Seni Merayu Kemenyan, si Perempuan Cantik dari Pakpak Bharat

Seni Merayu Kemenyan, si Perempuan Cantik dari Pakpak Bharat

Hutan di sekitar air terjun Lae Simbilulu, Pakpak Bharat. (Foto: Inno/SHNet)

SHNet, SALAK – Tahukah Anda bahwa ketika Anda menghargai dan menghormati hutan, ia akan lebih menghargai dan menghormati Anda. Hutan akan memberi yang terbaik dari segala yang dipunyainya kepada Anda tanpa banyak menuntut balasan.

Sebaliknya ketika Anda tidak menghargai dan menghormatinya, hutan akan beraksi dengan bahasa dan caranya sendiri, yang tentu tidak mudah dimengerti oleh manusia, tetapi sangat terasa dampaknya. Mungkin Anda sudah menonton film Dark Was the Night. Film yang disutradarai Jack Heller itu menceritakan adanya mahluk misterius keluar dari hutan setelah warga melakukan pembalakan liar besar-besaran.

Para ilmuwan bisa saja merumuskan berbagai macam teori dari berbagai kajian mengapa bumi makin panas, gelombang laut makin tinggi, musim hujan tidak menentu, banjir dan longsor terjadi di mana-mana, binatang buas masuk ke pemukiman warga dan memangsai apa dan siapa saja yang dijumpainya dan sebagainya.

Bagi masyarakat yang sehari-hari menggantungkan hidup dari hasil hutan, cara menghargai dan menghormati hutan adalah jawabannya. Semakin mampu hidup selaras, menyatu dengan hutan, keseimbangan kehidupan makin terjaga. Hidup selaras, menyatu dengan hutan berarti menjaga kelestariannya, tidak menebang pohon sembarangan, tidak mengganggu binatang yang hidup di dalamnya. Semua dibiarkan berada dalam porsi dan peran masing-masing.

Sebaliknya ketika hidup tak selaras dengan lingkungan hutan, marabahaya bisa datang kapan saja. Ancaman menjadi lebih terbuka. Tidak ada ruang untuk tidak waspada. Hanya mau mengatakan bahwa saling memahami dan mengerti tidak hanya terjadi terhadap sesama manusia, tetapi juga terhadap alam, lingkungan sekitar, termasuk ekosistem hutan.

87 Persen Hutan

Suku Pakpak di Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara (Sumut) adalah salah satu dari bermacam-macam suku di Indonesia yang banyak menggantungkan hidupnya pada hasil hutan. Ia adalah salah satu sub-Suku Batak. Bharat dalam Bahasa Pakpak berarti pusat, utama. Menurut Sekretaris Daerah (Sekda) Pemda Pakpak Bharat, Sahat Banurea, selain di Pakpak Bharat, suku pakpak tersebar di Kabupaten Dairi (kabupaten induk dari Pakpak Bharat), Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kabupaten Aceh Singkil, Propinsi Aceh.

“Karena dulu pada saat penjajahan Belanda dipecah-pecah. Jadi terpencar. Namun, semua masih saling terkait, sekalipun yang di tempat lain banyak yang tidak gunakan marga pakpak lagi. Jadi, berkurang jumlahnya di tempat lain,” kata Sahat Banurea di Salak, Pakpak Bharat, ketika menerima Kelompok Nduma Pakpak dari Executive Program fo Sustainable Partership (EPSP) Batch 7, Universitas Paramadina beberapa waktu lalu. EPSP adalah kerja kemitraan antara CCPHI (Company-Community Partnerships for Health Indonesia), Ford Foundation dan Universitas Paramadina.

Nah, semua kabupaten tempat Suku Pakpak menyebar bertetangga. Namun, di empat kabupaten jumlah suku pakpak tidak banyak berkembang. Hanya di Pakpak Bharat, sub Suku Batak ini berkembang dengan baik. Tak heran kalau 87 persen wilayah Pakpak Bharat dari total luas 1.218,30 km2, kini masih jadi hutan lindung, hutan yang masih dijaga kelestariannya. Hanya sisanya yang bisa dijadikan lokasi pemukiman, kantor pemerintahan, sekolah, rumah sakit, ladang dan sebagainya.

Menyadap Kemenyan di Pakpak Bharat (Ist)

Merayu Sang Putri

Kabupaten Pakpak Bharat merupakan pemekaran dari Kabupaten Dairi, tahun 2003 lalu. Jumlah penduduk saat ini sekitar 55.000 jiwa. Menurut Sahat, daerahnya memiliki tiga komoditas ekonomi unggulan, yakni gambir, kemenyan dan nilam. Ketiganya adalah tanaman yang bisa ditanam di hutan, tanpa mengganggu kelestarian hutan. Sebaliknya ketiganya mendukung ekosistem hutan agar makin terjaga. Kemenyan dan nilam bahkan hanya bisa ditemukan di hutan. Keduanya adalah kayu. Untuk mendapat hasilnya, tidak dengan memotong, tetapi dengan menyandap dan menyuling.

