Rute Gerilya Panglima Soedirman Monumen Nasional Yang Tak Ternilai

Rute Gerilya Panglima Soedirman Monumen Nasional Yang Tak Ternilai

Yogyakarta, 10 Juli 1974 – Jalanan dalam rute gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman merupakan suatu monumen nasional yang besar yang tidak ternilai harganya, demikian Presiden Soeharto pada upacara peresmmian 1001 Km jalan yang merupakan rute gerilya Panglima Soedirman di Yogyakarta Rabu pagi.

Dikatakan bahwa rute gerilya tersebut mempunyai arti besar karena dengan itu Panglima Soedirman telah membesarkan kobaran api semangat bagi Tentara Nasional Indonesia (TNI) tetapi juga milik seluruh rakyat yang seharusnya menjadi sari teladan bagi pemimpin masa kini dan masa mendatang, kata Presiden.

Kepemimpinan
Menurut Kepala Negara ada 3 ciri menonjol dari Jenderal Soedirman sebagai pemimpin sejati.

1.Keyakinan dan kesetiaannya kepada perjuangan bangsa yaitu mempertahankan kemerdekaan berdasarkan UUD 45 dan Pancasila.

2.Karena keyakinan dan kesetiannya itu menyebabkan ia selalu berada di tengah-tengah rakyat yang sedang berjuang bersama-sama prajurit yang dipimpinnya.

3.Karena yakin akan kebenaran perjuangannya maka beliau tabah dan tidak mengenal menyerah dalam meneruskan perjuangan yang diyakininya itu.

Dalam waktu amantanya Presiden mengatakan bahwa tepat seperempat abad yang lalu yakni 10 Juli 1949, Panglima Besar Soedirman memasuki kembali Yogyakarta.

Keputusan besar
Dikatakan, hampir 7 bulan sebelumnya putera Indonesia yang besar itu telah mengambil keputusan besar malahan keputusan yang sangat besar. Suatu keputusan yang menggambarkan dengan jelas dan bulat kepribadian yang tidak kenal menyerah.

Berkata Presiden, keputusan besar yang bersangkutan diambil di tempat ini yaitu gedung negara yang waktu itu menjadi kediaman resmi Presiden RI. Dari tempat inilah Panglima Besar Soedirman memilih melanjutkan perjuangan melawan musuh dari pada menyerah di tangan lawan.

Dengan pengawalan yang jumlahnya kecil, mulailah Panglima Soedirman memimpin perjuangan yang besar bergerak melingkar dari Yogya ke Jawa Timur untuk akhirnya menetap di Dukuh Sobo di pegunungan Kabupaten Pacitan.

Suatu perjalanan yang panjang dan berat yang bagian terbesar ditempuh dengan berjalan kaki sepanjang 1000 Km, menyusuri jalan kecil setapak demi setapak melewati kota kecil yang tidak terkenal sebelumnya.

Keluar masuk desa terpencil menembus hutan, menuruni lembah, mendaki punggung gunung, disengat terik matahari dan seringkali diserang hujan lebat. Bukan dalam suasana damai dan bukan perjalanan yang nyaman, melainkan dalam kejaran musuh dan melawan alam.

Bukan dalam keadaan sehat, sehat-bugar melainkan dalam keadaan sakit parah, demikian Presiden menuturkan kembali kisah perjuangan almarhum Panglima Soedirman.

Upacara
Setelah menyampaikan amanatnya yang sangat menggugah perasaan itu. Presiden meresmikan jalan rute gerilya Panglima Besar Soedirman dengan menyerahkan tandu duplikat yang dipakai Panglima Besar Soedirman kepada regu Taruna AKABRI Darat.

Upacara dilanjutkan dengan mengusung tandu menyusuri dengan diikuti oleh pasukan.
Diantara yang hadir ialah Menhankam/Pangab Jenderal Panggabean, Kapolri Letjen Widodo Budhidarmo.
Pada jam 09:30 Presiden dan rombongan tiba di Gedung Agung Yogyakarta. Upacara diikuti oleh satu regu pembawa tandu, dua kompi taruna AKABRI Darat, satu kompi non ABRI, satu regu korps musik dari POM Korem 072 Pamungkas dan satu regu drumband AKABRI.

Laporan diberikan oleh Brigjen Drs. Nugroho Notosanto, Kepala Pusat Sejarah Hankam mengenai hasil penelitian rute gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman.
Menurut Brigjen Nugroho, rute dalam peta panjangnya 901 Km namun 1001 Km, demikian koresponden “SH” Kooswadi melaporkan dari Yogya Rabu siang. (Sinar Harapan)