Kogar Securindo: Mewujudnyatakan Kampanye UMKM Naik Kelas

Kogar Securindo: Mewujudnyatakan Kampanye UMKM Naik Kelas

Sumarmin

SHNet, JAKARTA – Sudah hampir 35 tahun Sumarmin menjadi pedagang keliling di Kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Ia hafal betul segala sisi dan perkembangan kawasan tersebut. Mengingat dengan baik, siapa saja yang menjadi Ketua RT dan RW di sekitarnya serta peran masing-masing dalam menata pedagang keliling.

Di kawasan itu, ia hanya berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lain di sekitar Blok M Mall, Blok M Sqare dan Blok M Plaza. Berkali-kali mengalami pengusiran dan penggusuran. Bukan karena ia tak mampu menyewa tempat untuk menjajakan barang dagangannya. Namun, penggusuran lebih karena ketidakpastian aturan yang berlaku dari Pemda DKI Jakarta.

“Sebelum ke Jakarta, saya jualan rujak di Surabaya (Jawa Timur). Lalu saya ke Jakarta, jualan mie ayam, ikut kakak saya,” kenang pria kelahiran 51 tahun lalu di Wonosari, Semin, Gunung Kidul itu.

Amin, begitu sapaan akrabnya. Tak pernah merasa jenuh dan lelah melakukan pekerjaan sebagai pedagang keliling. Semangatnya selalu menyala. Tangannya lincah meracik bumbu masakan yang diinginkan. Menjadi pedagang semenjak masih usia muda, membuatnya paham dan memaknai dengan sungguh arti keramahan dalam melayani pembeli.

“Kalau saya tidak ramah, kurang gaul, siapa yang mau dekat-dekat untuk beli. Namanya kita jualan, harus ramah dan sopan,” katanya. Amin yang dijumpai SHNet beberapa waktu lalu mengambil bagian dalam bazar yang diselenggarakan Kogar Securindo di halaman parkir Blok M Mall, Jakarta Selatan selama Bulan Ramadhan.

Di situ, ia menjual beberapa jenis bakso, mie ayam, nasi goreng dan pecel ayam. “Saya senang dengan adanya bazar ini. Banyak membantu saya,” ujarnya.

Kendala Tempat Usaha

Amin menceritakan dirinya pernah membeli sebidang tempat berukuran 3x3m di kawasan Blok M tahun 2004 lalu dengan harga Rp 15 juta. Beberapa tahun ia menikmati keuntungan dari penjualan di tempat itu. “Saya masih pegang sertifikat hak milik yang berikan ke saya. Saya baca baik-baik bunyinya. Hak milik!” tegasnya. Bukti pemasangan dan pembayaran listrik, air setiap bulan juga masih dipegangnya.

Namun, ia tak menyangka kalau pada era kepemimpinan Gubernur Fauzi Bowo, semua sertifikat itu tak memiliki makna apapun.  Bersama puluhan pedangan lainnya, bangunan tempat Amin berjualan dibuldozer dengan belasan alat berat tanpa diberi hak ganti rugi satu rupiahpun.

“Saat itu kami terkepung di tengah. Depan belakang ada alat berat dengan pasukan pengaman. Tidak ada pilihan. Istri saya putuskan pulang kampung. Hancur hati saya. Kami istirahat sebentar di kampung sambil berpikir harus cari hidup ke mana lagi,” kenangnya.

Hanya Amin adalah petarung dan petualang sejati. Tidak pernah terbesit dalam benah ayah beranak tiga tersebut untuk putus asa. Ia merasa bahwa menjadi pedagang keliling adalah jalannya untuk berusaha. Mencoba ke kawasan Bandara Polonia, Medan, Sumatera Utara. Bahkan ke salah satu daerah pertambangan di Kalimantan Selatan. Namun, akhirnya ia kembali ke kawasan Blok M kembali menjadi pedagang yang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.

“Itu saja kendala saya menjadi pedagang. Tidak ada lahan buat saya jualan,” keluhnya. Tapi dengan begitu, ia merasa beruntung juga karena bisa terus bertemu dengan pembeli baru tiap hari saat berkeliling. Ada baik dan buruknya. Capek jalan!

Sebagai pedagang makanan, Amin tak pernah merasa sepi pembeli. Seumur ia menjadi penjual, belum pernah ada yang mengeluh barang jualannya terlalu mahal. Karena itu, menurutnya, keluhan politikus soal sulitnya membeli makan saat ini tak masuk akal. “Masa “orang atas” ngeluhnya begitu. Mungkin karena saya jualan makanan, kan semua orang butuh makanan. Tapi nggak ada tuh mengeluh mahal beli makan,” katanya.

Selain masalah tempat berjualan, kendala yang dihadapi Sumarmin adalah persaingan dengan penjualan makanan online. Sekarang orang hanya memencet tombol handphone untuk membeli makanan. Sementara pedagang keliling belum yang bisa dijangkau dengan sistem go food atau sistem online lainnya.

Kolaborasi

Ketua Umum Kogar Securindo, Resna Oktaviana, mengatakan kesulitan pedagang keliling itulah yang coba dijembataninya.  Kogar Securindo mencoba mewujudkan kampanye pedagang kecil bisa naik kelas ke pedagang menengah. Caranya? “Kita melakukan pembinaan, pelatihan dan buka jaringan,” kata Resna Oktaviana.

Ketiga hal itu tak bisa dengan berteori, tetapi harus dengan praktek. Sambil berpraktek, teori menjual bisa disampaikan dan dilaksanakan. Konkrit. Menurutnya, banyak jenis makanan yang dijual oleh pedagang kecil memiliki citra rasa yang bagus atau bahkan jauh lebih bagus dibandingkan dengan yang dijual di restoran kelas menengah ke atas. Hanya saja, karena mereka pedagang keliling, orang tak tertarik untuk membeli.

Orang tak ingin mengambil resiko setelah makan, lalu sakit perut. Ada banyak kecurigaan dan ketakutan terhadap pedagang keliling karena faktor kebersihan. “Pembeli kan ingin ingin menikmati makanan dengan suasana yang baik, santai dan lingkungan yang bersih,” katanya. Selain itu, tampilan makanan yang dijual sangat mempengaruhi minat pembeli. Banyak pedagang kecil yang kurang memperhatikan keinginan konsumen. Bagi dia yang penting jualannya hari ini laku dan tak berpikir untuk membuat pembeli mencarinya lagi esok hari.

“Nah, di situlah peran Kogar Securindo. Kita fasilitasi dengan kegiataan bazar. Kita mencoba bangun kemitraan dengan yang punya lahan agar mereka bisa sama-sama berupaya, supaya usahanya bisa naik kelas,” kata Resna Oktaviana. Memberdayakan usaha kecil jangan hanya kampanye, tetapi mutlak adalah praktek. (IJ)