Informasi tentang gambir bisa baca di:

Menurut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pakpak Bharat, Sunardi SP, arel kemenyan dan nilam tidak pernah mengalami perluasan lahan. Kemenyan adalah kayu hutan yang memiliki getah untuk disadap. Tidak tumbuh sembarangan, tapi hanya di areal tertentu. “Itu kayu yang ditanam nenek moyang kami dulu. Makanya memang perlu sekali dijaga,” katanya.

Kayu kemenyen bisa ditanam dengan menggunakan bijinya, tapi umumnya yang ada sekarang bukan karena sengaja ditanam tetapi tumbuh sendiri setelah buahnya jatuh. Butuh waktu sekitar 10 tahun agar sebuah pohon kemenyan bisa disadap getahnya. Makin besar pohonnya, getahnya bisa makin banyak. Saat menyadap, setidaknya penyadap akan berada di hutan selama lebih dari seminggu. Tidak pulang ke rumah sehingga perlu membawa bekal secukupnya. “Ke hutan kan jauh,” ujar Sunardi SP. Areal tumbuh pohon kemenyan disebut tombok homijon.

Meyadap kemenyan tak sekedar mencari nafkah untuk hidup. Sebaliknya menyadap kemenyan adalah seni budaya dengan nilai kearifan lokal tinggi. Ketika hendak dan sedang menyadap getah, penyadap melantunkan nyanyian dalam bahasa pakpak di bawah pohon. Mereka menyebutnya nanyian odong-odong. Ia mengeluarkan kemampuan menyanyi terbaik yang dipunyainya dengan segala kesungguhan hati tanpa diiringi alat musik apapun. Dalam pemahaman penyadap, pohon kemenyan adalah sang putri, si perempuan cantik. Ia perlu disanjung dan dirayu, dielus-elus dengan rasa sayang.

Penyadap mengungkapkan isi hati dengan terbuka dihadapan pohon kemenyan. Tidak mengada-ada! Rayuan bukan gombal. Kesungguhan rayuan itu akan membuat pohon kemenyan terpesona dan terkesima hingga bersedia mengeluarkan getahnya untuk penyadap.

Perlakuan terhadap pohon kemenyan ketika sedang menyadap konon mempengaruhi hasil sadapan. Perlakukan yang kurang baik bisa saja pohon kemenyan tidak mengeluarkan getahnya. Secara ilmiah bisa aja dijelaskan, misalnya karena curah hujan yang tidak cocok, tingkat keasaman tanah kurang bagus, usia pohon sudah terlalu tua atau masih muda dan sebagainya.

Namun, tidak demikian halnya dengan masyarakat yang menghargai dan menghormati hutan sebagai pemberi nafkah tanpa pamrih. Hutan bukan untuk diekspolitasi, sebaliknya rekan, partner untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Karena itu, dalam melantunkan odong-odong selalu dengan komitmen untuk menjaga pohon kemenyan dan lingkungannya.

Diatur Pengepul

Sunardi SP menjelasakan, dulu seorang penyadap bisa mendapat sekitar 200 kg kemenyan dalam setahun. Tetapi, saat ini hasil sadapan kemenyan yang diraih petani Pakpak Bharat hanya 50-80kg/tahun. Harga kemenyan saat ini sebesar Rp 300.000/kg di pengepul kemenyan Sidikalang, Kabupaten Dairi.

Kemenyan banyak digunakan untuk komestik kecantikan, parfum, obat-obatan dan lain-lain. “Namun kami kembali ke soal penguasaan pasar. Yang punya kemenyan Pakpak Bharat, tapi yang punya nama Dairi. Ini masalah kami di sini, penguasaan pasar. Samalah nasibnya dengan gambir,” kata Sunardi SP. Dari pengepul di Sidikalang, kemenyan dari Pakpak Bharat dikirim ke Kota Medan dan Pulau Jawa.

Getah Kemenyan (Ist)

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (PMPPTSP) Pemda Pakpak Bharat, Losmar Berutu, mengatakan dengan hutan lindung yang mencapai 87 persen, pengembangan hutan wisata di Pakpak Bharat ke depan sangat prospektif. “Saat ini kami tak bisa banyak berkreasi karena hutan lindung. Tapi kalau wisata dipadukan dengan budaya yang ada, kami yakin bisa berkembang dengan baik,” kata Losmer.

Apakah Anda termasuk yang tertarik kembangkan hutan wisata berbudaya di Pakpak Bharat? (Inno Jemabut)