Kemenpar Bangun Rumah Desa di Ulun Danu Beratan

Kemenpar Bangun Rumah Desa di Ulun Danu Beratan

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bangun homepod berupa rumah desa di Ulun Danu Beratan, Tabanan, Bali. (Dok. Humas Kemenpar)

SHNet, Tabanan- Indonesia terdiri atas 17.000 pulau, dengan 75.000 desa, dan ratusan destinasi indah. Kalau harus membangun hotel konvensional perlu waktu yang sangat lama, pembangunan homestay pun masih kurang cepat. Karena itulah, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong pelaku industri pariwisata untuk mengembangkan produk wisata nomadic tourism berupa glam camp atau homepod dan memasarkannya.

Untuk mendukung event Ulun Danu Beratan Art Festival IV 2018, di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, Minggu (24/6), Kemenpar mempromosikan homepod atau rumah desa.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata, I Gde Pitana menjelaskan, rumah desa yang dibangun dekat Danau Beratan ini bentuknya seperti telur. Menggunakan material bambu, rumah desa diharapkan dapat mendekatkan wisatawan dengan alam. Rumah ini terdiri dari dua lantai yang cocok ditempati satu keluarga.

“Pembangunan homestay rumah desa ini didanai oleh Kementerian Pariwisata sebagai percontohan. Untuk satu unit biayanya Rp 150 juta sudah termasuk genset. Ini tidak mahal untuk nomadic tourism,” ujar Pitana.

Ia menambahkan, Kementerian Pariwisata, yang mendukung penuh event Ulun Danu Beratan Art Festival IV 2018 ini, ingin lebih mengenalkan desa wisata dan objek wisata yang ada di Indonesia, salah satunya di Tabanan, Bali.

Ulun Danu Beratan menjadi lokasi kedua yang dipilih untuk membangun rumah desa ini, setelah sebelumnya Kemenpar telah lebih dulu meresmikan homepod di Danau Toba.

“Maka dari itu, kami dirikan sebuah homestay dengan format bangunan yang ramah lingkungan. Bentuknya sederhana layaknya di desa sehingga homestay ini disebut Rumah Desa yang bisa dibongkar pasang,” ungkap Pitana.

Sementara itu, Bupati Tabanan, Ni Putu Eka Wiryastuti, berharap homepod ini bisa menjadi inspirasi bagi industri pariwisata. Menurutnya, amenitas dalam bentuk homepod ini sangat cocok dengan karakter destinasi yang ada di Tabanan.

“Kami senang sekali Ulun Danu Beratan dibangun homepod rumah telur ini. Kami juga berencana akan membangun lagi di beberapa lokasi di Tabanan,” ungkapnya.

Eka juga menambahkan pembangunan homepod tersebut selain dijadikan sebagai sarana promosi, juga sebagai wujud memperkenalkan Ulun Danu yang memiliki 20 desa adat.

“Tabanan sudah memiliki 16 Desa Wisata, dan masih ada 41 desa yang masih dikembangkan,. Dengan adanya hompode ini saya harap masyarakat tertarik untuk menjadikan rumah mereka menjadi homestay bagi para wisatawan,” kata Eka.

Pada perayaan Ulun Danu Beratan Art Festival IV 2018 ini, pihaknya berharap dapat mendatangkan hingga 1,5 juta pengunjung. Terlebih karena ada beberapa hal yang berbeda yakni diisi dengan parade Gebogan Bunga khas kawasan Candikuning, penampilan tarian maskot Ulun Danu Beratan yakni Kecak Ulun Danu Beratan yang hanya dipentaskan pada event-event tertentu.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menegaskan, mulai 2018 ini Kemenpar secara serius akan mengembangkan nomadic tourism, karena karakteristiknya yang bisa dipindah-pindah atau tidak permanen. “Maka konsep nomadic tourism ini sangat cocok dikembangkan di daerah-daerah yang belum tersedia akomodasinya seperti hotel atau pun homestay, ” kata Menpar Arief.

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mulai gencar menerapkan konsep Nomadic Tourism untuk mendongkrak jumlah amenitas pariwisata, sekaligus mengimbangi pertumbuhan kunjungan wisatawan. Salah satu pengembangannya adalah melalui pembangunan amenitas (akomodasi) yang sifatnya bisa dipindah-pindah, yaitu homepod. (Stevani Elisabeth)