Kritik Yang Sehat Tetap Diperlukan

Presiden Soeharto Mengingatkan :

Kritik Yang Sehat Tetap Diperlukan

Bandung, 6 Juni 1974 – Tidak boleh dilupakan bahwa pers nasional kita adalah kekuatan perjuangan yang harus tampil ke depan sebagai kekuatan yang terpokok Pancasila dan UUD 45 yang harus mampu menjadi penunjuk arah dan memberi gairah kepada bangsanya yang sedang membangun.

Hal ini dikemukakan oleh Presiden Soeharto dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Menteri Kesra Prof. Sunawar Sukowati pada pembukaan Kongres Serikat Penerbit Surat Kabar (SPS) ke XV di Gedung Merdeka Bandung Rabu pagi.

Pada awal sambutannya Presiden mengatakan bahwa pelaksanaan Repelita II sebagai usaha nyata untuk makin mendekatkan kita semua kepada terwujudnya masyarakat yang kita cita-citakan bersama, yaitu masyarakat Indonesia berdasarkan Pancasila yang menjamin kemajuan memberi kesejahteraan dan meratakan keadilan sosial bagi kita semua.

Kemauan rakyat
Dalam mengusahakan tercapainya sasaran pembangunan itu, bukan hanya tercapainya tujuan pembangunan yang harus kita perhatikan, melainkan sama pentingnya pula harus kita perhatikan cara bagaimana bisa kita mencapai tujuan itu.

Di sini menyangkut usaha untuk mengembangkan kekuatan pembangunan berupa kemauan rakyat, keterlibatan rakyat dan tanggung jawab rakyat sendiri dalam seluruh proses pembangunan itu. Ini tidak dapat lain karena hakekat pembangunan nasional adalah usaha bersama dari seluruh rakyat untuk memperbaiki kehidupan seluruh rakyat itu sendiri, demikian Presiden Soeharto menegaskan.

Untuk memelihara dan memperluas keterlibatan seluruh lapisan rakyat dalam pembangunan nasional itu besarlah peranan pers nasional yang sehat ialah pers yang bebas dan bertanggung jawab.

Kebebasan dan tanggung jawab itu merupakan dua hal pokok yang tidak boleh terpisahkan bagi pers dalam pembangunan, malahan juga bagi masyarakat kita yang membangun, demikian Presiden.

Kreatifitas
Presiden Soeharto selanjutnya mengatakan bahwa pembangunan jelas memerlukan kreatifitas ialah kemampuan untuk menemukan hal baru dan pemikiran baru untuk tetap membuat pembangunan bergerak maju ke depan mendekati cita-cita jangka panjang bangsa kita.

Tanpa kebebasan, kreatifitas tidak akan berani muncul dan tanpa kreatifitas pembangunan akan mandek dan masyarakat pun akan macet. Persoalan pokoknya adalah kebebasan yang bagaimana yang perlu kita kembangkan dan kearah mana kebebasan itu kita tujukan.

Jawabannya telah saya singgung tadi ialah kebebasan untuk melahirkan kreatifitas dengan tujuan untuk menjamin kelancaran pembangunan dan keselamatan bangsa.
“Bukan kebebasan hanya untuk kebebasan”, kata Presiden. Kebebasan yang demikian jelas tidak cocok untuk pembangunan kita dan tidak sesuai dengan Pancasila, demikian Presiden Soeharto.

Oleh karena itu, kata Presiden, kebebasan yang mendorong lahirnya kreatifitas tadi harus senantiasa dibarengi dengan rasa tanggung jawab demi keselamatan dan keutuhan bangsa kita, demi kelancaran pembangunan , demi terpeliharanya nilai luhur Pancasila yang akan menjamin kebahagian yang utuh bagi bangsa kita. (Sinar Harapan)