Sejarah Singkat Pers Peranakan Tionghoa Di Jawa Sebelum Perang

Sejarah Singkat Pers Peranakan Tionghoa Di Jawa Sebelum Perang

Li Po Surat Kabar (Mingguan) Pertama Perniagaan Siang Po, Pendukung Indie Weerbaar

Oleh : Drs. Leo Suryadinata

Sinar Harapan, 7 Juli 1970 – Kesadaran nasional Tionghoa di Jawa ditandai dengan berdirinya sebuah perkumpulan sosial/pendidikan yang bernama Tiong Hoa Hwee Koan (THHK).
Tujuan dari perkumpulan itu ialah menyebarkan ajaran Konghucu (Confucius) guna memberantas ketahayulan dan praktek yang buruk dalam kalangan Tionghoa.

Disamping itu perkumpulan tersebut juga bermaksud “membetulkan praktek yang salah diantara orang Tionghoa supaya mereka tidak tertinggal dalam kedudukan rendah”.
Salah satu cara untuk mencapai tujuan itu ialah dengan mendirikan sekolah Tionghoa.

Dengan lahirnya nasionalisme Tionghoa di Jawa itu, maka muncullah surat kabar peranakan Tionghoa yang bermaksud menjaga kepentingan Tionghoa.

Surat kabar peranakan Tionghoa yang pertama di Jawa adalah Li Po, sebuah mingguan yang terbit di Sukabumi pada tanggal 12 Januari 1901 dibawah pimpinan Yoe Tjai Siang dan Tan Ging Tiong.

Lahirnya Li Po berhubungan dengan terbentuknya THHK.
Phoa Keng Hek, Presiden pertama dari THHK dan Lie Kim Hok, salah seorang pendiri THHK adalah teman sekolah dengan Yoe Tjai Siang.

Mereka masuk sekolah misi yang sama di Buitenzorg (Bogor) dan mempunyai pandangan yang bersamaan mengenai ajaran Confucius.

Tajuk rencana Li Po pernah menghubungkan tiga kejadian dalam awal abad ke-20 itu satu sama lain. Ketiga kejadian itu, yaitu terbitnya terjemahan Ta Hsueh Chung Yung (dua buah kitab Confucius yang penting) dalam bahasa melayu-Tionghoa, terbentuknya THHK dan terbitnya Li Po, menurut tajuk rencana tersebut, mempunyai satu tujuan, yaitu hendak menerangkan kegelapan dengan jelas kerukunan perdamaian dan hendak mendapatkan daya upaya akan membenarkan adat istiadat dan aturan yang tiada setuju dengan Tjoeng Joeng (Chung Yung – penulis) Tjeng To (Chen Tao, artinya kira-kira jalan keadilan, sejarah Lao Tau – penulis) sebagaimana dipelajari (seharusnya diajarkan-penulis) oleh Nabi Kong Hoe “Tjoe” (Li Po, 11 Mei 1901).

Perlu dijelaskan disini bahwa Li Po bukan surat kabar dalam arti sekarang, tetapi mingguan yang banyak memuat karang-karangan yang berhubungan dengan ajaran Confucius.
Berita tidak banyak mendapat tempat dalam Li Po.

Walaupun demikian, surat kabar itu telah memuat polemik antara tokoh THHK dengan pendeta Belanda mengenai ajaran Confucius dan agama Kristen.
Sebagai surat kabar mingguan, Li Po tidak mengalami perkembangan dan mati sendiri dalam tahun 1907.

Perniagaan Siang Po
Dalam tahun 1903, sebuah surat kabar dagang bernama Chabar Perniagaan lahir di Batavia.
Seperti halnya dengan Li Po, Chabar Perniagaan mula-mula terbit sebagai mingguan, tetapi sejak 1 Mei 1904 koran itu menjadi harian.

Pemimpin redaksinya seorang peranakan Belanda yang bernama F. Wiggers. Dia dibantu oleh Lie Kim Hok dan Tan Kim Bok.
Terbitnya Chabar Perniagaan juga berhubungan dengan kesadaran nasionalisme Tionghoa.

Inisiatif untuk menjadikan surat kabar itu setelah harian datang dari pihak pentolan peranakan Tionghoa yang kabarnya (antaranya banyak yang jadi opsi/Tionghoa atau Chineesche Oficieren, yaitu kepala golongan Tinghoa yang ditunjuk oleh Belanda) di Batavia.

Mereka berpikir bahwa perlu adanya jika kaum ini menerbitkan suatu organisasi atau terdapat tempat uraian pikiran akan memimpin bangsanya Perniagaan Kemajuan.

Kesadaran inilah yang menyebabkan berdirinya NV Hoa Siang In Kiok (artinya, percetakan pedagang Tionghoa) dan Chabar Perniagaan diterbitkan oelh percetakan itu ketika koran tersebut dijadikan harian. Dalam Oktober 1904, FDJ pengamanan, seorang bumiputera dari Manado, menjabat pemimpin redaksi dan Lie Kim Hok sebagai pembantunya.

Dalam tahun 1905 Chabar Perniagaan menjadi Perniagaan, pengamanan masih menjadi pemimpin redaksi dan Yoe Sin Gie, meninggal Gouw Peng Liang.
Tidak lama kemudian Gouw Peng Liang mengambil pucuk pimpinan dan Lauw Giok Lan menjadi pembantunya.

