Indonesia Picu Ketegangan Baru Konflik Israel dan Palestina

Indonesia Picu Ketegangan Baru Konflik Israel dan Palestina

Ist

SHNet, JAKARTA – Pengamat politik di Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, Tobias Ranggie, menilai, Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), telah memicu ketegangan baru, karena bersikap tidak netral dalam melihat akar permasalahan konflik perebutan wilayan antara Israel dan Palestina di Timur Tengah.

“Sikap tidak netral, melanggar konsep kebijakan politik luar negeri bebas aktif dan tidak memihak kepada salah satu kelompok yang bertikai. Indonesia sudah terlalu jauh langkah langkah di Timur Tengah,” ujar Tobias Ranggie di Pontianak, Jumat malam (1/6).

Tobias mengatakan hal itu, menanggapi keputusan politik Israel melarang pemegang paspor Indonesia berkunjung ke Israel, baik untuk keperluan ziarah ke tempat suci dan tujuan wisata, terhitung Sabtu, 9 Juni 2018.

“Israel telah berupaya mengubah keputusan Indonesia. Namun langkah yang kami lakukan tampaknya gagal. Hal itu mendorong kami melakukan tindakan balasan,” tutur juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Emmanuel Nahshon kepada Middle East Monitor, Rabu, 30 Mei 2018.

Keputusan Pemerintah Israel, sebagai aksi balasan terhadap larangan Pemerintah Indonesia bagi pemegang paspor Indonesia berkunjung ke Indonesia, dalam berbagai hal. “Tentang 53 orang warga negara Israel yang ditolak visanya pertengahan Mei 2018, itu benar. Itu adalah hasil keputusan clearing house yang kita lakukan. Alasannya itu tidak dapat kami sampaikan. Ini masalahnya sensitif,” ujar Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia, Yasonna H Laoly di Kantor Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Jalan Pejambon, Jakarta Pusat, Jumat (1/6).

Yasonna mengatakan visa yang ditolak atau diterima adalah kewenangan negara. Apalagi terkait Israel, Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan negara tersebut. “Masing-masing negara mempunyai kewenangan dan merupakan kedaulatan negara tersebut untuk menerima visa atau menolak visa negara lain,” kata Yasonna.

Tobias mengatakan, sepertinya Indonesia gagal paham mencermati konflik Israel dan Palestina. Pemerintah Indonesia, kesannya terhanyut terlalu jauh atas informasi yang salah, karena ada masalah konflik agama, tapi persoalan Israel dan Palestina, tidak lebih dari konflik perebutan wilayah. Tobias mengingatkan Pemerintah untuk bersikap jernih, di dalam melihat konflik Israel dan Palestina. (Aju)