Presiden Wanita Pertama

Presiden Wanita Pertama

Sinar Harapan, 5 Juli 1974 – Ny. Isabel Peron telah menyingsingkan lengan bajunya beberapa waktu berselang, berpraktek sebagai Presiden dan ia mulai membangun reputasinya sebagai seorang negarawati.

Namun banyak orang Argentina masih bingung untuk membayangkan wanita berambut pirang itu sebagai pimpinan eksekutifnya.

Ia disumpah sebagai Pejabat Presiden pada hari Sabtu untuk mengisi kekosongan tempat suaminya yang berusia 78 tahun itu sementara ia masih memulihkan kesehatannya dari penyakit gawatnya.

Maria Estela Martinez menjadi “Isabel” sejak Juan D Peron bertemu dengan dia di Panama dimana ia sedang menari dalam kabaret dan Peron tinggal di pengasingan, wanita itu kemudian tinggal bersama dia, pertama sebagai sekretaris dan kemudian sebagai isteri.

Dewasa ini dalam usia 43 tahun ia mempelajari politik dengan giat.
Belum lama berselang ia telah menyerukan dengan berapi-api demi pembekuan upah dan harga pemerintah. Ini adalah yang pertama kalinya ia mengeluarkan suara sebagai mendiang isteri kedua Peron, sejak orang mengatakan Isabel berusaha menandingi Eva Peron.

Ia melanjutkan hal itu dengan mengadakan perlawatan dua minggu ke Eropa dengan antara lain turut menyampaikan pidato utamanya di depan Organisasi Buruh Internasional (ILO) di Jenewa.

Ia dianugerahi bintang jasa oleh Jenderal Fransisco Franco di Spanyol dan ia mengadakan kunjungan kepada Paus Paul VI.
Ny. Peron pernah mendefinisikan perannya dengan Peron sebagai berikut : “Saya adalah temannya, koleganya, penasehatnya, isteri, dan kadang-kadang saudara dan ibunya”.

Ketika Peron mengangkat sebagai calon Wakil Presiden pada tahun lalu, timbullah suatu keraguan dan tantangan yang luas. Banyak yang masih ingat bahwa pihak militer menolak Eva memerintah bersama Peron dalam tahun 1951.

isabel menerima pengangkatan resmi itu dengan cucuran air mata sambil menjanjikan dengan suara yang parau akan bekerja sekuat mungkin. Ia kemudian mulai mempelajari hal yang sulit dan banyak orang mulai menghormati kemampuannya dalam tugas.

Ketika Peron mengadakan perlawatan singkat ke tetangga negaranya Uruguay dan Paraguay, Ny. Peron telah disumpah sebagai Pejabat Presiden. Ia jarang melakukan tugasnya untuk memimpin rapat Senat tetapi ia sering menyelenggarakan pertemuan kabinet.

Suatu ketika ia ditanya apa yang dilakukannya seandainya Peron meninggal. Ia menjawab : “Saya akan melakukan apapun yang diperlukan oleh negara dan keadaan terhadap saya”.
Mengenai latar belakang Ny. Peron agaknya masih kabur dan pemerintah belum pernah mengeluarkan suatu biografi resmi. Ia belum pernah menceritakan tentang keluarganya sejak ia berjumpa dengan Peron.

Ia dilahirkan di Provinsi Pegunungan La Rioja yang miskin, soerang anak dari Manager Bank yang meninggal tidak lama kemudian. Ibunya membawanya ke Buenos Aires bersama empat orang anak lainnya dan berusaha sekuat tenaga untuk memasukkan anaknya itu ke sekolah tari.

Dalam usia 24 tahun ia menjadi penyanyi koor di teater Buenos Aires. Tidak lama setelah Peron diasingkan dalam tahun 1955, ia mengadakan perlawatan keliling Amerika Latin dengan rombongan penari dan mengadakan pertunjukkan di night club Panama. Seorang sahabat memperkenalkannya kepada Peron. (AP/KNI)