Sarman: Indahnya Usai Gelar Asian Games 2018 Lanjut Piala Dunia 2022

Sarman: Indahnya Usai Gelar Asian Games 2018 Lanjut Piala Dunia 2022

BERKAMPANYE - Ketua MSBI, Sarman (kiri) berkampanye sampai ke Meksiko guna menjadikan Indonesia tuan rumah Piala Dunia 2022. (Dok/SHNet)

SHNet, JAKARTA – Presiden RI, Joko Widodo terus menerus berkoar soal promosi Asian Games 2018 yang dirasakannya masih belum memadai. Sebuah langkah luar biasa dunia olahraga didukung penuh oleh Kepala Negara. Tentu saja akan menjadi jauh lebih indah jika usai Asian Games 2018 nanti bisa dilanjutkan dengan agenda menggolkan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.

“Sudah saatnya Indonesia memanfaatkan olahraga yang sudah menjadi industri sebagai ajang pemicu prestasi atlet, promosi dan  untuk membangun perekonomian rakyat dengan menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022,” kata Ketua Masyarakat Sepak Bola Indonesia (MSBI), Sarman, kepada media di Jakarta, Selasa (5/6).

Menjadikan Indonesia sebagai tempat pesta Piala Dunia 2022, kata Sarman, merupakan suatu ide berlian dalam merekatkan anak bangsa. Bahkan, lewat Piala Dunia 2022, Indonesia bisa sejajar dengan negara yang mengalami kemajuan perekonomiannya setelah menjadi tuan rumah Piala Dunia.

“Keinginan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022 bisa diwujudkan jika Presiden Jokowi menyampaikan kesediaan Indonesia kepada publik. Saya yakin Presiden FIFA, Gianni Infantino akan langsung mengumumkan The Next World Cup 2022 in Indonesia pada saat acara penutupan Piala Dunia di Rusia 2018 nanti,” lanjut Sarman.

Bukankah FIFA telah menetapkan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022? “Peluang Indonesia lebih besar menggeser Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 apalagi terjadi kasus penyuapan pada saat pemilihannya. Adanya kasus ini mewajibkan FIFA yang menjunjung tinggi Fair Play membatalkan keputusan penunjukan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022,” tambahnya.

Kasus FIFA menganulir keputusan tuan rumah Piala Dunia empat tahun sebelum penyelenggaraan, kata Sarman, bukan pertama kali. Tuan rumah Piala Dunia 1986, Kolumbia dibatalkan FIFA pada tahun 1982 dan posisinya digantikan Meksiko yang lebih dikenal dengan Gol Tangan Tuhannya Maradona.

“Kolumbia itu ditetapkan FIFA menjadi pada tahun 1974. Dan, pembatalan Kolumbia menjadi tuan rumah Piala Dunia 1986 itu masih menjadi rahasia dunia dan tak pernah dipublikasikan FIFA alasannya sampai saat ini,” tutur Sarman.

Penunjukan Meksiko sebagai tuan rumah Piala Dunia memang sempat menimbulkan tanda tanya. Apalagi, Meksiko saat itu mengalami krisis ekonomi maha dahsyat dan diguncang gempa yang memporak-porandakan kotanya pada tahun 1985. Semua persoalan yang dialami Meksiko terselesaikan setelah sukses menjadi juara dunia. Berdasarkan pengalaman Meksiko itu, kata Sarman, Indonesia tidak perlu khawatir tidak bisa mensukseskan pelaksanaan pesta Piala Dunia 2022.

Ketua MSBI, Sarman, di markas FIFA, Zurich, Swiss. (Dok/SHNet)

“Waktu empat tahun itu sudah ideal. Rinciannya, tahun pertama penunjukan dunia harus tahu. Tahun kedua, pembangunan lapangan, obyek wisata dan ekonomi kerakyatan. Tahun ketiga, babak kualifikasi dan tahun keempat pelaksanaan Piala Konfederasi yang dilanjutkan dengan penyelenggaraan Piala Dunia 2022,” jelasnya.

Yang patut menjadi catatan penting bagi pemerintah Indonesia. Yakni, kehadiran Piala Dunia sangat banyak manfaat bagi negara yang menyelenggarakannya. Bukan hanya keuntungan secara ekonomi, tetapi membuka lapangan pekerjaan yang luas dan menjadikan kondisi keamanan negara tersebut jauh lebih baik dari sebelumnya.

Bahkan, lewat penyelenggaran Piala Dunia bisa dibangkitkan rasa nasionalisme yang tinggi dan menghilangkan perbedaan suku, ras dan agama. “Saatnya, Indonesia yang dikenal beragam itu lebih direkatkan lagi lewat penyelenggaraan Piala Dunia 2022,” tegasnya.

