Mama Papua Percaya Tujuan Jokowi Bangun Pasar

Mama Papua Percaya Tujuan Jokowi Bangun Pasar

Pasar Mama Papua, Jayapura

SHNet – Suku-suku asli di nusantara ini tidak banyak yang mengenal pasar permanen sebagai tempat transaksi jual-beli barang-barang yang mereka miliki. Mereka lebih banyak memiliki tradisi “hari pasar” yang terjadi pada hari-jari tertentu dalam seminggu atau sebulan.

Misalnya, Pasar Senin, pasar yang terjadi setiap Hari Senin, mulai dari pagi hingga jelang sore hari. Pasar Minggu, pasar yang bisa jadi mulai Hari Sabtu Malam hingga Hari Minggu sore.

Pasar yang berlangsung dari sore hari bisanya hanya dilakukan saat bulan purnama. Tentu karena mengandalkan terang bulan sebagai pencahayaan. Sebab cahaya listrik belum tersedia.

Namun, suku-suku asli di nusantara ini sangat gigih ketika memilih bekerja sebagai pedagang. Tidak hanya kaum laki-laki, tetapi juga perempuan. Di Papua dan Papua Barat misalnya, mayoritas yang jadi pedagang adalah kaum perempuan, mama-mama Papua. Mereka sangat tangguh.

Mama Papua menjual apapun hasil pertanian yang bisa dijual. Mereka bisa menanam, memungut, memetik  kemudian menjual hasil berbudidaya dengan sangat sederhana atau produk ketrampilan dengan kualitas yang sederhana yang mereka miliki. Semisal noken (tas khas Papua) dan rajutan atau anyaman lainnya.

Karena itu, tak heran kalau mereka berjualan secara musiman atau insidentil saja. Tidak ada yang menjual suatu produk atau hasil bumi secara konstan dari waktu ke waktu. Sangat tergantung musim. Itu pula yang membuat mereka hanya bisa bertemu di pasar sekali dalam seminggu, atau sekali dalam sebulan. Mereka menanam pisang, memetik, memeram, dan membawanya ke pasar untuk dijual.

Di Papua dan Papua Barat, Mama Papua yang berada di pegunungan turun ke lembah untuk membarter hasil karya mereka dengan produk lain yang mereka inginkan. Mereka bisa berjalan kaki selama satu sampai dua hari untuk menemui pasar yang dituju di lembah. Di situ mereka menunggu pembeli, atau siapapun yang mau membater dagangan mereka selama dua hingga tiga hari lamanya.

Terkadang Mama Papua bisa menunggu lebih lama di pasar jika barang dagangannya belum terjual habis dan masih ada temannya yang menunggu. Tidur ditenda sederhana tanpa alasan tikar, bahkan terkadang langsung di tanah saja. Namun tak jarang mereka memilih meninggalkan barang dagangannya begitu saja jika tak mau dibawa pulang. Yaa, mereka tidak terorganisir sama sekali. Bekerja secara individual dari menanam hingga menjual produk pertaniannya tanpa bantuan siapapun. Tentu, kondisi ini sangat merugikan mereka.

Sementara suku-suku pendatang di daerah ini cenderung lebih terorganisir melalui mekanisme punggawa ketika berdagang; baik dari segi akses permodalan, distribusi komoditas, proteksi, monopoli dan lain sebagainya. Mereka juga sudah berakses pada perbankan. Bisa menguasai pasar permanen sehingga tak tersaingi oleh mama-mama Papua yang berjualan hanya emperan pasar.

Revitalisasi Pasar

Situasi itulah yang dihadapi oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) ketika hendak memberdayakan Mama-mama Papua. Situasi ketidakberdayaan, pedagang tanpa perlindungan di era modern. Kaum perempuan pula!

Sejak lama, Mama-mama Papua sebetulnya sadar dan paham bahwa mereka akan bisa berkembang dalam berdagang, mampu bersaing dengan pedagang dari suku-suku lain, andai saja mereka mendapat fasilitas yang sama.

Karena itu, terpilih Jokowi sebagai presiden pada pemilu 2014 lalu tak ingin mereka sia-siakan. Setiap kali Presiden Jokowi melakukan kunjungan kerja ke Papua dan Papua Barat, Mama-mama Papua selalu meminta hal yang sama: pembangunan pasar permanen bagi mama Papua, diikuti dengan pelatihan dan pembinaan pedagang.

Presiden Jokowi pun berjanji memenuhi permintaan Mama-mama Papua tersebut. Kepala Negara pun tidak sekedar membangun pasar yang identik dengan kumuh, reget, dan becek, serta parkiran yang semrawut. Sebaliknya, Pasar Rakyat tidak kalah dengan pasar modern, mall, supermarket atau hypermarket sekalipun.

Sebagai pusat belanja, pasar dalam program revitalisasi pasar ala Jokowi tidaklah main-main. Pembangunan Pasar Mama di Papua dan Papua Barat adalah bagian prioritas. Sama halnya dengan pembanguan pasar di daerah tertinggal, terluar, dan perbatasan lainnya.

Dalam membangun Pasar Mama, Jokowi menekankan empat hal, yakni revitalisasi risik berupa perbaikan dan peningkatan kualitas dan kondisi fisik bangunan, tata hijau, sistem penghubung, sistem tanda/reklame dan ruang terbuka kawasan. Atau pembangunan pasar yang baru sama sekali.

Kedua, pembenahan manajemen, yakni pemerintah daerah bertanggung-jawab atas pasar yang dibangun/direvitalisasi. Pemerintah daerah harus mampu membangun manajemen pengelolaan pasar yang professional, mengatur secara jelas tata-kelola pasar, seperti hak dan kewajiban pedagang, tata cara penempatan, pembiayaan, fasilitas-fasilitas yang harus tersedia di pasar, prosedur standar pengoperasian pelayanan pasar. Para pedagang dalam pasar harus bersaing secar sehat, dan pasar bisa berkompetisi dengan pusat-pusat penjualan di lingkungannya.

Ketiga, sekedar membangun sebuah pasar secara fisik bagi Presiden Jokowi, belum cukup untuk mensejahterakan pedagang di dalamnya, apalagi dalam konteks masyarakat di Papua dan Papua Barat. Karena itu, kepercayaan (trust) Mama-mama Papua terhadap pemerintah harus ditangkap sebagai golden period dalam membangun dan membentuk ekosistim pasar yang mengakomodasi pedagang suku asli dan suku migran, pedagang formal maupun informal, pedagang produk sederhana/tradisional maupun produk moderen.

Terakhir, penekanan mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut adalah menciptakan lingkungan yang menarik dan berdampak positif serta dapat meningkatkan dinamika dan kehidupan sosial masyarakat Papua dan Papua Barat. Keberdaan pasar mesti menjadi peluang untuk menghilangkan perbedaan antara pedagang suku asli dengan suku-suku migran. Juga sebagai tempat untuk belajar menyatukan cita-cita dan harapan sebagai Warga Negara Indonesia dalam keadilan sosial dan persatuan.  (IJ)