punya ijin dan tidak terdaftar maka jelas telah melanggar hukum.
Atas pertanyaan ia kemukakan menurut pendaftaran terakhir tercatat 4.000 pucuk senjata api berada di tangan masyarakat termasuk dalamnya senjata berburu.

Kelima orang yang tertangkap di Ngawi dikatakan mempunyai hubungan dengan gerakan “PKI malam” yang terdapat di Madiun, Kecamatan Jogorogo dan Jakarta.
Disamping bekas golongan C yang diwajibkan melapor juga terdapat bekas anggota BTI.

Sudomo mengemukakan sistem pengawasan terhadap bekas golongan C akan ditingkatkan, dengan tetap meminta perhatian masyarakat untuk selalu turut mengawasi mereka.

Terima kasih
Sementara itu Kepala Staf Kopkamtib Laksamana Sudomo menyampaikan terima kasih kepada masyarakat berhubung tidak timbulnya hal yang mengganggu keamanan dan ketertiban ketika perkara Hariman Siregar disidangkan minggu lalu.

Hal itu dikemukakan Sudomo selesai menemui Presiden Soeharto Sabtu siang di Istana Merdeka. Menilai situasi aman itu berkata Sudomo : “Saya kira sudah mulai masyarakat itu mempunyai disiplin nasional, adanya kesadaran politik yang baik. Saya ucapkan terima kasih dalam memenuhi seruan Laksusda Jaya”.

Selebaran gelap
“Tapi ya ini”, kata Sudomo selanjutnya, “ada juga surat selembaran gelap ketika persidangan itu”. Sudomo tidak memperinci isi selembaran itu cuma mengatakan “biasa ada reaksi dalam keadaan demikian”.

Ketika seorang wartawan bertanya “Tidak setuju Hariman diadili atau bagaimana Pak ? ”, Sudomo menjawab : “Ya, ada begitu”.
Sudomo memperingatkan cara demikian bukan cara yang baik dalam memecahkan persoalan, “Kalau memang jantan ya, kita jelaskan, kita kan boleh saja berbeda pendapat dengan pemerintah, tidak ada persoalan hanya caranya yang harus kita perhatikan, salurkan melalui yang seharusnya. Janganlah memakai kekerasan dan sebagainya itu”.

Ia katakan penyebaran surat gelap itu akan terus dikejar dan menganjurkan kepada masyarakat bila menerima surat gelap agar segera melaporkannya kepada polisi. (Sinar Harapan)