Kemenko Maritim Gandeng Unair Kembangkan Industri Cangkang Kapsul dari Rumput Laut

Kemenko Maritim Gandeng Unair Kembangkan Industri Cangkang Kapsul dari Rumput Laut

Indonesia selama ini mengimpor cangkang kapsul berbahan baku darigelatin (hewan) yang masih dipertanyakan sertifikasi halalnya. (Ist)

SHNet, Surabaya- Indonesia memiliki peluang yang sangat besar untuk memaksimalkan pengembangan produk kelautannya terutama dari bahan dasar rumput laut. Hal ini diungkapkan oleh Deputi Sumber Daya Alam dan Jasa Agung Kuswandono usai membuka acara Workshop Pengembangan Industri Cangkang Kapsul Berbahan Dasar Rumput Laut di Universitas Airlangga, Surabaya, Kamis (19/7).

Workshop ini dilaksanakan salahsatunya dalam rangka tindak lanjut dari rakor sebelumnya serta merupakan amanah Perpres 3/2017 tentang Renaksi Percepatan Pembangunan Industri Perikanan Nasional.

“Bahan baku rumput laut Indonesia ini sangat melimpah, dan kita merupakan produsen terbesar di dunia tetapi selama ini kita hanya mengekspor rumput laut kering saja, jadi nilai tambahnya kurang,” ujar Agung.

Dia menjelaskan, pengembangan industri cangkang kapsul berbahan dasar rumput laut di Indonesia sendiri secara ekonomi sudah masuk ke ranah kemitraan antara perguruan tinggi dan pelaku usaha yang menjamin bahan baku dan pasar, disisi lain Universitas Airlangga juga sudah memiliki rintisan teaching industry berupa hilirisasi hasil penelitian produk.

“Sehingga pemerintah tinggal mengkoordinasikan dan mendorong tumbuhnya industri yang lebih besar untuk menggantikan bahan baku cangkang kapsul yang selama ini masih kita impor,” lanjut Agung.

Sementara itu, Wakil Rektor Universitas Airlangga, Junaidi Khotib mengatakan, dalam produksi dan pemasaran cangkang kapsul berbahan baku rumput laut, Unair sudah bermitra dengan badan industri seperti PT Kapsulindo dan PT Kappa Carageenan dalam menjamin supply bahan baku dan pasar produk di dalam maupun luar negeri.

“Sementara itu untuk Teaching Industry yang dibangun dan akan mampu untuk produksi pada tri wulan pertama tahun 2019,” ungkap Junaidi. Pentingnya peran serta dukungan Kemenko Maritim dalam mengkoordinasikan K/L juga diakui oleh Junaidi untuk membantu akselerasi (percepatan) Teaching Industry tersebut kedepan.

Agung mengatakan, selama ini Undonesia mengimpor cangkang kapsul yang bahan bakunya berasal dari gelatin (hewan). Cangkang kapsul dari gelatin tersebut masih dipertanyakan sertifikasi halalnya, sehingga perlu sertifikasi lebih lanjut. Sementara, cangkang kapsul yeng terbuat dari rumput laut sudah jelas kehalalannya.

“Kedepan, untuk produk-produk kelautan yang lain kita akan mengkoordinasikan perkembangannya dengan universitas yang lain tergantung dari keinginan masing-masing universitas maupun pengusaha,” tutup deputi Agung. (Stevani Elisabeth)