Kemenangan Zohri, Pelari Tercepat Dunia, Buah Disiplin Berlatih

Kemenangan Zohri, Pelari Tercepat Dunia, Buah Disiplin Berlatih

Mohammad Zohri saat meraih rekor pelari tercepat dunia di Finlandia (Ist)

 

YOGYAKARTA- Berapa kecepatan informasi menyebar lewat media massa hari ini? Berapa juga kecepatan penyebaran informasi di media social? Mana yang lebih cepat dan terpercaya? Media massa apa medsos? Rentetan pertanyaan sepele ini langsung menyergap pikiran tatkala menyimak linimasa di media sosial terkait keberhasilan Lalu Mohammad Zohri, yang menjadi pemenang di lintasan lari 100 meter.

Di moment pertandingan olahraga yang kini laku jadi tayangan televisi, kanal sport, kanal olahraga, publik butuh tontonan yang dramatis. Even lari untuk jarak 100 meter, memenuhi segala kebutuhan serba cepat industri media.

Di luar nasib sang pelari, yang membuat publik berempati, Zohri adalah anak yatim piatu yang ditinggal mati ibundanya Zaerah kala dirinya masih bersekolah SD. Ayahnya meninggal beberapa tahun berikutnya. Zohri adalah 4 anak yatim piatu di desa-nya. Zohri kecil harus hadapi kenyataan ini saat dirinya bersiap berlomba olahraga, kala itu.

Tentu harus dicatat juga bahwa prestasi menjadi tercepat di level dunia bukanlah pemberian tapi hasil dari proses disiplin dan latihan panjang. Tidak serta merta bisa menjadi juara.

Begitu kabar kemenangan menyebar pekan ini, linimasa riuh dan gaduh oleh beragam pernyataan. Rata-rata memang berempati dengan beberapa pendapat di linimasa medsos menuding minimnya perhatian pemerintah untuk urusan penghargaan bagi mereka yang beprestasi.

Wahyu Dwi Santoso, pengamat olahraga di Yogyakarta menyatakan prestasi yang ditunjukan oleh Zohri tentu membanggakan bagi semua orang.

Kalau sorot mata dunia tertuju pada kemenangan pemuda asal pinggir pantai dusun Karang Pangsong, Kecamatan Pamenang, Kabupaten Lombok Utara NTB, lalu banyak orang tiba-tiba terkagum dan berempati atas kisah hidup sang pelari itu disebutkan lumrah saja.

“Atlet lari di Indonesia memang lahir dari daerah pinggiran. Mereka tekun dan mau disiplin untuk meraih juara, di Yogyakarta atlet lari asal Gunungkidul cukup banyak, daerahnya berbukit dan terjal, alam mendidik atlet ini secara alamiah,” kata Wahyu Dwi Santoso.

Begitu pula dengan kondisi alam di Nusa Tenggara Barat, yang disebutkan sangat cocok dan mendukung secara alamiah lahirnya atlet yang berprestasi. Alam dan bentang geografis wilayah Nusa Tenggara Barat, dengan sulit air membuat anak-anak sejak kecil harus mau berjalan kaki yang cukup jauh untuk bisa mencapai sumber air.

“Ada banyak atlet berbakat dari Nusa Tenggara Barat, mereka bisa volley, jadi pelari dan lain-lain belajar di sini, FPOK Universitas Negeri Yogyakarta untuk jadi sarjana olahraga,” kata Wahyu Dwi Santoso.

Wahyu menambahkan ke depan, ia percaya Zohri masih memiliki karir panjang untuk berprestasi dan menjadi juara di banyak lintasan lari berikutnya. Beberapa catatan penting untuk prestasi Zohri adalah melalui olahraga prestasi, ada nilai-nilai kedisiplinan, tertib dan semangat yang bisa jadi teladan bersama.

Seperti orang hidup, ada pengulangan dengan berlatih disiplin, tertib dan tekun hingga jadi juara. Itu butuh nafas panjang. Hanya untuk Zohri, yang yatim piatu dengan kondisi yang ada memang harus mendapatkan perhatian bersama. Penghargaan yang layak untuk sang juara dunia lari.

