Menteri Perdagangan Suriname Arek Surabaya

Menteri Perdagangan Suriname Arek Surabaya

Jakarta, 14 Agustus 1968 – Menteri Perdagangan dan Industri Suriname George Suhardiman Rakim menyatakan merasa disini seperti berada ditengah-tengah sanak saudara sendiri, dan ingin mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman.

Hal ini dinyatakan hari Selasa kemarin ketika mengadakan kunjungan kehormatan kepada Menteri Penerangan H. Boediardjo di kantor kerjanya. Dalam pertemuan yang akrab tersebut para anggota delegasinya banyak menanyakan dan mendapatkan keterangan mengenai pekerjaan penerangan dan soal yang menyangkut pembangunan, perencanaan dan pertanian. Menpen menyanggupi untuk melayani keperluan delegasi dibidang penerangan.

Menteri Suhardiman Rakim yang tiba di Jakarta hari Sabtu malam itu telah pula mengadakan kunjungan kepada Menteri Perdagangan Sumitro, Menteri Koperasi dan Transmigrasi Sarbini, Ketua DPDRGR A. Sjaichu, dan seterusnya akan mengadakan kunjungan kehormatan kepada Menteri lainnya dan Presiden. Beliau berkesempatan menyaksikan perayaan 17 Agustus tahun ini.

Ayah Surabaya, Ibu Sala
Menteri G. Suhardiman Rakim dari Suriname itu ternyata keturunan Indonesia, dilahirkan di Suriname 47 tahun yang lalu, dan Ny Rakim juga kelahiran Suriname 33 tahun yang lalu, Ayah Menteri Rakim dari Surabaya dan Ibu dari Sala, sedang Ayah Ny. Rakim asal keturunan dari Banten. Menteri Rakim dan Nyonya baru pertama kali berkunjung ke Indonesia.

Menteri Perdagangan dan Industri Suriname yang sedikit sekali dapat berbicara dalam bahasa Indonesia karena bahasa sehari-hari ialah Belanda, menerangkan bahwa di Suriname terdapat 55.000 penduduk asal Indonesia dari seluruh penduduk Suriname yang berjumlah 400.000 jiwa.

Lainnya adalah campuran atau keturunan Belanda, China, Hindu, Indian dan Creol. Maka dalam rombongan Menteri ini terdapat pejabat dari keturunan tersebut. Tentang imigran dari Indonesia yang pertama datang di Suriname yakni pada tahun 1890 dan kegemaran mereka sampai sekarang ini masih gemar nonton Wayang Orang atau Ludruk. Dan masih banyak yang berbahasa Jawa kuno. (SH)