Pemrakarsa Proklamasi Akan Mengadakan Pertemuan

Pemrakarsa Proklamasi Akan Mengadakan Pertemuan

Untuk Menilai Keadaan Setelah 25 Tahun Proklamasi
Beri Saran Kepada Pemerintah Demi Suksesnya Pembangunan

Jakarta, 11 Juli 1970 – Tokoh pergerakan, pemrakarsa proklamasi kemerdekaan Indonesia menjelang peringatan Hari Proklamsi tanggal 17 Agustus 1970 nanti akan mengadakan pertemuan di Jakarta untuk bertukar pikiran dan mengemukakan pengalamannya masing-masing pada detik menjelang proklamasi, sebagai mencari persamaan penilaian setelah 25 tahun negara RI diproklamasikan. Saran-saran akan dikemukakan kepada pemerintah demi suksesnya pembangunan.

Ketua pelaksana Pertemuan, Sofjan S. Tanjung, dalam konferensi pers-nya Jum’at siang menyatakan bahwa perlu kita para pemrakarsa proklamasi ini bertemu muka, karena sudah bertahun-tahun berpisah disebabkan tugasnya msaing-masing.

Dikatakan bahwa sangat perlu adanya penjernihan mengenai peristiwa yang terjadi sekitar proklamasi itu. Sekarang juga banyak tulisan/buku mengenai peristiwa tersebut tetapi masing-masing dikemukakan menurut kepentingan golongannya sendiri atau kurang obyektif.

Pertemuan tersebut akan diselenggarakan pada salah satu tempat yang bersejarah di Jakarta ini. Sampai sekarang telah tercatat 200 orang pejuang proklamasi berserta alamatnya dan diantaranya terdapat 20 orang wanita.

Disebutkan antara lain Moh. Hattta, Sukarni, Subadio Sastrosatomo, Adam Malik, BM. Diah, Harsono Tjokroaminoto, Wilopo, Maruto Nitimihardjo, Sajuti Melik, Sudiro, Ny. Trimurti, Subardjo, Moh. Roem, Eri Sudewo, Kemal Idris, Sumarman dan lain-lainnya. Sedang diantara wanitanya antara lain Ny. Sajoto, Ny. Maria Ulfah, Ny. Rakijah, Ny. Masdami, Ny. Witje Djajadiningrat, Ny. Erna Djajadiningrat dan lain-lainnya.

Kelompok
Diterangkan lebih lanjut bahwa berhubung di jaman Jepang dulu dilarang adanya organisasi poitik dan dilarang mengadakan pertemuan, maka terdapatlah kelompok perjuangan, yaitu :

1.Kelompok Prapatan 10, asrama mahasiswa Kedokteran
2.Kelompok Menteng 31, pemuda revolusioner
3.Kelompok Cikini 71, asrama mahasiswa
4.Kelompok Syahrir kerja dibawah tanah
5.Kelompok Pelopor, terdiri pemuda agresif
6.Kelompok Senen dan Kramat, pemuda-pemuda
7.Kelompok Sekolah Tinggi Islam
8.Kelompok pada PETA
9.Kelompok Kaigun, orang pergerakan yang bekerja sebagai anggota AL Jepang

Sofjan S. Tanjung menerangkan bahwa sewaktu proklamasi itu kita bersatu, tetapi setelah pemerintah pusat pindah di Jogya masing-masing bergerak menurut garis golongannya sendiri karena terbentuk partai politik.

Pihak panitia juga akan memberikan pedoman, apa yang akan dibicarakan dalam pertemuan itu, yaitu bahwa kalau waktu itu kita sama-sama berjuang untuk proklamasi kemerdekaan, maka sekarang juga harus sama-sama melaksanakan Pancasila, serta mensukseskan pembangunan dan yang penting lagi menjernihkan sejarah. (SH)