Ulah JAD Afiliasi ISIS di Balik Lima Polisi Tewas

Ulah JAD Afiliasi ISIS di Balik Lima Polisi Tewas

Ilustrasi / ist

SHNet, JAKARTA – Jaringan teroris Jamaah Ansharut Daulah atau JAD, pimpinan Aman Abdurrahman, terafiliasi dengan Islamic State in Iraq and Syria atau ISIS, patut diduga aktor kerusuhan di Rumah Tahanan Markas Komando Brigade Mobil atau Brimob, Kelapa Dua, Depok, Provinsi Jawa Barat, mengakibatkan, lima anggota Polri gugur, dan 1 dari tersangka teroris tewas, 8 – 9 Mei 2018.

Jamaah Ansharut Daullah atau JAD, merupakan jaringan teroris paling aktif di Indonesia. Salah satu markasnya di Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, hingga Negara Bagian Sabah, Federasi Malaysia, berkolaborasi dengan jarigan teroris bernama Daesh, dan memiliki hubungan dengan teroris global Marawi di Filipina Selatan.

Kerusuhan bermula dari hal sepele. Para tahanan teroris tidak terima suplai makanan yang dikirim dari keluarga diperiksa petugas terlebih dahulu. Tapi kemudian tiba-tiba, mereka bersikeras ingin bertemu, Aman Abdurrahman, salah satu pentolan teroris Jamaah Ansharut Daullah yang kebetulan, turut ditahan di Rutan Brimob Polri, Jakart

Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polisi Republik Indonesia, Inspektur Jenderal Polisi Setyo Wasisto, mengakui, memang ada tuntutan para narapidana untuk bertemu dengan Aman Abdurrahman atau Oman Abdurahman, dan sekarang masih ditelusuri. Ada 155 narapidana tindak pidana terorisme di Markas Komando Brimob, Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat.

Lantaran polisi tidak mengabulkan permintaan, maka terjadilah kerusuhan, sehingga menewaskan lima anggota polisi. Anggota polisi tewas, oleh senjatanya sendiri yang sebelumnya, direbut para perusuh dari kalangan narapidana tindak pidana terorisme.

Identitas lima anggota polisi yang gugur dalam tugas, yaitu Bripda Syukron Fadhli, Ipda Yudi Rospuji, Briptu Fandy, Bripka Denny, Bripda Wahyu Catur Pamungkas

Tahanan teroris yang tewas, yaitu Abu Ibrahim alias Beny Syamsu, narapidana terorisme di Pekanbaru, Provinsi Riau, dan narapidana teroris lainnya yang sempat berhasil dilumpuhkan, belum dapat dikonfirmasi keberadaannya.

Bicara jaringan teroris Jamaah Ansharut Daullah atau JAD, mengingatkan kita akan pelemparan bom molotov di Samarinda, menewaskan seorang anak berusia tiga tahun, Intan Marbun, pada Minggu, 13 Nopember 2016.

Pelakunya adalah anggota JAD, yakni Mohammad Aceng Kurnia alias Juanda alias Johanda berusia 32 tahun.

 

Mohamad Aceng Kurnia, melakukan pelemparan bom molotov, di halaman Gereja Kristen Oikumenen Huria Kristen Batak Protestan atau HKBP, Jalan Cipto Mangunkusumo Nomor 32, RT 03, Kelurahan Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda Seberang, Kalimantan Timur, Minggu, 13 November 2016.

 

Mirisnya, Mohammad Aceng Kurnia, salah satu pengurus Masjid Mujahidin yang lokasinya berhadapan langsung dengan Gereja Kristen Oikumene HKBP di Samarinda. Semua pengurus Masjid Mujahidin, baru diketahui merupakan warga pendatang dan berstatus anggota JAD.

Terois Aman Abdurahman, lahir pada 1972 di Sumedang, Jawa Barat. Aman divonis 9 tahun penjara pada 2010 oleh PN Jakarta Barat karena terlibat pelatihan militer di Aceh. Dia dijebloskan ke Lapas Nusakambangan.

Pada saat menjalani hukuman itu, Aman alias Oman membentuk Jamaah Ansharut Daulah atau JAD, sebagai wadah untuk mendukung khilafah Islamiyah untuk menggantikan ideologi Pancasila di Indonesia. Aman Abdurahman alias Oman Abdurahman, kemudian mengklaim JAD,  bersinergi dan atau bagian yang tidak terpisahkan, dengan jaringan teroris Timur Tengah, yaitu ISIS yang dibentuk tahun 2003.
Menjelang hari kebebasannya pada Minggu, 13 Agustus 2017, aman kembali ditangkap aparat, karena diduga terlibat pada peristiwa pengeboman di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Kamis, 14 Januari 2016.

Aman Abdurahman, dipindahkan dari Nusakambangan ke Markas Komando Brimob, Depok, Jawa Barat, pada 15 Februari 2016, untuk menjalani sidang perdana kasus Bom Thamrin. Aman Abdurahman,  didakwa mempengaruhi orang untuk melakukan aksi pengeboman di Jalan MH Thamrin, Jakarta. (Aju)