Desa Berkonsep Ekowisata di Lereng Merapi

Desa Berkonsep Ekowisata di Lereng Merapi

Kelompok kesenian di Desa Wisata Pancoh, Sleman, Yogayakarta. (Ist)

SHNet, Sleman – Desa Wisata Pancoh merupakan desa dengan konsep ekowisata yang berada di lereng Merapi, Kabupaten Sleman. Pada musim libur ini, desa wisata yang berada di Dusun Pancoh, Desa Kirikerto, Kecamatan turi ini ters bergeliat dengan menampilkan ragam keindahan alam, atraksi, kerajinan dan budaya setempat.

Kementerian Pariwisata (kemenpar) dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta memberikan pendampingan keahlian dalam bidang pariwisata.

“Kemenpar ada program pembangunan pariwisata berkelanjutan, wisata yang memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. Pendampingan diharapkan agar kemanfaatan ini bisa terus berlangsung dan dijaga. Itu yang menjadi agenda kita dan juga dunia dalam pengelolaan pariwisata berkonsep ekowisata,” kata Asisten Deputi Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Pariwisata, Kementerian Pariwisata, Indra Nitua, Sabtu (30/6).

Menurutnya, meski dari pariwisata ada pemanfaatan ekonomi yang didapat, namun yang patut diingat adalah tidak terganggunya kondisi alam dan kearifan lokal.

“Lingkungan masyarakat tidak berubah. Ini yang coba dikerjakan, seluruh dunia trennya seperti ini, alam punya manfaat ekonomi tanpa mengeksploitasi besar-besaran yang merusak. Dan pemain utama adalah desa wisata,” jelasnya.

Ketua Pokdarwis Desa Wisata Pancoh, Noto Wiyono mengatakan, berdirinya Desa Wisata Pancoh berawal setelah erupsi Merapi 2010. Saat itu warga sepulang dari pengungsian kembali ke desanya dengan pendampingan dari LSM. Saat itu diarahkan agar mengelola alam menjadi objek wisata.

“Basic warga dari petani salak ke wisata, tidak ada modal, kita kesulitan SDM, otodidak hingga ada pendampingan dari kampus dan Dinas Pariwisata,” ujarnya.

Di awal berdiri, tamu pertama Desa Wisata Pancoh 5 orang dengan jumlah homestay 5 rumah. Sekarang sudah ada 64 rumah homestay dengan total 80 kamar. Kegiatan yang ditawarkan pengelola bagi wisatawan yakni wisata edukasi bertani, membatik, belajar gamelan, berkunjung ke peternakan, memetik salak, kerajinan tangan daur ulang sampah, hingga outbond.

Fasilitator Desa Wisata Pancoh dari UGM, M Zulkifli menambahkan, pihaknya melakukan pendampingan dan pelatihan keahlian warga setempat untuk menunjang pengelolaan desa ekowisata.

Desa Wisata Pancoh saat ini masuk kategori desa wisata berkembang dengan pendapatan sekitar Rp 800 juta-Rp 1 miliar per tahun. (Stevani Elisabeth)