Ortiz Sanz: Hasil Sidang DMP Merauke Penting Untuk Hari Depannya

Ortiz Sanz: Hasil Sidang DMP Merauke Penting Untuk Hari Depannya

Indonesia Raya Berkumandang Setelah Sidang DMP

Jakarta, 15 Juli 1969 – Menyambung berita tentang keputusan hari Senin dari Dewan Musyawarah Pepera di Merauke secara aklamasi untuk tetap dalam Republik Indonesia dan tidak akan memisahkan diri dari RI, wartawan “Antara” memberitakan selanjutnya, bahwa disamping Mendagri Amir Machmud berbicara pula dalam sidang DMP tersebut, pembantu Menlu untuk Irian Barat Sudjarwo Tjondronegoro dan wakil Sekjen PBB, Dr. Ortiz sanz.

Sudjarwo tjondronegoro dalam pidatonya antara lain menyatakan agar para anggota Dewan yang ragu-ragu atau kurang mengerti akan arti Pepera mengadakan musyawarah satu dengan yang lainnya sebagai saudara dengan saudara dalam suatu keluarga besar. Kepentingan saudara adalah satu seperti kepentingan suatu keluarga besar.

Dalam pada itu wakil Sekjen PBB Dr.Ortiz sanz yang juga berbicara sebelum sidang mengambil keputusan mengemukakan, bahwa apa yang diputuskan oleh sidang DMP itu adalah maha penting bagi hari depan Irian Barat dan keturunan seluruh rakyat yang bertempat tinggal dikabupaten Merauke.

Ia mengatakan bahwa para anggota Dewan tidak hanya berbicara untuk mereka sendiri, tetapi atas nama semua rakyat yang diwakilinya. Karena itu janganlah ragu untuk mengemukakan pendapat. Demikian Dr. Ortiz Sanz.

Rakyat Merauke Berpesta Pora
Rakyat kota Merauke, yang terletak dijazirah tenggara Irian Barat, hari Senin malam telah lampiaskan segala rasa kegembiraannya dengan diambilnya keputusan oleh daerah tersebut untuk tetap bergabung dalam kesatuan Indonesia dari Sabang ke merauke, dalam suatu pawai rakyat keliling kota.

Keputusan untuk tetap bergabung telah diambil pada pagi harinya oleh 175 orang wakil rakyat kabupaten yang sebagai anggota Dewan Musyawarah Pepera daerah Merauke telah menyuarakan bahwa rakyat daerah Indonesia yang merupakan ujung tertimur dari slogan Kesatuan Indonesia, tetap ingin merupakan bagian dari pada Republik Kesatuan.

Dengan diiringi lagu perjuangan oleh dua barisan musik, pemuda, rakyat bersorak-sorai mengelilingi kota kecil itu dimana Pepera yang pertama dari 8 kabupaten Provinsi Indonesia yang tertimur itu diselenggarakan dan dimenangkan.

Sejak pagi harinya seluruh kota Merauke telah dihiasi dengan bendera dan perhiasan lainnya. Bertempat disebuah lapangan ditengah-tengah kota Merauke pada malam harinya juga diadakan pesta makan bersama oleh rakyat dimana diberbagai tempat diadakan pembakaran daging untuk dimakan bersama. Dalam pesta rakyat itu telah dibawakan slogan yang terutama meminta perhatian akan pelaksanaan pembangunan untuk Irian Barat setelah masa Pepera.

Keputusan untuk tetap dalam Negara Kesatuan RI diawali dengan penggunaan kesempatan berbicara oleh 20 orang anggota DMP yang semua pada pokoknya ingin supaya Irian Barat tetap dalam kesatuan Sabang-Merauke.

Diantara mereka ada yang mengemukakan kemajuan yang tampak diberbagai bidang di Irian Barat. Setelah daerah itu diserahkan kepada Indonesia dibanding dengan masa ketika masih berada dibawah kekuasaan Belanda. Ketika keputusan untuk tetap bergabung itu dinyatakan menyebabkan ruangan dimana sidang tersebut diselenggarakan dalam suatu suasana gembira dan tercampur haru.

Diantara banyak anggota tampak ada yang mencucurkan air mata tidak dapat tahan harunya. Dengan spontan kemudian berkumandang lagu Indonesia Raya yang disusul dengan lagu-lagu perjuangan lainnya.

Sambutan ketua DPR-GR
Ketua DPR-GR H.A. Sjaichu hari Selasa menyatakan menyambut gembira dengan rasa syukur keputusan sidang Dewan Musyawarah Pepera Kabupaten merauke hari Senin yang secara aklamasi telah memilih untuk tetap berada dalam wilayah Negara Rupublik Indonesia. (SH)