Karena Perniagaan disokong dan dibiayai oleh opsir Tinghoa yang tidak senang kepada gerakan revolusioner yang dipimpin oleh Dr. Sun Yat Sen di Tiongkok yang yang mendukung gerakan Republik Tiongkok.

Dalam tahun 1910, satu kelompok peranakan Tionghoa, antara lain Lauw Giok Lan dan Yoe Sin Gie, meninggalkan Perniagaan sebab tidak setuju dengan sikap dan pendirian pemimpin Perniagaan mereka mendirikan sebuah surat kabar baru, ialah Sin Po.

Peranan Perniagaan dalam tahun sebelum perang dunia pertama penting sekali.
Sesudah perang dunia pertama, koran tersebut tetap memainkan peranan yang tidak boleh diabaikan.

Dalam tahun 1971, Perniagaan menyokong parisipasi peranakan Tionghoa dalam Volksraad dan setuju dengan diadakannya pertahanan Hindia Belanda (Indie Weebaar) dimana peranakan Tionghoa sebagai kaula Belanda (Nederlands Onderdanen) harus ikut serta dalam milisi.

Sudah barang tentu koran itu bentrok dengan koran peranakan Tionghoa yang berhaluan nasionalisme Tionghoa yang tidak setuju dengan campur tangan peranakan dalam politik Hindia dan milisi.
Polemik yang sengit mengenai isu-isu tersebut terjadi antara dua surat kabar peranakan Tionghoa yang tersebut yaitu Perniagaan dan Sin Po.

Perniagaan di wakili oleh Razoux Kuhr dan Gouw Peng Liang, sedangkan Sin Po diwakili oleh Hauw Tek Kong, Kwee Hing Tjiat dan Tjoe Bou San.

Dalam tahun 1918, ketika pemerintah Hindia Belanda berniat menghapus “Officeren System”, Perniagaan mengadakan kampanye untuk mempertahankan opsir Tionghoa dan bentrok kembali dengan koran peranakan yang berhaluan naionalisme Tionghoa yang setuju dengan penghapusan sistem tersebut. Bentrokan itu terjadi lagi dalam tahun 1927 – 1928 ketika sebuah organisasi politik peranakan Tionghoa dibentuk.

Dalam tahun 1927, sekelompok kaum intelek Tinghoa yang berpendidikan Belanda mengambil inisiatif untuk mengadakan sebuah Kongres Tionghoa di Semarang.

Mereka mengambil kesimpulan bahwa peranakan Tionghoa sebagai kaula Belanda harus campur dalam politik Hindia untuk menjaga kepentingan golongan mereka.
Sesudah kongres itu sebuah organisasi politik yang bernama Chung Hwa Hui in Nederlandseh Indie (disingkat menjadi CHH) telah lahir.

Koran peranakan Tionghoa terpecah menjadi dua kelompok yang satu setuju dengan CHH dan yang satu lagi menentang CHH.
Perniagaan menyokong CHH sedangkan Sin Po menentangnya.
Gouw Soen Seng, anak Gouw Peng Liang, yang waktu itu memimpin Perniagaan sangat aktif dalam persiapan pembentukan CHH sehingga sementara orang berpendapat bahwa Perniagaan adalah organ dari CHH.

Tidak dapat disangkal bahwa Perniagaan dekat dengan CHH dalam pandangan politiknya, tetapi surat kabar tersebut tidak pernah menjadi organ resmi dari perkumpulan itu.
Dalam bukan Juli 1930 Perniagaan diubah menjadi Siang Po (artinya, koran Perniagaan menurut logat Hokkian) sesuai dengan nama percetakannya, yaitu NV Siang Po.

Pemilik Siang Po pada waktu itu ialah Phoa Liong Gie, seorang sarjana hukum dan juga pentolan CHH.
Orientasi Siang Po lebih dekat lagi dengan perkumpulan CHH dan seakan-akan membawakan suara perkumpulan tersebut Pemimpin Redaksi Siang Po yang erat hubungannya dengan CHH adalah Kwee Djie Hoo yang belajar di negeri Belanda dan pernah menjadi konsul RI di Hongkong sesudah Indonesia mencapai kemerdekaan.

Hubungan Siang Po dan CHH tidak kekal, dalam tahun 1934, Phoa Lliong Gie/Kwee Djie Hoo bentrok dengan ketua CHH, yaitu Kan Hok Hoei (atau HH. Kan), karena tidak setuju HH. Kan memonopoli pimpinan pusat CHH.
Phoa keluar dari CHH dan Siang Po menjadi musuh dari perkumpulan yang dipimpin oleh HH. Kan.

Dalam tahun 1933 seorang wartawan kawakan yang menentang CHH dan HH. Kan secara gigih, Lliem Koen Hian namanya telah datang ke Batavia dari Surabaya untuk membantu Siang Po. Akan tetapi kerjasama antara Phoa dan Liem tidak lama, Liem keluar dari Siang Po setelah bekerja kurang lebih dua tahun dan Siang Po dipimpin oleh Phoa Liong An, sesudah Phoa Liong Gie sendiri.

Patut dicatat disini bahwa ketika Liem berada di Siang Po, sanoes Pane, Mohammad Yamin dan Amir Sjarifoeddin pernah bekerjasama dengan Liem dan menerbitkan sebuah koran yang bernama Kebangoenan (1936 – 1942) yang langsung dipimpin oleh Sanoesi Pane dan Moh. Yamin. Koran tersebut dicetak di Siang Po dan memuat kawat berita yang bersamaan dengan Siang Po.