Guntur : Megawati “Sungkem” Pada Ibu Fat Agar Putus Dari Hassan

Guntur : Megawati “Sungkem” Pada Ibu Fat Agar Putus Dari Hassan

“Saya Ingin Tinggal Di Indonesia Buat Seterusnya”, Kata Gamal Hassan Kepada “SH” Lewat Telepon

Jakarta, 13 Juli 1972 – Tanggal 27 Juni sekitar jam 10 malam Megawati Soekarno Putri telah menyungkem Ibu Fatmawati di rumah jalan Sriwijaya. Sungkem itu dilakukan untuk mohon restu dan menguatkan kata-katanya bahwa ia bertekad memutuskan “pernikahannya” dengan Gamal Hassan.

Demikian Mohammad Guntur Soekarno Putro menyatakan kepada “SH” Kamis pagi. Dikatakannya bahwa tekad memutuskan “pernikahan” dengan Hassan itu keluar dari kehendak Megawati sendiri tanpa permintaan Guntur ataupun Ibu Fatma maupun saudaranya yang lain.

Asal mula
Menurut Guntur tanggal 27 Juni malam itu ia tiba-tiba dipangil ke rumah Ibu Fatmawati di Kebayoran. Ternyata Megawati telah melaporkan kepada ibunya bahwa ia sudh menikah dengan Gamal Hassan. Sepulang dari Sukabumi, Megawati menangis dan menyungkem ibunya sambil menunjukkan surat kawinnya. Itu sungkemnya yang pertama.

Melihat surat nikah tersebut Guntur merasa tidak bisa berbuat apa-apa karena Megawati diangapnya sudah dewasa, sudah cukup umur dan bahkan seorang ibu dan oleh karenanya ia bebas saja kawin dengan orang yang dia pilih sendiri.

“Akan tetapi”, demikian Guntur, ketika dia saya minta menceritakan proses pernikahannya, Mega mengatakan bahwa ia antara setengah sadar dan tidak sadar. Pertemuannya dengan Hassan di Sarinah sebetulnya dalam rangka niatan Megawati untuk mengatakan putusnya hubungan mereka.

Masuk mobil
Tetapi entah bagaimana maka Mega diajak masuk ke mobil dan Mega ingat bahwa sopir selalu diberi komando oleh Hassan untuk belok kiri, belok kanan, terus, belok kiri, belok kanan, terus dan seterusnya sehingga tahu-tahu sudah dijalan keluar kota kearah Bogor.

Di Bogor mereka singgah di dosen IAIN yang juga orang Mesir seperti halnya Gamal Hassan dan kemudian dikawinkan di depan penghulu.

Menurut hasil penelitian Guntur, penghulu telah diminta agar segera mengawinkan mereka sebab mereka akan terbang ke pulau Bali. Sebelum pernikahan, putri bekas Presidden Soekarno tersebut oleh Hassan diminta menandatangani suatu pernyataan setuju nikah dengan dirinya dengan materai Rp. 25.

Tetap cerai
menjawab pertanyaan “SH” bagaimana jika vonis ternyata mengesahkan pernikahan Hassan dengan Megawati, Guntur menyilahkan istrinya memberikan jawaban sebab kepadanya Megawati telah menyatakan pendiriannya.

Nyonya Guntur mengutip lagi pendirian Megawati, andaikata Pengadilan Agama sekarang mengesahkan pernikahannya, Mega akan minta naik banding dan andaikata Pengadilan bandingkan inipun mengesahkan perkawinan tersebut maka ia waktu itupun juga akan meminta perceraian.

Dinyatakan oleh Guntur bahwa Mega maupun adiknya yang lain tidak dilarang untuk memberikan keterangan kepada siapapun, Mega sendiri sekarang sudah dalam keadaan sadar.

Hamka & “Syah”
Sementara itu Prof. Dr. Hamka menyatakan kepada pers Jakarta bahwa pernikahan Hasan Gamal AH dengan Megawati adalah syah menurut hukum Islam dan tidak akan ada satu halpun yang bisa merintanginya. Bahkan menurut pendapat Hamka terdapat banyak alasan bagi pihak H. Muh. Cholil Fathurachman, 48 tahun, penghulu di Sukabumi yang bertindak menjadi walihakim didalam pernikahan itu, untuk tidak bisa dipersalahkan.

“Kalau datang orang yang berperangai baik dan agamanya baik, segera nikahkan. Kalau tidak, berbahaya”, demikian Prof. Hamka mengutip hadits Nabi.
Kamis pagi Hassan Gamal lewat telepon menyatakan kepada “SH” bahwa ia ingin agar isterinya, Megawati tetap warganegara Indonesia, sekalipun menurut hkum Indonesia dengan pernikahannya itu Mega juga sudah menjadi orang Mesir seperti dirinya.

“Saya ingin tinggal di Indonesia buat seterusnya” demikian Gamal Hassan, “selama rakyat Indonesia masih menghendaki saya. Saya cinta sekali kepada Indonesia” sambungnya pula dalam pembicaraan berbahasa Inggris.

Hubungan dagang
Guntur Soekarno Putra dalam wawancaranya dengan “SH” menyatakan bahwa sebelum adanya affair Hassan – Mega ini, Hassan sudah merupakan persona non grata bagi keluarganya karena hubungan perdagangan, diantaranya mengenai kontrak rumah Ibu Fatmawati yang dianggap sangat merugikan pihak keluarga Ir. Soekarno tersebut. (SH)