Media Polandia Ramai Beritakan Bendera Mereka dipakai Zohri

Media Polandia Ramai Beritakan Bendera Mereka dipakai Zohri

TIBA - Juara dunia Atletik U-20, di nomor 100 Meter Putra, Lalu Muhammad Zohri, tiba di tanah air dengan linangan air mata dan berbicara langsung dengan media di bandara Soekarno Hatta, hingga Rabu (18/7) dini hari. (Dok/SHNet)

SHNet, JAKARTA – Simpang siur soal bendera yang dipakai Lalu Muhammad Zohri untuk merayakan kemenangannya di Tampere, Finlandia, 11 Juli lalu, terjawab sudah.

Zohri, atlet Indonesia yang jadi juara dunia kompetisi lari U20 2018 IAAF (International Association of Athletics Federations), kategori 100 meter putra, di Tampere, Finlandia, dalam video kemenangannya yang ramai beredar memang benar memakai bendera Polandia yang ia balik.

 Zohri mendapatkan bendera Polandia itu dari Marcin Góra, anggota tim Polandia, yang juga pelatih Polski Związek Lekkiej Atletyki (Asosiasi Atletik Polandia). Kepada Tirto, Gora membenarkan hal itu. “The person who gave flag to Zohri was me, technical leader during this championships,” kata Gora.

Ia juga mengatakan memberikan bendera Polandia kepada Zohri lantaran melihat kedua pelari AS sudah berlari merayakan kemenangan mereka dengan bendera. Sementara Zohri hanya celingak celinguk mencari orang yang membawa bendera. Ia tahu persis bendera Polandia dan Indonesia hanya terbalik putih merah sehingga ia tahu Zohri bisa memakainya dengan terbalik.

Sontak saja pembahasan soal Zohri memakai bendera terbalik ini menjadi viral. Tapi, buru-buru sejumlah pihak mulai membantahnya. Pernyataan dari Kedubes Finlandia yang menguatkan kalau Zohri benar memakai bendera Indonesia. Bahkan viral soal ia memakai bendera Polandia malah disebut hoax. Kenyataannya, itulah yang benar.

Sehari setelah selebrasi Zohri itu, media Polandia pun ramai membicarakan soal bendera mereka yang dipakai sang juara secara terbalik. Bahkan salah satu judul media di Polandia menulis artikel dengan judul begini: “Mistrzostwa świata juniorów w lekkoatletyce: sensacyjny mistrz paradował z polską flagą.” (“Kejuaraan Dunia Atletik Junior: Juara Sensasional diarak dengan bendera Polandia.”)

Tapi, sebaliknya, media Polandia lebih bijak melihat ini ketimbang viral ramai di negeri sendiri yang kesannya mencari kesalahan pihak tertentu. Dalam artikel itu ditulis kalau orang-orang Indonesia tak menyangka kalau Zohri bisa menang, sehingga Polandia meminjamkan bendera untuk Zohri melakukan selebrasi kehormatan (berlari keliling lapangan).

“Sang juara cukup membaliknya, karena bendera Indonesia merah dan putih, sementara Polandia putih dan merah,” tulis artikel di salah satu media nasional Polandia itu.

Soal bendera Polandia ini pun dibenarkan pihak IAAF (Federasi Atletik Internasional) yang menggelar Kejuaraan Dunia Atletik U-20 itu. Juru Bicara IAAF, Nicole Jeffrey menyatakan kalau benar bendera yang dipakai Zohri adalah bendera Polandia.

“Saya pastikan kalau bendera yang dipakai Zohri adalah bendera Polandia karena itu diberikan  langsung oleh salah satu ofisial tim Polandia yang kebetulan berada di sisi lapangan. Bendera kedua negara sama, hanya dalam bentuk terbalik. Begitulah kondisi yang sesungguhnya,” kata Jeffrey.

Tapi, lihat bijaknya seorang Zohri. Ketika pelari asal NTB ini tiba di Bandara Soekarno Hatta pada Selasa (17/7) malam dan bertemu media hingga Rabu (18/7) dini hari dengan tetesan air mata, Zohri tak mau bicara banyak soal bendera. Ketika salah satu wartawan bertanya soal bendera, Zohri hanya menjawab:

“Kalau bertanya masalah bendera, ya saya sudahin sajalah. Soalnya saya cuma bisa [berucap] alhamdulillah. Bisa membuat yang terbaik buat Indonesia.”

Salut Zohri. Sekarang bukan saatnya lagi bicara soal bendera. Karena yang terpenting Zohri sudah mencatatkan sejarah dengan tinta emas di ajang dunia. Sampai-sampai, MC saat lomba pun berterian histeris kalau ‘Indonesia mencetak sejarah’. Artinya, terpenting adalah bagaimana membahas soal masa depan seorang juara dunia muda ini. Bagaimana selanjutnya ia digembleng untuk bisa meraih gelar lebih tinggi lagi di kancah internasional bahkan sampai ke Olimpiade.   (Nonnie Rering)