Bung Karno Komunis, Revolusioner Maupun Diktator

Pandangan Kotradiktif Seorang Profesor Tentang Soekarno

Bung Karno Komunis, Revolusioner Maupun Diktator

Tapi Akui Sebagai Pembela PKI

Jakarta, 17 Juli 1970 – Apakah Ir. Soekarno seorang komunis, revolusioner maupun diktator Indonesia ?, demikian pertanyaan yang dilontarkan oleh Profesor JD Legge, Direktur Institute of Southeast Asian Studies dalam suatu tanya jawab di Rotary Club Singapore Kamis yang lalu.

“Jawabannya tidak !”, kata Profesor Legge.
Menurut Prof. Legge sejarah sebaliknya membuktikan bahwa Soekarno justru lebih bersifat tokoh konservatif daripada revolusioner.

Diakui bahwa Soekarno telah menganggap dirinya sebagai revolusioner, seorang tokoh yang mengagumkan romantiknya revolusi….tapi apakah benar demikian ?, profesor tersebut bertanya.

Menurut Legge, Bung Karno adalah seorang revolusioner dalam arti telah membakar semangat rakyat Indonesia dalam melawan kekuasaan Belanda, tetapi Bung Karno bukan seorang revolusioner dalam arti merombak dan mambangun masyarakat Indonesia sesudah kemerdekaan.

Soekarno bahkan lebih condong untuk mempertahankan (preserved) keadaan masyarakat diwaktu itu daripada mau merombaknya. Revolusi bagi Bung Karno, kata Prof. Legge selanjutnya, adalah penciptaan rasa bergolak dan bergerak terus-menerus tetapi tidak berarti merombak struktur masyarakat itu sendiri.

Keseimbangan
Menurut Prof. Legge, Soekarno tak pernah membiarkan dirinya ditaklukkan oleh disiplin partai komunis maupun partai manapun.
Prof. Legge selanjutnya berpendapat bahwa Soekarno telah membela PKI bukan hanya untuk memelihara keseimbangan politik tapi dengan demikan ia berhasil pula untuk merampas disiplin revolusioner dan semangat PKI. Ia telah berhasil menjinakkan (domesticated).

Prof. Legge selanjutnya menitik-beratkan pada rasa perikemanusiaan Bung Karno dan dalam tanya-jawab itu profesor tersebut mencoba membelanya dengan mengatakan bahwa demokrasi terpimpin bukan suatu bentuk diktator.

Sekalipun Soekarno telah menggunakan berbagai gelar yang “absurd” seperti Pemimpin Besar Amanat Penderitaan Rakyat, almarhum bukan pencipta diktator pribadi yang kejam…….
Almarhum justru tidak mempunyai kekuasaan untuk membangun sebuah kekuasaan yang kejam.

Ukuran
Walaupun tidak aman bagi lawan Bung Karno untuk menyatakan pendapat mereka secara bebas, Soekarno menindak mereka secara moderat.

Tahanan rumah adalah lazim dan kesetiaan ditempatkan diatas kesanggupan sebagai ukuran (creterion) untuk maju (bagi pendukungnya – Red).

Tidak ada kamp latihan (consentration camps) dijamannya Soekarno berkuasa, kata profesor tersebut.
Dan dalam inti dari semua amanatnya adalah keyakinan bangsa Indonesia akan konsensus untuk merangkul semua bangsa.

Di dalam masyarakat dimana tak selalu terdapat toleransi yang sedemikian jauhnya, adalah penting sekali bahwa Soekarno menentang diskriminasi berdasarkan rasialisme dan untuk itu Bung Karno akan dikenang sebagai suatu tokoh yang memilih sikap kemanusiaan yang lapang.

Demikian pendapat Profesor Legge yang mengandung kontradiksi sebagaimana diungkapkan dalam “Straits Times” tanggal 16 Juli yang lalu. (SH)