Proses Pewarisan Harus Berjalan Secara Alamiah

Gubernur DKI Ali Sadikin

Proses Pewarisan Harus Berjalan Secara Alamiah

Jakarta, 16 Juni 1976 – Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin Rabu pagi berpendapat bahwa proses pewarisan nilai 45 kepada generasi muda harus berjalan secara alamiah.

Selaku salah satu dari tiga formatur pengurus Dewan Angkatan 45 Ali Sadikin mengatakn bahwa cita-cita Proklamasi harus dapat dihayati oleh generasi muda dan generasi muda harus siap dengan peranannya tersendiri dalam rentetan yang tidak terpisah-pisah.

Cita-cita Proklamasilah yang ingin kita abadikan, tidak hanya dihayati oleh angkatan 08, angkatan 28 dan angkatan 45 tapi harus abadi selama Republik Indonesia masih ada.
Katanya, istilah pembinaan dalam proses pewarisan itu bisa menimbulkan salah paham.

Tiga formatur Pengurusan Dewan Angkatan 45 hasil Musyawarah Besar di Pandaan akhir Mei yang lalu masing-masing Wakil Presiden Hamengkubuwono, Wapangab Jenderal Surono dan Gubernur DKI Ali Sadikin, Rabu pagi diterima Presiden Soeharto di ruang kerjanya di Bina Graha.

Kepada Presiden mereka bertiga melaporkan penugasan yang diterima dari Mubes Angkatan 45 sebagai formatur pengurus yang susunannya diharapkan akan selesai akhri bulan ini, terdiri dari delapan Dewan Penasihat, 17 Dewan Harian Nasional dan 45 Dewan Paripurna yang 26 diantaranya berasal dari daerah dan 19 lainnya eksponen daerah.

Menurut Ali Sadikin dalam pertemuan itu Presiden Soeharto mengharapkan agar angkatan 45 tetap sebagai alat persatuan dan kesatuan bangsa karena pada waktu Proklamasi dulu kita tidak mengenal partai.

Kepada pers Ali Sadikin menambahkan karena itu kepengurusan Dewan Angkatan 45 tidak mutlak hanya dari Golkar, Angkatan 45 itu bukan Golkar. Catat itu.

Persyaratan pengurus menurut Sadikin adalah pertama kali ditetapkan yaitu harus bertaqwa kepada Tuhan YME, jujur, berbobot, sangggup dan berwibawa.

Siluman
Menerangkan persyaratan itu, ia mengatakan “sanggup” berarti tidak sembarangan orang, tidak menjadi pengurus siluman yang mau menjadi pengurus untuk nama saja dan kehormatan tapi tidak mau kerja.

Presiden Soeharto dalam petunjuknya tetap mengharapkan Angkatan 45 justru dalam waktu yang masih tersisa terus turut mengisi cita-cita Proklamasi.
Bagi mereka yang sudah lanjut usianya diharapkan turut melihat jalannya pembangunan ini tetapi secara organisatoris, tidak selaku pribadi.

Ali Sadikin mengulangi kembali apa yang pernah dikatakannya dalam Mubes Angkatan 45 bahwa Angkatan 45 sebagai produk perjuangan bangsa adalah sebagai ayah yang mempunyai tiga anak kandung yaitu Golkar, PDI dan PPP tidak ada anak emas dan anak tiri.

Katanya, ketiga anak kandung itupun harus konsekwen untuk menghayati cita-cita Proklamasi, Pancasila dan UUD 45.

Ibukota tenang
Menjawab pertanyaan lain, Ali Sadikin mengatakan bahwa ia selaku Gubernur Jakarta belum melihat kenyataa apapun di Ibukota sehubungan dengan Pemilu mendatang. Belum ada laporan siapapun, katanya.

Kalau ada laporan dari wartawan, silahkan tapi ia mengingatkan jangan hanya melaporkan tentang pemerintah tapi semua pihak secara adil.
Memang orang Golkar atau parpol itu malaikat semua. Apa kekuatan sosial itu semua malaikat.

Ada yang berselubung menggunakan kekuatan sosial tapi bajingan atau pencoleng.
Pers itu jangan hanya mengincar pemerintah, incar juga itu oknum yang dalam kekuatan sosial yang juga pencoleng, kata Ali Sadikin. (SH)