Jangan Bersikap Hidup Yang Dapat Menusuk Perasaan Golongan Lain

Seruan Presiden Soeharto

Jangan Bersikap Hidup Yang Dapat Menusuk Perasaan Golongan Lain

Jakarta, 16 Agustus 1973 – Presiden Soeharto menyerukan agar seluruh lapisan masyarakat mampu menahan diri demi terpeliharanya ketertiban dan kelancaran pembangunan. Diingatkan agar jangan bertingkah laku atau bersikap hidup yang dapat menusuk perasaan golongan lain, lebih-lebih yang tidak menghargai perasaan rakyat banyak.

Seruan Presiden itu dikemukakan dalam rangka pidato kenegaraan menyambut HUT ke-28 Proklamasi, khusus dalam bagian yang menyinggung “Peristiwa 5 Agustus” di Bandung baru-baru ini.

Berkata antara lain Kepala Negara : “Saya sangat menyesalkan peristiwa itu, penyelesaian atau permintaan keadilan harus kita salurkan melalui saluran yang tersedia untuk itu, saluran demokrasi atau saluran hukum. Karena itu main hakim sendiri oleh seseorang terhadap orang lain oleh kelompok orang terhadap kelompok laini, merusak benda atau nama baik orang lain dan perbuatan sejenisnya benar-benar merupakan perbuatan yang tidak bertanggung jawab”.

Lebih-labih lagi apabila perbuatan semacam itu ditimpakan kepada mereka yang sama sekali tidak bersalah, apabila pengrusakan itu menghancurkan apa yang sesungguhnya malahan diperlukan oleh masyarakat. Kalaupun aksi itu memang mempunyai tujuan yang baik, aksi pengrusakan tidak pernah mencapai tujuannya.

Malahan sebaliknya membangkitkan kegelisahan umum dapat memacetkan ekonomi sehari-hari, dapat menghambat kelancaran perdagangan dan produksi yang sedikit banyak mempengaruhi pembangunan pada umumnya. Yang rugi pada akhirnya adalah masyarakat sendiri, yang untung tidak lain adalah mereka yang menghendaki kekacauan terutama sisa G30S/PKI. Perbuatan semacam itu membuat kita malu kepada dunia luar.

Karena itu kejadian seperti ini harus tidak terulang lagi, alat keamanan dan penegak hukum telah saya instruksikan agar bertindak tegas, semua yang bersalah dan melanggar hukum harus diajukan ke pengadilan dengan segera. (SH)