Megawati : Suara Anak-Anak Mengiang Dan Saya Minta Diantar Kembali Ke Jakarta

Megawati : Suara Anak-Anak Mengiang Dan Saya Minta Diantar Kembali Ke Jakarta

“Kalau Keghaiban Memungkinkan Rasanya Ingin Meralat Kejadian Tanggal 27 Juni itu”

Jakarta, 14 Juli 1972 – Dalam Wawancara khusus dengan “SH” hari Kamis, Megawati Soekarno Putri mengatakan bahwa cincin yang ia serahkan kepada Gamal Hassan dalah cincin polos biasa dan bukan yang dari pemberian almarhum suaminya.

“Cincin dari pacul yang ini”, katanya sambil menunjukkan jari manis tangan kanannya (“Pacul” ialah panggilan mesra Megawati kepada suaminya). “Ini milik yang berharga bagi saya. Bagaimana saya bisa memberikan kepada orang lain ?”, sambung Megawati.

Soal restu
Megawati mengatakan tidak benar bahwa ia meminta restu dari almarhum ayahandanya dalam persoalan dengan Gamal Hassan. Diakui ia memang memberikan segempil tanah dari dari makam bekas Presiden Soekarno “tetapi saya juga memberikan kepada siapapun yang meminta” katanya menambahkan.

Ia membantah bahwa waktu singgah di Batu Tulis, Bogor, sampai tiga kali memutari rumah tersebut dalam rangka memohon restu almarhum ayahandanya.

“Begini yang sebetulnya”, kata Megawati. “Sudah sekitar satu tahunan saya tidak menjenguk rumah itu. Nah, ketika di Bogor saya ingin sekali melihat, sebab punya kenangan bagi saya maupun keluarga semuanya. Tetapi kami hanya berhenti saja di depan gapura, tidak masuk. Itupun sebentar, sebab….”.

Kalimat tersebut tidak diteruskan Megawati dan ia hanya tersipu-sipu. Oleh Guntur dan istrinya Henny G diterangkan bahwa Megawati mudah terharu apabila menghadapi sesuatu kenangan yang menyangkut almarhum ayahandanya.

“Mega ini anak yang paling dekat sama Bapak. Jadi saya kira itulah sebabnya maka ketika mereka berhenti di depan gapura tersebut juga hanya sebentar”, sambung Guntur.

Seperti mimpi
Ketika diminta “SH” menceritakan kembali peristiwa tanggal 27 Juni mulai dari Sarinah sampai ke Sukabumi dan pulang lagi ke Jakarta, Megawati mula-mula merasa berat. Namun sedikit demi sedikit akhirnya lengkap dikemukakan.

Menurut Mega, perjalanan hari itu seperti mimpi saja. Ia tidak menegaskan apakah itu mimpi yang indah ataukah mimpi buruk tetapi dikatakan apabila ada keghaiban yang memungkinkan, rasanya ia mau meralat agar peristiwa dihari itu seluruhnya tak usah terjadi.

Sungguhpun mula-mula Mega bertanya “apakah tidak terlalu premateur ?” untuk menjawab “SH” mengenai ucapan Ny. Henny Guntur yang mengutip pendiriannya bahwa Mega akan meminta cerai juga andaikata vonis Pengadilan Agama Senin mensyahkan pernikahan 27 Juni tersebut, Megawati kemudian menyatakan bahwa ia betul ingin putus dari Gamal Hassan.

“Apakah saudari sadar akan ucapan ini ?”, tanya “SH”
“Ya, sadar. Sejak saya tiba kembali dilingkungan kelaurga saya malam itu, saya sudah mulai sadar kembali”.
Guntur menitipkan bantahannya lewat “SH” bahwa ketika sidang pengadilan yang bulan lalu tidak benar Megawati di “kawal” 10 orang. “boleh tanya dia sendiri, saya kira keterangan Adis (nama panggilan Mega) yang paling otentik”.

Mendengar hal ini Megawati membenarkan kakaknya. Ia juga membantah bahwa usaha memutuskan hubungannya dengan Hassan seakan-akan sebab adanya tekanan keluarganya.
“itu keputusan saya sendiri, setelah saya sadar kembali”, sambung Mega.

Bahasa Arab
Megawati yang selama wawancara banyak tertawa, menguraikan bahwa ketika penghulu sudah dipanggil maka dalam keterangan soal saksi mempelai, soal alamat tinggal palsu di jalan Bayangkara, Sukabumi dll oleh Hassan dikemukakan kepada penghulu dalam bahasa Arab. “saya, ya bengong saja”, kata Mega.

Mengenai foto yang ia serahkan ke penghulu mereka ditanya “SH” apakah memang sejak dari rumah sudah disiapkan,, Mega menjawab bahwa menjadi kebiasaannya kapanpun juga kalau bepergian menyediakan lengkap keperluannya.
“Perjalanan tanggal 27 Juni tersebut berlangsung sampai malam hari, apakah selama itu tidak ada niat saudari berteriak atau melawan ?”.

“Ya, bagaimana ya”, sahut Megawati. “saya seperti dalam mimpi itulah. Oya, benar bahwa kami kemudian sekamar di rumah dosen IAIN sesudah dinikahkan penghulu tetapi selama 1,5 jam itu saya langsung tidur sebab merasa cape sekali lain tidak.

Nah malamnya saya bangun dan minta segera pulang sebab mengiang-ngiang saja suara anak-anak saya dan saya pun lalu diantarkan Hassan ke Jakarta. Di drop di jalan Senopati dan dari sana saya lalu mbecak ke jalan Sriwijaya tapi dia mengawal dari belakang. Saat itu kira-kira saja sekitar jam sembilan lebih”.

Tentang Hamka
Ditanya tentang perasaannya terhadap Hassan, Megawati mengakui bahwa ada perbedaan antara apa yang dirasakannya dengan perasaannya terhadap suaminya, Letnan Udara Satu Surindro Supjarso.

“Kalau kepada pacul saya memang cinta, malah itu sekali ketemu terus jadi, begitu saja”, kata Megawati yang menambahkan bahwa “Bagi saya pacul tak akan bisa saya lupakan sampai kapanpun juga”.

Terhadap dimuatnya pendapat Prof. Hamka di koran-koran ibukota, Megawati meminta “SH” buat mencatat tanggapannya. Pada hemat Mega, Buya tidak tepat tanggapannya. Kalau mau obyektif harus mendengar dari kedua belah pihak jangan satu pihak saja.

Dokumen hilang
Sementara itu “Merdeka” memberitakan bahwa walihakim pernikahan Megawati Soekarno Putri dengan Hassan kehilangan dokumen penting yakni asli dari KSAU tertanggal 22 Februari 1971, perihal kecelakaan pesawat Skyvan di Irian Barat tanggal 22 januari 1971.

Menurut Kapten Udara Sutardjo Muwaladi, Kepala Bagian Publikasi MBAU pihak AURI sampai sekarangpun tak pernah mengeluarkan Surat Keputusan apapun yang menyatakan bahwa Letnan Penerbang Udara Surindro suami Megawati Soekarno Putri telah gugur.

Dalam keterangan lain kepada “SH” Jum’at pagi Megawati mengakui bahwa pemberitaan di koran atas dirinya banyak yang benar-benar terjadi. “Tetapi semua orang lupa meninjau kondisi psikologis saya waktu itu”, katanya. (SH)