Pemberdayaan Jadi Fokus Kemensos Menangani Fakir Miskin

Pemberdayaan Jadi Fokus Kemensos Menangani Fakir Miskin

Kementerian Sosial (Kemensos) fokus pada pemberdayaan masyarakat dalam penanganan fakir miskin (Ist)

SHNet, Jakarta- Kementerian Sosial (Kemensos) dalam menangani fakir miskin lebih menekankan pada pemberdayaan masyarakat.

Menurut Dirjen Penanganan Fakir Miskin Kementerian Sosial Andi ZA Dulung, keberhasilan menurunkan angka kemiskinan tak lepas dari program yang diterapkan pemerintah .

“Fokus bantuan yang diberikan ditekankan pada pemberdayaan. Sesuai arahan Bapak Presiden, di sisa waktu 1,5 tahun ini, kita menginginkan penekanan pada pemberdayaan masyarakat,” ujarnya.

Ia mengatakan, pemberdayaan masyarakat tak lepas dari tugas utama para pendamping sosial. Para pendamping sosial tersebut bertugas memberikan motivasi kepada masyarakat khususnya Keluarga Penerima Manfaat (KPM) agar mereka bisa mandiri

“Pendamping sosial ini memiliki tiga peran dan tugas yakni fasilitator, mediator dan edukator,” kata Andi Dulung.

Dia menjelaskan, sebagai fasilitator, para pendamping berperan memfasilitasi penerima bantuan untuk meningkatkan kapasitas dan kepercayaan dirinya. Proses fasilitasi ini dimaksudkan untuk membantu memahami persoalan dan dinamika kehidupan keluarga fakir miskin dan pengembangan pengelola usaha yang dilakukan.

Pendamping juga berperan sebagai mediator yang melakukan mediasi dengan mitra kerja atau pihak lain bilamana terjadi suatu konflik antar sesama penerima bantuan maupun dengan mitra kerja.

Selain itu, pendamping berperan sebagai edukator yang memberikan bimbingan dan arahan kepada penerima bantuan terkait penanganan usaha, pengelola usaha, pengembangan kapasitas dan pelaporan.

Kementerian Sosial pada Mei 2018 bekerjasama dengan Microsave Indonesia selaku Mitra Kerja Bill and Melinda Gates Foundation untuk mendukung program inklusi keuangan, di 2017.

Berdasarkan hasil assessment dilakukan MicroSave Indonesia terhadap subsidi pemerintah, menggunakan sampel sebanyak 2,355 jiwa, 585 jiwa merupakan agen e-warong dan 1790 orang adalah KPM.

Tingkat kebahagian berdasarkan survei yang dilaksanakan pada 13 provinsi dan 43 kota serta dua pulau, KPM merasa puas dengan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) dengan alasan kualitas pangan yang lebih baik. Selain itu mudah melakukan transaksi serta dekatnya e-warong dengan rumah tempat tinggal.(Stevani Elisabeth)