Hariman Bantah Mahasiswa UI Merusak Pada Peristiwa “15 Januari”

Hariman Bantah Mahasiswa UI Merusak Pada Peristiwa “15 Januari”

Jakarta, 20 Agustus 1974 – Sidang ke-6 perkara Hariman Siregar hari Selasa di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Majelis Hakim telah memberikan kesempatan kepada tim pembela mengajukan pertanyaan kepada terdakwa.

Tasrif SH (T) : Apakah GDUI (Group Diskusi UI) sampai sekarang masih diakui sebagai suatu “academic freedom” Hariman Siregar (HS) : “Sampai kini Universitas masih diberi keleluasaan membicarakan masalah yang dianggap perlu dalam rangka kebebasan mimbar dalam GBHN (Garis-Garis Besar Haluan Negara)” yang sudah saya baca, kebebasan itu juga diakui.
Tanya : “Kalaui saudara mengadakan pertemuan dengan DM lain di luar UI di Cibogo, apakah saudara masih menganggap hal itu dalam rangka kebebasan kampus ? ”.
HS : “Ya”.

Tanya : mengenai Petisi yang pada sidang sebelumnya telah banyak disinggung oleh hakim, saudara itu sebagai apa ?.
HS : “Saya anggap sebagai semacam permohonan. Jika dikabulkan yang tidak apa-apa”.

Tanya : “Pernah saudara mengatakan sekitar “Petisi Soetardjo” pada masa penjajahan ?. Dalam petisi tersebut tercantum antara lain bahwa orang Indonesia yang masih dijajah menginginkan perubahan. Pernahkah saudara dengar karena Petisi itu Soetardjo kemudian ditangkap, ditahan dan diadili ? ”.
HS : “Saudara sudah beristeri ?”
HS : “Sudah”.

Tanya : “Bagaimana caranya saudara sewaktu mau memperoleh tujuan saudara yakni memperoleh seorang calon iseri ?”.
HS : “Caranya macam-macam, misalnya kunci mobil ayahnya kita curi dan buru menyerahkannya kembali seolah itu kita temukan di tempat lain atau dengan cara mendekati ibunya apa yang disenanginya kita suguhkan kesenangan itu dan kita akhirnya dapat berbicara bebas dengan anak kandungnya”.

Tanya : “Jadi ada macam-macam cara bukan ?. Sekarang kenapa Lembaga DPR tidak saudara gunakan menyalurkan Petisi 24 Oktober itu yang isinya juga inginkan perubahan keadaan ?”.
HS : “Karena di dalamnya tidak ada wakil mahasiswa seperti yang lalu dan hubungan dengan lembaga itu agak “kortsluiting”.
Tanya : “Sesudah Petisi iotu muncul, adakah Guru Besar UI yang pernah memberikan kuliah ekonomi kepada saudara, panggil saudara dan menyatakan ketidak setujuannya”.
HS : “Tidak ada”.

Tanya : “menurut surat tuduhan, saudara dituduh dengan pencetusan Petisi 24 Oktober 1973 telah merongrong kekuasaan dan kewibawaan negara, benarkah demikian ?”.
HS : “saya tidak merasa merongrong”.
Tanya : “Dengan itu ada keinginan saudara untuk merubah struktur pemerintahan dari Presidentil Kabinet menjadi Kabinet Parlementer ?”.
HS : “Tidak”.

Tanya : “Jadi tetap mengakui RI berbentuk Republik dan Negara Kesatuan dan tidak menginginkan Kerajaan dan Federasi ?”.
HS : “Tetap”.
Tanya : “Sekitar kejadian 15 Januari tentang perusakan, apakah saudara melihat mahasiswa UI turut melakukannya ?”.
HS : “Tidak. Pada hari itu kita sudah menginstruksikan bahwa anak-anak UI harus berkkumpul di Trisakti dengan jalan kaki melalui jalan Kramat Raya, Raden Saleh, Monas, Museum dan di seberangnya sudah menunggu truk untuk mengangkut ke Trisakti.

Tiba di Trisakti sudah jam 11:00 dan kemudian diadakan apel. Dalam apel terdengar berita bahwa ada anak-anak Universitas lain ditangkap petugas dan lempar-lemparan batu dengan petugas tetapi bukan anak-anak UI. Sesudah selesai apel anak-anak UI naik truk kembali dan kebetulan melalui daerah dimana-mana terjadi pengrusakan dilakukan oleh mahasiswa lain atau anak-anak di luar kampus, sekali-kali bukan oleh anak-anak UI.

Sorenya, di halaman FKUI kita berkumpul dan DMUI membuat pernyataan mengutuk pelaku pengrusakan karena kami anggap hal itu tida sesuai dengan cara perjuangan mahasiswa. Jadi ketika anak-anak UI kembali ke Salemba, sudah ada pengrusakan di jalan sedangkan anak-anak UI tetap tidak keluar dari truk walaupun mereka melihat terjadinya pengrusakan, pembakaran mobil keluaran Jepang”.

Tanya : “sekali lagi, apakah maksudnya dalam aksi UI menyambut Tanaka, bendera diturunkan setengah tiang ?”.
HS : “Itu sebagai pernyataan prihatin dari mahasiswa atas keadaan sekarang dan bukan maksudnya untuk menghina tamu negara”.

Tanya : “Jadi tegasnya, sebagai Ketua DMUI saudara tidak bertanggung jawab atas perbuatan DM lain apalagi anak non-kampus, kalau ada usaha orang lain atau DM lain untuk mengajak anak UI bergerak di luar kampus itu bukanlah tanggung jawab saudara bukan?”.
HS : “ya, bukan tanggung jawab saya, saya hanya bertanggung jawab kepada DMUI sebagai Ketuanya”.

Dikatakan oleh HS bahwa sewaktu “Petisi 24 Oktober” mau dicetuskan ada seorang pejabat yang disebut sebagai telah diberitahukan tentang maksud mahasiswa dan pejabat tersebut tidak ada menyatakan keberatannya.
Talas Sianturi SH (TS) : “Ide untuk Petisi itu dicetuskan mula-mula berasal dari siapa ?”.
HS : “Dalam suatu rapat hal itu kita tentukan dengan cara apa kita menyampaikan maksud mahasiswa”.
TS : “Setelah Petisi diucapkan jam 00:00 di Taman Pahlawan Kalibata, ada anggota DMUI yang protes”.
HS : “Tidak ada”.

Nursewan SH : “Apakah dengan Petisi itu saudara merasa masih loyal kepada Kepala Negara ?”.
HS : “Saya tetap loyal kepada Kepala Negara dan dalam semua acara DMUI tidak ada menyinggung soal kehormatan Kepala Negara karena tidak ada persoalan tentang itu. Kita putuskan tidak soal dukungan seperti jaman Orla”.

Pada permulaan sidang, Hariman mengusulkan agar sidang selanjutnya hanya berlangsung hanya berlangsung sampai jam 13:00 saja. Hal itu dikemukakan kepada Hakim Ketua BH Siburian SH dengan alasan bahwa dia merasa letih pada sidang jam 15:10 WIB dimulai jam 09:00. ditambahkan, tentunya Hakim dan Panitera juga letih dan tidak dapat diharapkan akan mencatat dengan baik, Hakim Ketua menjawab, itu sudah dalam pembicaraan Hakim Majelis dan usul Hariman akan dipertimbangkan. (SH)