Apa Kelebihan Kopi Wamena dan Maonemani?

Apa Kelebihan Kopi Wamena dan Maonemani?

Ist

SHNet, JAKARTA – Setiap daerah penghasil kopi di nusantara ini memiliki kekhasan rasa dan aromanya masing-masing. Unik. Termasuk kopi arabika Wamena dan arabika Maonemani yang banyak tumbuh di kedua daerah itu. Sama-sama jenis kopi arabika, tapi tetap unik karena dari dua daerah berbeda.

Kopi arabika Wamena dan arabika Meonemani adalah kopi khas Papua dan Papua Barat. Kopi arabika Wamena tumbuh di daerah pegunungan Jayawijaya Wamena dengan ketinggian 1.400-2.000 meter di atas permukaan laut. Kopi di daerah ini tumbuh subur tanpa menggunakan pupuk kimia apapun. Citra rasanya khas dengan rona aroma yang mempesona.

Kopi Wamena bisa digolongkan sebagai kopi organic karena tumbuh alami saja. Ia tidak terasa asam karena memiliki kadar asam yang rendah. Jika semua golongan usia suka menikmati kopi arabika Wamena, tentu hal yang wajar. Alasannya, ya kadar asamnya rendah. Kopi dataran tinggi! Jadi, aman bagi siapapun yang ingin meneguknya, tanpa takut ada bahan kandungan kimia di dalamnya.

Kopi arabika Maonemani juga memiliki kelebihan yang kurang lebih sama. Petani menanam kopi mereka di ketinggian 1.400-2.000 meter di atas permukaan laut di daerah pegunungan Dogiyai. Tidak ada bahan kimia yang dipakai dalam menanam dan merawat kopi. Bisa dimaklumi karena letak daerah tersebut termasuk sulit dijangkau. Namun, kesulitan itulah yang menjadi kelebihan kopi arabika Maonemani.

Citra rasa kopinya unik. Tak cuma aromanya. Ada semacam perpaduan antara karamel yang legit dengan rasa akhir rempah-rempah dan cokelat. Kopi ini juga memiliki aroma kacang panggang yang gurih. Nah, ini yang membuat lidah dan tenggorokan ketagihan meneguknya.

Seperti halnya kopi arabika Wamena, kopi di pegunungan Dogiyai juga digolongkan kopi organik, kopi yang tumbuh secara alami tanpa dirangsang oleh obat kimia. Jika masih mengikuti proses olahan biji yang serba manual, tanpa melibatkan mesin, tak terbayang nikmat dan lesat kopinya.

Kekhasan inilah yang juga mendorong Pokja Papua tertarik untuk mengembangkannya. Selain juga karena pemerintah ingin komoditas pertanian seperti kopi didorong untuk mengembangkan perkonomian Papua dan Papua Barat. Saat ini, kopi menjadi strategis karena mempunyai penikmat yang sangat beragam di seluruh dunia. Sekarang adalah era minum kopi, nongkrong asik, wajib ditemani kopi di sudut manapun.

Ada keunikan lain juga yang kita bisa temukan pada kopi Wamena dan Maonemani, yakni semua petani menanam kopi ditanam di bawah pohon naungan. Bahawasannya kopi perlu tanaman pelindung, agar cahaya matahari perlu disaring. Tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin. Lebih dari itu, daun dari pohon pelindung adalah pupuk yang baik bagi pohon kopi yang ada.

Ini adalah kearifan lokal yang bisa ditemukan di arel kebun kopi di Kaliandara, Erytrhina dan Abizia. Mungkin itulah yang menyebabkan kopi bertekstur ringan, minim ampas, harum semerbak, dan tidak asam.

Berdasarkan wilayah adat, ada dua wilayah yang mempunyai potensi besar akan kopi di tanah Papua, yakni Lembah Baliem (wilayah adat La Pago) dan Lembah Kamu (Meepago).  Di wilayah adat Meepago daerah penghasil kopi adalah Intan Jaya, Paniai, Deiyai, Dogiyai. Sementara wilayah adat La Pago, daerah penghasil kopi adalah Puncak Jaya, Tolikara, Jayawijaya dan Pengunungan Bintang. (IJ)