Suka-Duka Atlet Jadi Supir Taksi Hingga Nikmati Fulus dari Pemerintah

Suka-Duka Atlet Jadi Supir Taksi Hingga Nikmati Fulus dari Pemerintah

PENGHARGAAN - Marina Martin (kiri, pencak silat) bersama Albert Papilaya (tinju) usai menerima penghargaan sebagai mantan atlet berprestasi di kancah internasional, di Kemenpora, Senayan, Senin (14/5) malam. (SHNet/Nonnie Rering)

SHNet, JAKARTA – Marina Martin tak pernah menyangka kalau satu-satunya medali emas yang pernah ia persembahkan bagi Indonesia di Kejuaraan Pencak Silat Tingkat ASEAN di Singapura pada 1980 akan membawa banyak hal bagi dirinya.

 Tapi, apa pun itu, Marina yang keturunan Jerman dari ayahnya, Almarhum Martin Sagedi dan Jawa dari ibundanya, Soekartiyem Naomi Anna ini, tetap bersyukur dengan pilihan hidupnya menjadi seorang atlet ketika itu.

Tak pernah disangka pula, setelah 38 tahun mengharumkan Indonesia di kancah Internasional, prestasinya masih dikenang dan berwujud penghargaan sebagai atlet legenda dari PT Pegadaian (Persero) yang bekerja sama dengan Kementrian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Senin (14/5) malam, Marina dan sembilan atlet legenda lain menerima penghargaan sebagai mantan atlet berprestasi yang pernah mengharumkan Indonesia di kancah Internasional. Ia dan kesembilan atlet lainnya pun menerima hadiah uang senilai masing-masing Rp. 15.000.000,- yang diserahkan langsung Menpora Imam Nahrawi dan Dirut PT Pegadaian, Sunarso.

 Artinya, wanita kelahiran 7 Mei 1964 ini sudah merasakan suka dukanya menjadi seorang atlet nasional. Usai meraih medali emas di Singapura pada 1980, selanjutnya Marina tak lagi berkarir sebagai atlet lantaran ia menikah dan harus mengurus anak. Tapi, ia pun sempat mengenyam hasil dengan mendapat tabungan supersemar selama setahun sepulangnya dari Singapura.

“Saya menerima uang supersemar Rp. 165.000,- per-bulan selama setahun. Nilai itu sangat lumayan di tahun 1980,” ujar Marina kepada SHNet, Senin (14/5) malam.

 Setelah itu, banyak persoalan hidup mulai mendera sehingga ia akhirnya harus menjadi seorang supir taksi selama tujuh tahun. Beruntung lagi, ada bantuan dari Jasa Marga kepada atlet legenda dengan nilai uang Rp. 50 juta sehingga ia mampu untuk bangkit lagi sekaligus membantu biaya kuliah dan sekolah empat orang anaknya.

Dari hasil tujuh tahun menjadi supir taksi, Marina kini sudah mampu membeli sebuah mobil yang kini dipakainya sehari-hari menjadi taksi online.

 “Puji Tuhan ketiga anak saya sudah menikah dan bekerja, kini tinggal membiayai seorang anak laki-laki yang masih duduk di bangku SMP. Syukur dapat uang penghargaan lagi dari PT Pegadaian (Persero) dan Menpora malam ini membuat saya selalu bangga pernah menjadi seorang atlet,” tutur Marina bahagia.  (Nonnie Rering)