Tersangka Pelaku Utama Pembunuhan Pahlawan Revolusi Mulai Diadili

Tersangka Pelaku Utama Pembunuhan Pahlawan Revolusi Mulai Diadili

Jakarta, 18 Juni 1976 – Mahkamah Militer Tinggi (Mahmilti) Jaya Banten,Jum’at pagi mulai memeriksa Ex-Serma AURI Marsudi sebagai tersangka pelaku utama pembunuhan terhadap Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya bulan September/Oktober 1965.

Hakim Ketua Mayor Udara Suwarno SH sebelum melakukan pemeriksaan terlebih dahulu menanyakan tentang kesehatan tertuduh yang dijawab dalam keadaan baik.
Oditur Mayor Udara Gde Pautama SH membagi empat tuntutannya yang antara lain menyatakan bahwa tertuduh adalah pelaku utama pembunuhan terhadap Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya.

Sebagai anggota PKI yang berhasil menyusup ke dalam tubuh AURI tertuduh bermaksud menggulingkan pemerintah yang sah dengan permufakatan jahat untuk melakukan makar.

Tertuduh pulalah yang melaksanakan perintah terhukum Ex-Mayor Gatot Sukrisno untuk “membereskan” jenderal yang diculik dan masih hidup. Dengan demikian Serma Marsadi yang melakukan pembunuhan terhadap jenderal dengan menggunakan 20 butir peluru dengan senjata “Cung” dan “G3” yang kini berhasil disita sebagai barang bukti.

Oditur meminta kepada Hakim Ketua agar dalam pemeriksaan selanjutnya bisa diajukan saksi yang telah ditunjukknya sejumlah 23 orang.

Hakim Ketua Suwarno SH setelah pembacaan pembacaan tuntutan itu menanyakan kepada tertuduh apakah ia sudah tahu apa yang dituduhkan kepadanya oleh oditur tadi.
Setelah berpikir sejenak tertuduh meminta waktu untuk berkonsultasi dengan pembelanya Abdul Aziz Kadir SH dan Rahman Nursalim SH.

Pembela Abdul Aziz dalam tangkisannya mengatakan bahwa Mahmilti tidak berhak mengadili tersangka. Tidak benar tersangka melakukan makar karena ia adalah prajurit yang taat kepada atasannya.

Hendaknya Mahmilti menolak tuntutan oditur dari segala tuntutan hukum terhadap tertuduh Ex-Serma Marsudi, kata pembela.
Oditur meminta waktu 1×24 jam kepada Hakim Ketua untuk menjawab tangkisan pembela.
Hakim Ketua hanya mengabulkan 2 jam saja tetapi diundurkan hingga hari Sabtu.

Ex-Serma Marsudi yang dilahirkan di Surabaya tahun 1928 saat memasuki ruangan sidang dikawal oleh dua orang petugas. Badannya tegap dengan mengenakan baju putih bintik-bintik merah, peci hitam berkaca mata dengan tenang menghadapi tuduhan.

Sidang pertama ini juga dihadiri oleh Kasau, janda pahlawan revolusi dan segenap undangan lainnya. (SH)