Frekwensi Penerbangan Ke Daerah Terganggu Akibat Krisis Pelumas

Frekwensi Penerbangan Ke Daerah Terganggu Akibat Krisis Pelumas

Jakarta, 12 Juli 1974 – Kalangan penerbangan mengakui terganggunya frekwensi penerbangan ke daerah akibat kekurangan “water methanol” dan “aeroshell”.

Bahkan water methanol digunakan oleh pesawat turboprop sebagai bahan pendingin (cooling) pada waktu mesin membutuhkan tenaga besar pada take off. Bahan aeroshell adalah minyak pelumas mesin digunakan untuk semua jenis pesawat terbang.

Persediaan water methanol sampai Senin yang lalu hanya sekitar 6 ton sedangkan kebutuhan untuk sebuah pesawat F-27 sekitar 40 Kg dan YS-11 50 Kg sekali take off.

Dalam pada itu menurut Djoko, pejabat bagian material Merpati Nusantara Airlines, frekwensi penerbangan akibat krisis bahan tersebut mengalami penurunan sampai 20%.
digambarkan bahwa krisis tersebut telah berjalan hampir sebulan dan hampir semua perusahaan penerbangan tergantung dari Pertamina mengenai penyediaan bahan tersebut.

Pihak Humas Pertamina yang dihubungkan “SH” menyerahkan masalahnya pada Divisi PDN (Pembekalan Dalam Negeri).
Sebagai alasan krisis bahan methanol dan aeroshell disebut antara lain karena bahan tertahan di pelabuhan Tanjung Priok. Sebagian besar bahan tersebut belum dapat dibongkar dan sebagian lagi sudah rusak.

Merpati dan perusahaan penerbangan lainnya berusaha mengimpor antara lain dari Singapura.
Dari bahan water methanol sebenarnya yang perlu dimpor adalah methanolnya karena air tersedia dalam negeri hanya tinggal mencampurnya menurut ketentuan laboratoris.

Banyak pengaruh
Oleh Djoko dijelaskan pula bahwa turunnya frekwensi penerbangan juga tidak semata-mata karena krisis water methanol ataupun aeroshell.

Banyak hal yang mempengaruhinya seperti krisis minyak dunia, inflasi serta naiknya tarif angkutan udara internasional.
Disamping itu sistem pajak impor yang berlaku sekarang menyebabkan naiknya barang komponen kapal terbang.
Diungkapkannya juga kondisi kapal terbang Indonesia umumnya sudah tua sehingga membutuhkan tambahan biaya pemeliharaan yang cukup besar.

Yang lebih drastis, katanya “turunnya frekwensi penerbangan karena adanya persaingan yang kurang sehat antara perusahaan penerbangan domestik itu sendiri”.
Banyak hal yang menyebabkan turunnya frekwensi penerbangan domestik sekalipun penyebabnya yang menyolok sekarang ini adalah krisis water methanol dan aeroshell. (SH/Ant)