Apresiasi Positif Untuk Arsitektur Indonesia dari Italia

 Apresiasi Positif Untuk Arsitektur Indonesia dari Italia

SHNet, Jakarta – Indonesia mendapat apresiasi positif dari penggiat dunia arsitektur dalam seminar bertajuk The Tale of The Void, yang dilaksanakan di kota Venezia, Italia, Minggu (8/7) kemarin. Kurator Ary Indra hadir menjelaskan filosofi dalam karya yang berjudul Sunyata The Poetics of Emptiness dihadapan Professor University of School of Architecture Venice (IUAV).
Filosofi kekosongan yang menjadi tema dan tantangan Biennale kali ini, telah dikenal secara dekat oleh masyarakat Nusantara terutama Jawa. Bahkan konsep suwung yaitu kekosongan yang memberikan pengaruh yang mendalam dan secara implisit dan eksplisit kerap mengandung unsur spiritual dan “kehadiran kekuatan energi lain” yang tercermin dan terasa dalam bangunan dan arsitektur nusantara.
“Void dalam arsitektur tradisional nusantara merupakan konsep yang telah dikenal dan juga telah diterapkan pada banyak bangunan sebagai jawaban pada tantangan gografikal juga sebagai cara memberikan ruang pada kebutuhan ritual dan juga kebutuhan untuk berinteraksi dengan sesama manusia,” ujarnya
Sementara itu, professor Renato Rizzi mengatakan arsitektur terdiri dari kata arche dan techne. Arche berkaitan dengan hal-hal yang bersifat tak ternilai atau intangible sedangkan techne berkautan dengan hal-hal yang bisa dihitung nilainya atau tangible.
Yang menjadi masalah menurutnya, akhir-akhir ini, manusia cenderung bertumpu pada hal hal yang bersifat tangible dan melupakan bahkan menolak hal-hal yang bersifat intangible, sebagai akibat kemalasan berpikir dan munculnya dorongan yang kuat untuk mendominasi yang lain.
“Manusia saat ini berada pada periode yang sangat mengerikan dimana ada anggapan publik yang menganggap bahwa hal yang eksak seperti misalnya teknologi sangat dibutuhkan sebagai alat untuk mendominasi dan menguasai sesama,” ujarnya.
Hal ini menurutnya membuat manusia terjebak dan tidak bisa memahami bahwa ada hal-hal yang nilainya jauh lebih tinggi dan jauh melampaui kekuasaan namun tidak mendominasi, yang disebut arche.
“Dalam dunia arsitektur, Arche adalah sesuatu yang intangible, tidak bisa dinilai tapi justru kekuatannya lebih tinggi dan kita sebut grace (anugerah). Grace ini hanya bisa hadir melalui pribadi yang singular, pribadi yang mengenal dirinya sendiri, yang hadir secara spesifik dan unik pada pribadi masing-masing,” ujarnya.
Ia menambahkan dengan hadirnya tema Freespace ini, diharapkan manusia dapat menarik diri, dari hiruk pikuk kebutuhan manusia pada dunia material dan teknologi, untuk sejenak merenung dan berkontemplasi, memberi waktu pada tiap pribadi untuk mengenal sisi masing-masing yang tangible dan intangible serta memanfaatkan keduanya dalam porsi yang seimbang.