Bung Karno Tetap Penyambung Lidah Rakyat

Bung Karno Tetap Penyambung Lidah Rakyat

* Dipersembahkan Gelar Juru Penerangan Agung
* DEPPEN Supaya Menjadi “Departemen Revolusi”

Jakarta, 9 Juli 1963 – Dalam amanatnya kepada peserta konferensi kerja ke-17 Departemen Penerangan yang diterima di Istana Bogor hari Senin, Presiden Soekarno telah menerima baik gelar Juru Penerangan Agung yang telah disampaikan oleh Wampa Khusus/Menpen Dr. Roeslan Abdulgani atas nama konferensi.

Dalam amanat itu Presiden menegaskan bahwa ia tetap berpegang juga kepad gelar yang diberikan kepada dirinya sendiri yaitu Penyambung Lidah Rakyat.

“Saya selalu berikhtiar”, demikian Presiden, “agar apa yang keluar dari lidah saya adalah penyambungan daripada harapan-harapan, keinginan-keinginan, cita-cita daripada rakyat”.

Presiden mengingatkan kepad tulisannya dalam tahun 1931, dalam pembungan Ende (Flores), diman telah dikoreksinya satu semboyan yang kadang masih dipakai sampai sekarang,tetapi sebenarnya tidak cocok, tidak tepat, tidak baik bagi revolusi kita, yaitu: Jangan banyak bicara, bekerjalah sebaik-baiknya.

Deppen supaya jadi Departemen Revolusi
“Revolusi kita sekarang”, demikian Presiden tidak bisa dijalankan oleh seluruh masyarakat, kalau masyarakat itu tidak mengetahui benar apa yang menjadi api dari revolusi itu.

Di dalam revolusi rakyat diperlukan sekali propaganda, penerangan kepada rakyat yang seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya. Oleh karena itu, dalam artikel saya pada tahun 1934 itu, saya rubah semboyan: “Jangan banyak bicara, bekerjalah sebaik-baiknya” menjadi “Banyak bicara, banyak bekerja”. Dan tugas saudara adalah: “Banyak bicara, bicara dengan lidah, bicara dengan tulisan, bicara dengan alat visuil, dan lain-lain media lagi”.

“Saya punya harapan daripada Departemen Penerangan”, kata Presiden, dan saudara-saudara sebagai orang daripada Departemen Penerangan, supaya meneruskan fungsinya Departemen Penerangan itu benar menjadi satu Departemen Revolusi.

Menteri Penerangan Dr. Roeslan Abdulgani yang berbicara sebelum Presiden memberikan amanatnya, menegaskan bahwa konferensi-kerja ke-17 yang dihadiri oleh kepala jawatan Penerangan Provinsi, kepala studio RRI seluruh Indonesia, demikian pula instansi penerangan dipusat , adalah untuk menyusun rencana-kerja dan rencana-perjuangan.

Landasan perjuangan orang penerangan tetap seperti jaman Yogya dahulu, yaitu berlandaskan Pancasila. tetapi berbicara hanya tentang Pancasila pada tahun 1963 ini tidak cukup, sebab Pancasila sudah dipancarkan dalam Manipol/Usdek, sudah diperlaengkapi dengan macam-macam perlengkapan pedoman-pelaksanaannya, sehingga hal ini memberikan beban tugas yang lebih berat lagi bagi para juru penerangan. Demikian Dr. Roeslan Abdulgani. (Ant)