Indonesia Belum Memiliki Atlas Nasional

Indonesia Belum Memiliki Atlas Nasional

Akan Digarap Oleh BAKOSURTANAL

Jakarta, 12 Juli 1974 – Badan Koordinasi Survey & Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) mulai Pelita II menangani proyek menyusunan atlas nasional yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan sekarang ini.

Sekretaris Bakosurtanal Drs. Sutarto menjelaskan hari Kamis di Jakarta bahwa Indonesia sampai saat ini belum mempunyai atlas nasional yang bisa menggambarkan Indonesia dari berbagai segi secara lengkap.

Atlas nasional ini sangat dibutuhkan tidak saja oleh para perencana pembangunan dan pemutus kebijaksanaan pembangunan tetapi juga oleh dunia pendidikan karena tanpa atlas ini pengetahuan ilmu bumi anak-anak sekolah sangat kurang sekali, demikian dijelaskan lebih lanjut.

Biaya proyek hanya disediakan sebesar Rp. 12,5 juta, sehingga kita baru mampu secara kecil-kecilan mengembangkan dan aktifitasnya pun terbatas, katanya pula.
Dengan demikian menurut Drs. Sutarto proyek ini tidak dapat diselesaikan dalam Pelita II dan kalau mungkin mendapatkan bantuan ia cenderung untuk mendapatkan bantuan dari Belanda.

Baru lebih kurang 15% berpeta topografi (dasar)
Dijelaskan dalam Pelita II Bakosurtanal juga akan menggarap proyek pemetaan dasar nasional Sumatera mengingat daerah itu masih belum dipetakan secara topografis.

Diperkirakan untuk seluruh wilayah Indonesia hingga saat ini baru lebih kurang 15% saja yang sudah dipetakan secara topografis dengan skala 1 : 50.000.
Proyek pemetaan dasar nasional Sumatera ini disamping mendapatkan anggaran biaya dari pemerintah juga memperoleh bantuan dari Australia dan diharapkan sudah bisa dirampungkan dalam Pelita II ini, demikian Drs. Sutarto.

Titik pasti
Menurut Sekretaris Bakosurtanal, Indonesia dewasa ini kurang memiliki titik pasti di darat dan hal ini akan mempersulit pembuatan peta teliti dari wilayah Indonesia sehingga akan mempersulit pelaksanaan proyek pembangunan prasarana, misalnya pembuatan waduk, jalan besar dan jaringan jalan kereta api.

Jaringan geodetis yang ada sekarang adalah peninggalan Belanda hanya untuk daerah Jawa – Bali sebagian Sumatera, Nusa Tenggara dan Sulawesi, sementara selama Peilta I berhasil diselesaikan jaringan geodetis untuk sebagian Sumatera dan Kalimantan Barat.

Tetapi yang jelas untuk beberapa daerah di Indonesia, misalnya Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya masih belum mempunyai jaringan geodetis ini, demikian Des. Sutarto.
Dengan penentuan titik pasti ini Bakosurtanal telah memasukkan penggunaan sangat teliti dalam program Pelita II untuk menentukan lebih kurang 20 titik pasti di darat dalam wilayah Indonesia.

Penggunaan satelit ini akan membantu kecepatan dan ketelitian dalam menentukan titik pasti yang sangat penting artinya bagi dunia riset karena sangat dibutuhkan dalam penyusunan peta teliti bagi suksesnya pembangunan, demikian Sekretaris Bakosurtanal.

Indonesia sejak Juli 1974 ini telah mempergunakan Doppler Satelite Receiver dari Magnavox Comp yang diberi nama “Geoceiver” untuk menentukan posisi geodetis (titik pasti) dengan satelit untuk daerah Sumatera dalam rangka penyusunan sistem geodesi nasional yang bersatu. (SH/Ant)