Dua Koran Swiss Berpendapat Plebisit Tak Perlu Di Timtim

Dua Koran Swiss Berpendapat Plebisit Tak Perlu Di Timtim

Jakarta, 16 Juni 1976 – Dua koran Swiss “Der Bund” dan “Neue Zurcher Zeitung” dalam tulisannya beberapa hari yang lalu menganggap tidak perlu diadakan plebisit lagi bagi penduduk Timor Timur, demikian dikawatkan dari Bern oleh Kedubes Indonesia di sana baru-baru ini.

“Der Bund” dalam tulisannya berjudul “Tidak usah diadakan plebisit lagi” mengatakan suatu perwakilan rakyat yang telah dibentuk dan dekrit PSTT telah memutuskan untuk memohon kepada Jakarta pernyataan daerah ini dengan Indonesia.

Dewan Keamanan PBB telah 2 kali menuntut kepada Indonesia untuk menarik kembali tentaranya dari bekas jajahan Portugis di Timor Timur dan wakil istimewa PBB Gulicciladi mengusulkan untuk menyelesaikan perwakilan Timor Timur melalui plebisit.

Harian ini menulis selanjutnya, tidaklah dapat dimengerti seorang diplomat yang sudah melihat sendiri keadaannya sungguhpun hanya beberapa hari disekeliling ibukota Dili dengan seriusnya masih merasa adanya kegunaan suatu plebisit bagi penduduk Timor Timur.

Demikian pula bagi yang masih menuntut ditariknya kembali tentara Indonesia walaupun diketahuinya akan mengobarkan kembali perang saudara yang dapat mengakibatkan kekacauan dan anarki.

Dengan usul yang utopis ini PBB telah mendiskwalifisir dirinya sendiri sebagai suatu lembaga internasional dalam memecahkan persoalan dunia, demikian harian tersebut.

Sementara itu, koran Neuezurcher Zeitung menurunkan artikel berjudul “Soal Timor Timur telah selesai” surat kabar ini mengatakan bahwa perwakilan rakyat dari bekas jajahan Portugis Timor Timur dengan surat kabar telah memutuskan untuk memajukan permohonan kepada Jakarta agar daerah itu disatukan dengan Indonesia, dengan demikian persoalan daerah yang sampai sekarang belum termasuk ke dalam bagian negara kepulauan ini dalam garis besarnya telah dapat diselesaikan.

Hanya mungkin dan tidak dipenuhinya resolusi PBB dan tidak diadakannya plebisit akan menjadikan perdebatan lagi di Istana Gelas di East Tiver ini, yang akan mengakibatkan tidak diakuinya status baru dari daerah itu oleh Portugis.

Dikatakan bahwa sejak ditumpanya gerakan kup komunis 30 September dan dengan turunnya Soekarno dari pemerintah Indonesia tidak lagi menganut petualangan politik ekspansionistis apalagi dengan pengambilan alih kekuasaan oleh komunis di Indocina tidak dapat menerima adanya suatu “Cuba” dibelakang pintu rumahnya.

Karena itu pula soal Timor Timur bagi Indonesia merupakan suatu problem keamanan yang hanya dapat diatasi dengan menumpas kemungkinan adanya tempat bagi subversi komunis di sana, demikian Neue Zurcher Zeitung (SH/KNI)