Umat Beragama Di Indonesia Jangan Mencari Dan Peruncing Perbedaan Keyakinan Beragama

Presiden Soeharto Serukan :

Umat Beragama Di Indonesia Jangan Mencari Dan Peruncing Perbedaan Keyakinan Beragama

Jakarta, 19 Mei 1970 – Presiden Soeharto berseru kepada seluruh umat beragama di Indonesia agar jangan mencari perbedaan, lebih-lebih jangan memperuncing perbedaan karena adanya perbedaan keyakinan agama diantara bangsa Indonesia tidak merupakan halangan bagi kita semua untuk tetap bersatu sebagai bangsa.

Dalam amanatnya pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Istana Negara Senin malam, oleh Kepala Negara dimintakan agar umat Islam jangan berkelompok sendiri-sendiri atau terpecah-pecah di dalamnya, demikian pula dengan umat Kristen/Khatolik dan umat Hindu/Budha.

Umat Islam harus bersatu, setiap umat beragama harus bersatu dan seluruh bangsa Indonesia harus bersatu, demikian Presiden.
Peringatan Maulid nabi ini dihadiri oleh sejumlah Menteri Kabinet Pembangunan, korp diplomatik dari negara Islam serta kaum muslimin dan muslimat di Ibukota.

Toleransi beragama
Berbicara mengenai toleransi antara umat beragama oleh Presiden Soeharto ditegaskan bahwa toleransi ini tidak berarti ajaran agama kita masing-masing menjadi campur aduk.
Toleransi diantara umat beragama berarti saling menghargai dan menghormati keyakinan dan ibadah agama masing-masing.

Sebaliknya, demikian Presiden, kita wajib menjalankan ajaran agama kita dengan penuh kesungguhan dan kejujuran.
Selanjutnya dikatakan, bahwa hidup bermasyarakat yang saling harga-menghargai itu bukan saja harus kita wujudkan antara umat berbeda agamanya, melainkan antara semua golongan dalam masyarakat.

Kita telah memiliki landasan yang kuat dan adil untuk menampung segala kepentingan, aspirasi dan tata pergaulan hidup kita, yaitu Pancasila. Marilah kita wujudkan Pancasila dalam segala segi kehidupan kita sehari-hari, baik sebagai pribadi maupun dalam ikatan bangsa.

Dalam hal ini Presiden menegaskan bahwa dalam masyarakat berdasarkan Pancasila itu, peranan agama jelas besar. Setiap umat beragama diakui sepenuh haknya yang mutlak untuk memeluk agama keyakinannya dan menjalankan ibadahnya. Sebaliknya, jika setiap umat beragama benar-benar melaksanakan kemurnian ajaran agamanya maka masyarakat yang berdasarkan Pancasila itu akan bertambah kuat. (Ant)