Warga Desa Karbubu, MBD, Setia Dengan Solar Cell Sambil Tunggu Janji Listrik

Warga Desa Karbubu, MBD, Setia Dengan Solar Cell Sambil Tunggu Janji Listrik

PERTEMUAN - Pejabat Desa Karbubu, Rivaldo Huwae (ketiga dari kiri) melakukan pertemuan dengan warga di halaman terbuka sejak 2017 lalu karena Balai Desa masih diperbaiki dan rencananya selesai dalam bulan ini. (Dok/SHNet)

SHNet, JAKARTA – Listrik sudah menjadi kebutuhan vital guna menggerakkan roda pembangunan dan kemajuan ekonomi masyarakat. Sesuai program Presiden RI, Joko Widodo, mengatasi kelangkaan listrik dan pemerataan listrik bagi masyarakat yang ada di desa-desa terpencil.

Program Presiden sudah dijalankan dengan baik, tapi Indonesia dengan gugusan ribuan pulau dan desa-desa kecil, tentu butuh waktu panjang untuk program pemerataan itu dituntaskan. Apalagi untuk pulau dan desa-desa kecil yang lokasinya begitu jauh dari ibukota.

Seperti Desa Karbubu, salah satu desa di Kecamatan Wetar Barat, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD). Salah satu pejabat di desa Karbubu, Rivaldo Huwae dalam perbincangan dengan SHNet, Kamis (7/6) mengakui kalau total 84 KK di Desa Karbubu belum semua bisa menikmati penerangan listrik di rumah mereka.

“Penerangan masih pakai mesin genset dan lampu bantuan dari Presiden Jokowi. Kalau untuk mengisi daya ponsel biasanya di-charge pake Solar Cell atau panel surya yang merupakan alat untuk mengkonversi tenaga matahari menjadi energi listrik. Warga tetap setia tunggu janji listrik masuk desa,” jelas  Rivaldo yang juga merupakan Pelaksana Harian Camat Wetar Barat, Immanuel J Maupula.

Menurut Rivaldo, warga biasanya hanya gelisah saat akan datang perhelatan akbar sepakbola seperti Piala Eropa atau Piala Dunia yang pada 14 Juni nanti akan mulai dimainkan di Moskow, Rusia, hingga sebulan kedepan.

Pintu gerbang Desa Ustutun, ibukota Kecamatan Wetar Barat, Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD).  (Ist)

“Biasanya lewat Kementrian Sosial ada bantuan untuk nonton dengan parabola yang dipusatkan di salah satu kantor atau rumah penduduk yang agar besar untuk semua warga bisa nonton. Apalagi, jaringan provider seperti Telkomsel atau Indosat pun belum masuk di sini, jadi kalau event besar seperti Piala Dunia begitu, kami akan nonton bersama-sama dipusatkan di satu tempat,” jelas Rivaldo yang mulai bertugas di MBD sejak 2010 ini.

Ia juga menjelaskan kalau masih ada cara lain untuk memenuhi kebutuhan nonton Piala Dunia  Rusia ini yaitu dengan datang ke Ibukota Kecamatan Wetar Barat di Desa Ustutun yang berjarak 26 kilo mengarungi laut dengan speed boat.

“Di Ustutun ini sudah ada Tower dan jaringan. Tapi memang cukup mahal biayanya untuk sampai kesana. Bisa habis sampai Rp. 1,5 juta karena kita harus membeli bahan bakar untuk speed itu sekitar 40 liter untuk perjalanan PP. Harga bahan bakarnya 1 liter Rp. 25 ribu,” cerita Rivaldo.

Cukup riskan memang bagi penduduk Desa Karbubu yang mayoritas penduduknya hidup sebagai nelayan dan petani. Karena itu, Rivaldo berharap pemerintah bisa memperhatikan kebutuhan listrik dan jaringan untuk desa Karbubu dan juga desa-desa lain di Kecamatan Wetar Barat.

Rivaldo juga menjelaskan kalau lantaran belum adanya jaringan di Desa Karbubu, nyaris seluruh penduduk desa memakai jaringan telpon dan SIM Card dari Timor Leste. Sampai-sampai ada istilah ‘Garuda di dadaku, Timor Leste di perutku’ karena memang kehidupan warga Desa Karbubu masih banyak tergantung pada Timor Leste yang jaraknya sangat dekat di sebelah selatan Desa Karbubu.  (Nonnie Rering)