Harta Kopi Tepal Batu Lenteh-Sumbawa

Harta Kopi Tepal Batu Lenteh-Sumbawa

Ist

SHNet – Koperasi serba usaha (KSU) ini cukup sukses. KSU Puncak Ngengas. Berada di atas bukit, di Desa Tepal, Kecamatan Batu Lenteh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NT).

Ia sukses karena berhasil memadukan kemajuan teknologi dengan sumber daya alam yang mereka miliki. Tanah yang cukup subur dan cocok untuk menanam kopi.  Sepanjang jalan di desa yang bisa dilalui, tak terasa bukit terjal ditutup rimbunan pohon kopi yang hijau. Tidak saja memanjakan mata memandang hijau daun, juga takjub melihat buah kopi yang menggumpal erat satu dengan yang lain.

KSU Puncak Ngengas yakin bahwa kopi adalah harta masyarakat yang bernilai tinggi. Sekarang adalah era ngopi di manapun. Di sini ngopi di dana ngopi. Namun, harta itu tak banyak berarti kalau tak diolah, diberi nilai tambah dengan memanfaatkan teknologi yang tiap hari terus berkembang. Ngopi jadi hambar kalau hanya begitu saja disuguhkan.

Kopi di Kecamatan Batu Lanteh itu harus bersaing, tidak saja dari segi kuantitas, tetapi terutama dalah kualitasnya. Setahun petani desa bisa hasilkan 4.000-5.000 ton kopi. Namun, jumlah itu akan lebih bermanfaat kalau diikuti dengan kualitas kreasi yang baik.

Inilah yang dilakukan KSU Puncak Ngengas. Memasukan teknologi untuk mengoptimaliasai keuntungan petani kopi Desa Tepal. Tidak dengan menggunakan peralatan teknologi yang terlalu rumit. Cukup dengan kreativitas yang mereka punya. Tapi, mampu membangkitkan aktivitas ekonomi masyarakat desa.

Koperasi ini awalnya mengelola kesinambungan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang merupakan bantuan dari Kementerian Koperasi dan UKM pada 2013 silam. Oleh KSU Puncak Ngengas, PLTMH ini dibuat tidak hanya untuk memberi penerangan di malam hari, tetapi mencoba mendapat nilai tambah. Ia harus bisa menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Salah satunya disambungkan dengan usaha pengolahan kopi dan lainnya usaha perbengkelan.

KSU Puncak Ngengas tidak ingin energi terbarukan yang mereka miliki terbuang begitu saja. Setidaknya setelah keluar dari kegelapan, merdekalah juga secara ekonomi. Nah, tenaga listrik yang mereka miliki dipakai untuk mengolah kopi biji (green bean) agar menjadi kopi dengan citra rasa yang menarik keuntungan ekonomis lebih baik.

Roasting coffe (sangrai kopi) bisa dilakukan sehingga bisa menjual kopi bubuk. Usaha café kopi pun tumbuh. Oh yaa, Kopi Tepal miliki jenis kopi arabica, robusta dan luwak. Bekerja sama dengan Gapoktan Kemang Arabika, kini Kopi Tepal miliki 7 (tujuh) aroma kopi dalam berbagai macam ukuran kemasan.

Ist

Berpretasi

KSU Puncak Ngengas memang jadi sangat serius tangani Kopi Tepal. Tentu saja demikian. Ini harta. Produk kopi yang mereka hasilkan diolah sesuai SOP (Standar Operasional Pengolahan) biasa yang dikeluarkan oleh PUSLIT (Pusat Penelitian) Kopi dan Kakau di Jember, Jawa Timur. Ini adalah lembaga penjamin mutu kopi.

 

Tak heran kalau KSU Puncak Ngengas diakui banyak pihak dalam mengelola kopi. Dalam ajang Smesco Rembuk Kopi Nusantara 2017, KSU Puncak Ngengas meraih juara pertama Coffe Cupping Competition. Dalam pengelolaan energy terbarukan juga diakui setelah menjadi pemenang pertama ASEAN Energy Award 2017 di Philipina.

Ketua KSU Puncak Ngengas, Ahdar, di Sumbawa, Rabu (18/7) mengatakan keberadaan PLTMH memang mengubah banyak nasib petani di sekitarnya.

 

Cukup sulit memajukan ekonomi masyarakat desa yang berada di atas bukit itu sebelumnya. Kreasi yang muncul setelah keberadaan PLTMH sangat membantu perekonomian warga. “Dengan demikian PLTMH ini tidak hanya menjadi sumber energi listrik yang menerangi rumah atau warga bisa nonton televisi, tapi menjadikan petani di Desa Tepal mampu mengolah kopi dan memasarkan hingga ke luar Sumbawa, dan dibantu dipasarkan secara online,” kata Ahdar.

Ahdar mengatakan saat ini KSU Puncak Ngengas Tepal telah mengoperasikan 2 unit PLTMH dengan kapasitas daya masing-masng sebesar 40 KW. Listrik itu melayani sekitar 200 pelanggan rumah tangga maupun usaha produktif pengolahan kopi. Kini, ia ingin terus meningkatkan pasokan listrik dengan menambah 1 unit PLTMH pada tahun mendatang.

Menurutnya, kebutuhan listrik warga dan usaha produktif akan terus naik ketika pasokan bertambah. Setidaknya butuh biaya sekitar Rp 1,5-2 miliar invetasi kelistrikan ini. Hanya saja dana itu dianggap kecil jika dibandingkan dengan keuntungan yang didapatkannya nanti.

Ia menuturkan, sejak awal pembangunan PLTMH pihaknya telah mempersiapkan pemuda desa untuk terlibat dalam pengoperasian pembangkit tersebut. Kontraktor pembuat PLTMH akan terus didampingi oleh tenaga muda desa sehingga proses transfer pengetahuan dan teknologi bisa berjalan baik. “Jadi tenaga ahli atau kontraktor hanya pas pemasangan pertama saja, selanjutnya tenaga lokal sudah dapat melanjutkan dan mengoperasikan PLTMH. Kalau ada kerusakan kita sudah bisa perbaiki sendiri,” kata Ahdar.

Multiplier Effect

Asisten Deputi Industri dan Jasa Kementerian Koperasi dan UKM, Ari Anindya Hartika, ketika berkunjung ke PLTMH dan Pusat Pengolahan Kopi Tepal merasa bangga dengan pencapaian KSU Puncak Ngengas. “Multiplier effect PLTMH sangat penting dan kita harapkan mampu mendorong usaha produktif masyarakat. Pengolahan kopi dan usaha produktif merupakan turunan dari pengelolaan PLTMH sangat membantu ekonomi warga,” katanya.

Hanya saja, bimbingan dan pelatihan dari pemerintah masih angat dibutuhkan. Bimbingan teknis roasting coffe harus berkelanjutan agar selalu ada sesuatu yang baru. Dengan demikian peningkatan daya saing selalu ada. “Kita juga dorong pola kemitraan bagi para pelaku usaha bisnis. Jadi dengan adanya pola kemitraan ini pelaku usaha bisa sangat terbantu, antara lain adanya kontrak penjualan dan lainnya,” katanya. (NO)