Kembalikan Kejayaan Kopi Papua

Kembalikan Kejayaan Kopi Papua

Ist

SHNet, JAKARTA – Kopi berperan penting dalam sejarah dan budaya suku asli Papua dan Papua Barat. Kopi menjadi sarana berkenalan, mempererat persahabatan. Dengan menyeduh kopi bisa saling menyapa dan berkenalan menjadi sahabat.

Kopi asli Papua pada masa jayanya melanglang buana ke seluruh jagat. Namun sempat meredup, tidur dalam sunyi dalam jangka waktu lama. Kini Kopi Papua dan Papua Barat sadar dan bangun, berdiri dan hendak berlari ke seluruh jagad lagi.

Geliat kopi unggulan dari sentra-sentra kopi Lembah Baliem di wilayah adat Lapago dengan Kopi Arabika Wamena, dan Lembah Kamu di wilayah adat Mee Pago dengan Kopi Arabika Maonemani, kini kembali.

Di Kabupaten Dogiyai yang dulu merupakan bagian dari Kabupaten Nabire, kopi adalah komoditas utama. Pohon kopi membentang tumbuh subur di Kamuu, Dogiyai, Kamuu Utara, Kamuu Timur, Kamuu Selatan, Mapia, Mapia Tengah, Mapia Barat, dan Piyaye.

Di daerah ini kopi tumbuh di ketinggian 1.000 sampai 2.000 meter dari permukaan laut. Menurut sejumlah penikmat kopi, kekhasan kopinya adalah aroma kacang panggang yang gurih, seakan-akan ada rempah dan coklat sekaligus di dalamnya. Memuaskan dan menyenangkan sekali, karena masih ada legit karamelnya.

Ist

Dari sejumlah cerita lisan, masyarakat suku asli Papua percaya bahwa mereka mewarisi kemampuan mengolah kopi (dan sagu) yang diajarkan pada masa penjajahan. Klarfikasi keabsahan cerita ini cukup sulit, mengingat bisa saja pemanfaatan kopi sudah ada di tanah Papua sebelum jenjajah (Belanda-red) masuk. Hal yang terang adalah masyarakat asli Papua dan Papua Barat percaya bahwa kopi pernah mensejahterakan mereka. Oleh karenanya, komoditas kopi dijaga dan dipelihara dengan baik.

Konon, cerita lain adalah, dulu misionaris Belanda menanam kopi di wilayah Dogiyai karena subur untuk tanaman tersebut. Namun, pada sekitar tahun 1890-an, misionaris Belanda tersebut pergi dan meninggalkan kebun kopinya. Hanya saja kala itu, warga di Dogiyai juga sudah banyak yang menjadi petani kopi.

Pada tahun 1960-an, misionaris (Belanda) kembali memperkenalkan kopi di wilayah Pegunungan Tengah Papua dan melatih cara menyangrai dan menggiling kopi untuk dijual dan dikonsumsi sendiri. Cara yang dilakukan sangat sederhana dan serba manual. Misalnya mengupas kulit dengan tangan, serta menumbuk mengunakan lesung. Namun, itulah awal kejayaan kopi Papua.

Pada tahun 1990-an, kopi Dogiyai berhasil diekspor ke luar negeri. Meski tidak ada rincian yang tegas dan jelas soal produksi kopi saat itu. Meski demikian, produksi kopi untuk kebutuhan ekspor itu tidak berlangsung lama.

Nah, pada era Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK, melalui Kelompok Kerja (Pokja) Papua, pemerintah kembali mengintervensi dengan Program Percontohan Pembangunan Ekonomi Terintegrasi dan Komprehensif di wilayah adat Mee Pago. Salah satu programnya adalah #BanggaMenyeduhKopiPapua yang bekerja sama dengan berbagai pihak. Beberapa kafe kopi disinergikan dengan sejumlah BUMN yang memiliki wilayah operasi di Papua dan Papua Barat.

Tujuannya, apalagi kalau bukan untuk kembalikan masa jaya kopi Papua dan Papua Barat.

Hastag #banggamenyeduhKOPiPAPUA adalah kampanye membuka lapangan kerja dan peluang usaha bagi masyarakat suku asli setempat dalam bidang/sektor usaha yang mereka pahami dan inginkan.

Kopi dipandang mudah dipahami karena sudah menjadi bagian dari kesejarahan Papua dan Papua Barat. Bisa dibayangkan resiko pengangguran yang dihadapi Papua dan Papua Barat dalam 10 tahun dari sekarang, jika tidak dilakukan hal-hal kreatif dan inovatif. Bila pemerintah tidak berhasil menemukan pola untuk mengejar penyetaraan ketrampilan dan produktifitas tenaga kerja, bisa dibayangkan keterpojokan ekstrim yang akan dialami sumber daya manusia dari suku asli Papua dan Papua Barat pada 2028-2030 nanti.

Karena itu, di antara berbagai prioritas pembangunan di Papua dan Papua Barat, yang amat urgen adalah kebutuhan meningkatkan ketrampilan dan produktifitas tenaga kerja dari suku asli setempat. Salah satunya adalah kampanye #banggamenyeduhKOPiPAPUA. (IJ)