Sejarah pelaksanaan Piala Dunia juga membuktikan berbagai persoalan negara bisa terselesaikan lewat pagelaran olahraga paling pupoler di muka bumi. Pada Piala Dunia Argentina 1978, dua tahun sebelum penyelenggaraan terjadi kudeta politik dan huru-hara. Namun, semuanya terselesaiikan dengan baik.

Di Piala Dunia Amerika Serikat tahun 1994, FIFA sukses mempopulerkan olahraga sepakbola yang sangat demokratis dan non diskriminasi. Di Piala Dunia Francis 1998, penyatuan bangsa Francis sukses dilakukan pada tahun 1992. Sebelumnya, terjadi krisis nasionalis kebangsaan di Francis yaitu  dengan kebangkitan nasionalisme yang digelorakan kaum imigran.

Tahun 2002, Piala Dunia di Jepang dan Korea Selatan yang ditetapkan tahun 1996. Kedua negara raksasa Asia ini diberikan FIFA hak menjadi tuan rumah bersama untuk menyelesaikan dua persoalan penting. Pertama, menuntaskan perasaan dendam yang terus menyelimuti generasi muda Jepang dan Korea Selatan sehubungan peristiwa Perang Dunia II. Kedua, menyelesaikan krisis ekonomi maha dahsyat yang melanda mereka pada tahun 1996.

Pada tahun 2006, Piala Dunia di Jerman. Dasar penetapan Jerman dilakukan FIFA dalam upaya mendukung niat penyatuan Jerman Barat dan Jeman Timur. Hasilnya, muncul New Jerman dimana tak ada lagi belahan Timur dan Barat. Pada penyelenggaraan Piala Dunia tahun 2010 di Afrika Selatan juga terwujud niat Presiden Afrika Selatan, Mandela menyatukan anak bangsanya.

Bukti sepakbola bisa mempersatukan anak bangsa itu tidak bisa dipungkiri. Apalagi, Mandela sebelumnya pernah gagal menyatukan anak bangsanya lewat penyelenggaraan tuan rumah Piala Dunia Rugby 1995 yang merupakan olahraga kulit putih. Makanya, Mandela secara terbuka menyatakan bahwa sepakbola merupakan solusi dalam penyelesaian krisis ekonomi dan penyatuan anak bangsa. Bahkan, Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma pun dengan lantang menyatakan “Anak Bangsa Afrika Selatan Sudah Sejajar Dengan Anak Bangsa Lain.”

Terakhir, Piala Dunia 2014 di Brasil. Lewat sepakbola, Brasil bisa menuntaskan hutangnya ke negara peminjam. “Di Brasil telah terjadi perjudian terbesar dalam sejarah sepakbola dimana tuan rumah Brasil kalah 7-1 oleh Jerman. Rahasia itu pun tak terbongkar sampai saat ini,” jelas Sarman.

Bagaimana peluang Indonesia? Hampir dipastikan tidak akan ada ganjalan dari negara-negara Asia yang mumpuni. Saat ini, Jepang konsentrasi dengan penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020 dan rencana menjadi tuan rumah Piala Dunia 2050. Begitu juga Korea Selatan yang sedang konsentrasi normalisasi dengan Korea Utara. Sedangkan Australia yang merupakan negara Commanwealth dipastikan akan mengikuti kebijakan Inggris yang memboikot tuan rumah Piala Dunia di Rusia 2018.

Seandainya Indonesia ditunjuk FIFA menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022, kata Sarman, akan lahir sepakbola dunia baru di Tanah Nusantara. Lewat tuan rumah Piala Dunia 2022, jelas Sarman, akan terbuka lapangan pekerjaan yang menjadi janji setiap Presiden, mengurangi kemiskinan, mempopulerkan tempat wisata di Indonesia. Yang lebih penting lagi, mengurangi dampak negatif penyelenggaraan Pilkada dan Pilpres, membuat anak bangsa bangga menjadi Warga Negara Indonesia (WNI).

“Lewat Piala Dunia 2022, nama Indonesia akan lebih dikenal di seluruh dunia. Bukan seperti sekarang yang dikenal hanya Pulau Dewata. Dan, banyak lagi dampak positif lainnya,” tambah Sarman yang tidak pernah menyerah memperjuangkan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 dengan mendatangi Markas FIFA di Swiss dan mengunjungi berbagai negara untuk mendapatkan dukungan.  (Nonnie Rering)