Pendamping Rakyat Timor Timur Sebaiknya Diutamakan Dari NTT

Wakil Ketua DPR Domo Pranoto

Pendamping Rakyat Timor Timur Sebaiknya Diutamakan Dari NTT

Jakarta, 28 Juni 1976 – Siapapun yang akan bertindak sebagai “pendamping” rakyat Timor Timur dalam melaksanakan pembangunan setelah resmi bergabung dengan Indonesia haruslah berjiwa pelopor dan memiliki semangat pengabdian yang tinggi, demikian Wakil Ketua DPR Domo Pranoto.

Dalam suatu keterangannya hari Sabtu di Jakarta sekembalinya dari mengikuti delegasi pemerintah RI ke Timor Timur, Domo Pranoto menilai pemuka dan wakil rakyat Timor Timur sekarang memiliki jiwa pengabdian yang tinggi serta sungguh-sungguh memperjuangkan nasib rakyatnya “yang kurang bagi mereka ialah pengetahuan tekhis”, kata Domo Pranoto.

Oleh karena itu, menurut dia para pendamping nanti harus dapat membantu meningkatkan kecakapan dan ketrampilan tekhnis serta memperkenalkan kehidupan menurut alam hukum Indonesia.

Maklum 400 tahun mereka hidup dalam alam hukum penjajahan, maka untuk menuntun mereka hidup menurut hukum Indonesia tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat, katanya.

Orang NTT
Dalam hubungan itu ia menyarankan agar sampai pada tingkat tertentu para pendamping itu sebaiknya diambil dari orang daerah Nusa Tenggara terutama untuk memegang jabatan langsung berhubungan dengan masyarakat.

Sebagai alasan sarannya itu dikemukakan bahwa mereka itu lebih mengenal daerah Timor Timur dan sudah lama berhubungan serta merupakan keluarga dekat yang mengerti bahasa daerah di sana.

Namun demikian ia mengingatkan bahwa pengembangan daerah itu harus dilakukan secara bertahap sesuai daya tanggap masyarakat. Untuk menjelaskan pendapatnya itu ia mengumpamakan seperti mengendarai mobil tidak langsung dari gigi satu ke gigi tiga “bisa rontok”, katanya sambil bergurau.

Memberikan kesannya setelah mengikuti delegasi pemerintah RI ke Timor Timur Domo Pranoto menilai kota Dili sekarang sama keadaannya dengan 20 tahun lalu.
Dibandingkan dengan Kupang, saya hampir tidak mengenalnya lagi karena pembangunan yang pesat, kata Domo Pranoto yang pernah tinggal di Nusa Tenggara pada tahun 1953 sampai dengan 1960 dan sudah dua kali ke Dili.

Satu-satunya kemajuan pembangunan, menurut pengamatan Domo Pranoto ialah pelabuhan Dili yang sekarang sudah di beton.
Ketika diminta penilaiannya tentang spontanitas rakyat yang menyatakan keinginannya untuk bergabung dengan Indonesia, Domo Pranoto menyatakan kepuasannya “karena apa yang saya lihat ternyata sesuai dengan apa yang saya gambarkan”.

Nemun demikian ketika berdialog dengan rakyat Ermera dalam suatu rapat umum pada kunjungan delegasi, Domo Pranoto mengingatkan rakyat setempat untuk tidak lama-lama bersenang karena bertemu “tapi mari kita bekerja bersama-sama untuk melaksanakan pembangunan guna mengejar ketinggalan”.

Anak-anak yatim piatu korban kerusuhan harus cepat dididik untuk menjadi manusia Indonesia yang perkasa, kata Domo Pranoto.

Mengenai prioritas pembangunan yang harus dilakukan di Timor Timur setelah bergabung, menurut Domo Pranoto terutama di bidang pendidikan menyangkut soal bahasa serta untuk menanamkan pengertian dan cara hidup menurut alan hukum Indonesia.

Prioritas kedua ialah pembangunan di bidang prasarana, sedangkan melihat keadaan daerah yang tandus itu Domo Pranoto menyarankan agar peternakan harus lebih diutamakan pengembangannya dari pada pertanian.

Menurut seorang warganegara Amerika Serikat yang pernah berkunjung ke NTT, keadaan daerah Timor untuk fasilitas peternakan labih baik dibanding Texas karena di Timor, air dapat dicapai pada kedalaman 40 meter sedang di Texas harus 200 meter.

Domo Pranoto dalam mengikuti delegasi ke Timor Timur itu memimpin kelompok II yang mengunjungi Balibo dan Ermeta. (SH/Ant)