Cerita Sukses Penerima Bantuan Usaha Ekonomi Produktif

Cerita Sukses Penerima Bantuan Usaha Ekonomi Produktif

Dirjen Penanganan Fakir Miskin Kementerian Sosial Andi Z A Dulung menjadi pembicara di kuliah umum STKS Bandung. (Dok. STKS Bandung)

M Yunus Matsyah, warga Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara memulai usaha percetakan batu bata sejak empat tahun yang lalu. Awal memulai usahanya ini boleh dibilang tidak berjalan lancar karena terhalang oleh kurangnya modal seperti pengadaan bahan baku dan biaya olahannya.

Selama ini, dia mengambil bahan baku dari pengusaha batu bata yang usahanya sudah maju. Namun, ada syarat yang harus Yunus penuhi. Dia harus menjual produksinya kepada pengusaha batu bata tersebut dengan harga yang murah atau di bawah harga standar, sehingga keuntungan yang diperolehnya sedikit.

Setelah memperoleh bantuan Usaha Ekonomi Produktif Dalam Bentuk Kelompok Usaha Bersama UEP dari Kementerian Sosial sebesar Rp 2 juta, usaha Yunus pun berangsur-angsur mulai lancar. Dengan tersebut, dia membeli tanah liat sebanyak 2 truk, pasir sebanyak 2 truk, cetakan batu bata serta plastik penutup bahan baku tanah dan biaya olahan. Dan biaya olahan sebesar

Tanah liat yang dibelinya itu diolah dengan cara disiram air hingga tercampur rata. Kemudian dipendam selama semalam. Setelah itu diolah menjadi adonan batu bata dengan menggunakan mesin traktor.

Tahap berikutnya, tanah liat diangkat ke tempat yang terlindungi dari sinar matahari agar tidak mudah keras. Proses berikutnya adalah pencetakan.

Satu truk tanah liat dapat menghasilkan 7000 batu bata. Yunus menjual batu bata sebesar Rp 20,00 per buah.. Jadi dia memperoleh uang sebesar Rp 1,4 juta dari penjualan 7000 batu bata..

Batu bata yang sudah kering dijual kepada pengusaha batu bata yang usahanya sudah besar untuk dibakar lagi. Dalam satu truk batu bata memerlukan modal sebesar Rp 250.000,- untuk satu truk tanah liat, Rp 150.000,- untuk pasir laut dan biaya olahan sebesar Rp 330.000,-. Jumlah modal yang diperlukan sebesar Rp 730.000,-.

Dari hasil penjualan batu bata dan dikurangi modal, maka Yunus memperoleh uang sebesar Rp 670.000,-. Dalam sebulan, dia bisa memproduksi 2 truk, tergantung luas tempat pencetakannya.

Masih dari Aceh Utara, ada seorang nelayan yang sukses dengan usaha ternak bebeknya.. M Amin Ali, warga Desa Bangka Jaya memperoleh bantuan UEP dari Kementerian Sosial untuk usahanya berternak bebek.

Amin berprofesi sebagai nelayan yang hanya menggantungkan hidupnya dari hasil tangkapan ikan. Penghasilnnya tidak menentu. Bila cuaca buruk, maka dia tidak bisa melaut.

Bukan itu saja, dia juga tidak bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Apalagi perahu yang dia gunakan bukan milik pribadi, sehingga keuntungan yang diaperoleh harus dibagi dua dengan si pemilik perahu.

Setelah memperoleh bantuan UEP, Amin membeli 20 ekor bebek yang sudah berumur 3 bulan. Setelah satu bulan dipelihara, bebeknya sudah bertelur. Amin sudah bisa menjual telur bebek peliharaannya.

Dalam satu minggu, Amin bisa menjual lebih dari 100 butir telur. Sebutir telur bebek dijualnya dengan harga Rp 1.500,-. Sekarang, bebek peliharaannya bisa menghasilkan 20 butir telur.. Hasilnya, perekonomian keluarga Amin Ali semakin membaik.

Bahkan Amin bisa membeli lagi 10 ekor bebek. Anaknya juga bisa mengikuti les dengan biaya dari hasil penjualan telur bebek.

Ada pula cerita Aminudin, warga Desa Morodemak, Kecamatan Bonang, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Ia bersama istrinya tidak memiliki pekerjaan yang tetap.

Pendapatannya, tergantung dari ada atau tidaknya pekerjaan karena tidak tiap hari orang menyuruhnya bekerja. Tentu saja hal ini belum dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

Setelah memperoleh bantuan UEP dari Kementerian Sosial sebesar Rp 2 juta, istri Aminudin membuka usaha laundry.

Awalnya, banyak orang yang meragukan usaha ini, karena membuka laundry di desa kecil dinilai kurang laku. Namun, dia dan istrinya tidak menyerah. Dana tersebut dia belikan mesin cuci, timbangan, keranjang baju, deterjen dan pewangi.

Ia dan istrinya juga mempromosikan usahanya ini dari mulut ke mulut kepada warga desa. Jasa laundry ini dibandrol harga Rp 2.500 dan Rp 3.500 per kg untuk cuci setrika. Dari jasa laundry ini Aminudin memperoleh keuntungan sebesar Rp 70,000,- per hari.

Berkat usahanya ini, Aminudin bisa memenuhi kebutuhan keluarga dan dapat menambah satu unit mesin cuci.

Tidak sekadar menjalankan UEP semata saja, hal ini pun sesuai dengan Nawacita Jokowi-Jk yakni, poin nomor 6 meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar international sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa lainnya serta Nawacita poin tujuh, mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakan sektor-sektor strategis ekonomi domestik.

Siapa yang berhak?

Usaha Ekonomi Produktif Dalam Bentuk Kelompok Usaha Bersama UEP bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan keluarga. Bantuan yang diberikan oleh kementerian Sosial dijadikan sebagai modal usaha.

Modal usaha ini digunakan dan dikelola untuk meningkatkan penghasilan keluarga. Bantuan digunakan hanya untuk keperluan usaha.

Mereka yang menerima bantuan UEP ini adalah fakir miskin yang terdaftar di Data Terpadu Penanganan Fakir Miskin pada Pusat Data dan Informasi Kesejahteraan Sosial (Pusdatin Kessos).

Para penerima bantuan ini belum pernah memperoleh bantuan dari pemerintah seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indonesia Sehat 9KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), rastra maupun KKS.

Selain itu harus memiliki KTP/KK/berdomisili tetap, memiliki keinginan berusaha, memiliki potensi dan keterampilan dalam melaksanakan bantuan sosial.

Belum pernah mendapatkan bantuan sosial usaha. Penerima berusia 18-60 tahun dan atau sudah menikah. Penerima merupakan kelapa keluarga.

Para penerima bantuan ini mempunyai hak menerima bantuan tanpa potongan, memilih jenis usaha, mendapatkan pendampingan usaha, mengatur jam kerja, keuntungan usaha dan memilih rekan/mitra usaha. (Adv)