Yan Lani, Petani Kopi yang Bangga Sebagai Petani

Yan Lani, Petani Kopi yang Bangga Sebagai Petani

SHNet – Di sana ngopi, di sini ngopi. Di situ ngopi, di sebrang juga ngopi. Di mana-mana ngopi. Yaa, sekarang era minum kopi.

Ngopi tak kenal waktu. Kapan saja bisa. Tinggal pilih kadar rasa kopinya seperti apa. Jenis kopi juga beragam dari berbagai daerah di negeri ini. Itulah bahagianya Indonesia. Kopi saja bermacam rasa meski jenis kopi bisa saja sama.

Sekarang era minum kopi. Penikmat kopi tak kenal batas usia. Siapa saja ngopi. Anda mau ngopi, lupakan berbagai macam perbedaan pilihan politik, suku, agama dan ras. Seruput kopi adalah milik semua. Nikmati rasa persatuan dan kesatuan Indonesia dengan ngopi.

Ketika Anda ngopi, permintaan kopi terus meningkat. Harga kopi makin menarik. Petani kopi senang dan riang gembira. Ekonomi meningkat. Tak hanya ekonomi petani kopi, tetapi juga ekonomi Indonesia secara keseluruhan.

Seperti yang dialami Yan Lani, pemuda yang memilih menjadi petani kopi dari Wamena, Papua ini. Percaya diri dan bangga dengan profesinya sebagai petani kopi. Ia dengan tekun mengerjakan lahan kopi milik ayahnya. Tidak mau memandang petani sebagai pekerjaan pilihan terakhir karena tidak ada pilihan pekerjaan lain.

Tahukah Anda, dalam setahun ia kini bisa menghasilkan 65 ton kopi green bean dari kebunnya. Kalau satu kilogram kopi green bean seharga Rp 40.000 saja, Yan Lani meraup omset sekitar Rp 2,9 miliar.

Sekarang Yan Lani mempekerjakan 10 orang pemuda. Ia menargetkan bisa memproduksi hingga 150 ton kopi dalam setahun. Naah, kalikan saja omset Yan Lani kalau target itu tercapai dalam tiga tahun ke depan. Hal yang terang, Yan Lani sudah bisa berwisata ke luar negeri karena profesinya sebagai petani kopi.

Kalau kopi tidak lagi dijual dalam bentuk green bean, tapi diolah hingga tinggal dihidangkan, berapakah keuntungan Yan Lani? Anda hitu saja sendiri. Sekarang era ngopi. Anda rugi kalau nggak ngopi. Apalagi seruput Kopi Wamena dari lahan milik Yan Lani. (IJ)