“Kita sebentar lagi juga akan mendapatkan tontonan dari ASIAN GAMES, yang menjadi tujuan atlet dunia berlaga di tanah air. Zohri harus bisa membuktikan dirinya adalah yang tercepat, sesuai usia produktifnya,” kata Wahyu.

Pengguna media sosial FB, Dian Bune Canaya atau Isdian Putri  misalnya sibuk berkabar soal kondisi rumah sang juara. Ia mengabarkan bahwa Zohri memiliki banyak prestasi sejatinya dan sudah berlari di banyak lintasan lomba di level internasional. Pemecah rekor di Finlandia di lari 100 meter ini rumahnya tidak layak huni dengan tembok bambu yang ditutupi Koran dengan atap bocor. Puluhan medali dari lomba lari local hingga internasional sudah diperolehnya baik di Jepang, Singapura hingga Finlandia.

“Bangga tapi sedih juga, ayo dong bpk Bupati, Gubernur kanak Lombok sudah mengharumkan nama Indonesia jangan diabaikan,” kata Isdian Putri.

Mencetak Atlet Berprestasi

Bukan urusan sederhana dan mudah membuat prestasi atlet hingga level dunia. Indonesia saat ini memiliki beberapa pusat pelatihan olahraga yang tersebar di banyak titik.

Effy Wijono Putro, Humas Persatuan Atletik Seluruh Indonesia DIY mengapresiasi prestasi Lalu Mohammad Zohri di level dunia. Diakui, dalam beberapa waktu terakhir bakat atlet lari dari NTB cukup banyak, utamanya untuk sprinter tidak sedikit di NTB.

“Ada atlet bagus untuk lari jarak pendek dari NTB, bisa jadi karena alam di sana mendukung. Tapi saya percaya latihan dan bakat berpengaruh. Ada beberapa yang menonjol, Indonesia yang nomor satu dari NTB. Kalau lari jarak jauh dari Salatiga, potensinya,” kata Effy

Menemukan atlet berprestasi memang sangat penting, karena untuk mendapatkan power dan kekuatan butuh latihan. Apalagi karakter lari jarak jauh, kecepatan jelas dibutuhkan untuk sprint, ototnya berbeda untuk lari jarak jauh. Sejak dini sudah harus ada pelatihan, ini tidak muncul tiba-tiba, kadang ada yang bagus, dari sepak bola beralih ke lari.

“Mencetak pelari model Zohri,  bisa didapatkan dari hadirnya kompetisi rutin dan pembinaan prestasi olahraga yang terjadwal. Di sini, sebenarnya peran guru olahraga, bisa memandu bakat murid, untuk bisa menjadi juara,” kata Effy Wijono Putro.

Di sekolah ada kesempatan berlomba, harus jeli, kadang ada potensi tapi harus jeli, NTB, Zohri ada banyak lomba khusus untuk lari sprint, ada lomba rutin untuk ini. Diperlukan di daerah sering, kompetisi, lomba mendapatkan dukungan banyak, iklim berprestasi.

“Tanpa pembinaaan, tak mungkin ada yang menemukan bakat, tidak mungkin juga orang miskin yang bisa berlomba ke nasional. Harus ada jenjang dari awal, pembinaan olahraga di NTB baik, daerah ke tingkat nasional, Zohri membuktikan ini pasti,” kata Effy.

Jika melihat latar prestasi Zohri, awalnya dimulai dari kemenangan di tingkat pelajar hingga nasional. Di PB PASI, sudah ada pemandu bakat, menguak dan memilah bakat berprestasi di Kementrian Pendidikan Nasional berperan besar untuk hasilkan atlet berprestasi.

“Simak kembali riwayat prestasi Zohri,  mulai tingkat nasional dari pelajar, belum di tingkat senior, selama ini tingkat pelajar. Semoga nanti Zohri bisa raih kemenangan di lintasan lomba yang lain,” katanya. (Much Fatchurochman)