Saya Akan Hidup Terus Dalam Suara Hatimu

Saya Akan Hidup Terus Dalam Suara Hatimu

Ist

Oleh: Fransiskus Borgias M.

Di sebuah gereja paroki di Anuland. Masa prapaskah. Setiap Jum’at sore, ada jalan salib. Sebagaimana biasa, ada banyak umat yang hadir. Mereka ikut ambil bagian dalam ibadat jalan salib itu. Pastor paroki juga ikut dalam upacara itu. Umat mengikuti ketentuan yang ada. Berjalan mengiringi Yesus dari perhentian pertama (I) sampai perhentian keempatbelas (XIV). Berjalan, berlutut, membungkukkan badan, atau menundukkan kepala, menebah dada, merunduk sambil berkata: “Kami menyembah Dikau yang Kristus dan bersujud kepadaMu, sebab dengan salib suciMu Engkau telah menebus dunia.” Di akhir setiap perhentian ada seruan: “Kasihanilah kami ya Tuhan, kasihanilah kami….” (pemimpin); disambung umat: “Allah ampunilah kami orang berdosa ini”. Dalam upacara rutin mingguan tersebut, ada seorang ibu. Sudah berusia di atas empat puluh tahunan. Mungkin menjelang limapuluh. Ia selalu sendirian ke gereja. Tidak ada yang tahu siapa suaminya. Atau yang mana suaminya. Ia selalu sendirian manakala ke Gereja. Mungkin juga ia tidak bersuami. Hidup lajang, tidak menikah. Mungkin demi kerajaan Allah, di mana orang hidup seperti malaekat, tidak kawin dan tidak dikawinkan seperti kata Matius (Mat 22:30).

Ada yang sangat istimewa dengan ibu ini selama mengikuti ibadat jalan salib itu. Hal itu sangat menarik perhatian orang. Biasanya umat berjalan dari perhentian yang satu ke perhentian lain dan berlutut seperlunya di awal dan diakhir tiap perhentian. Baru pada perhentian keduabelas, saat umat mengenang wafat Yesus di Kayu Salib, semua orang berlutut dalam hening, beberapa saat lamanya. Orang berlutut selama renungan dan doa itu berlangsung untuk mengenang dan menghormati wafat Yesus di kayu salib.

Berbeda dengan rutinitas itu, perempuan tadi tidak seperti umat lain. Ia berlutut sepanjang jalan salib. Tidak hanya berlutut di tempat, melainkan “berjalan” dengan lutut saat berpindah dari stasi yang satu ke stasi lain. Begitu seterusnya dari perhentian pertama sampai perhentian keempatbelas. Setiap Jum’at selama prapaskah ia berbuat seperti itu di gereja. Ia tampak bersedih dan memikul beban berat selama jalan salib itu. Hal itu mencolok, sebab di luar itu ia tampak tegar, seakan-akan tidak ada soal hidup. Hanya di bawah salib ia tampak seperti “….rubuh, patah,” seperti kata Chairil Anwar, dalam syairnya yang terkenal, Isa, itu.

*****

Bukannya tidak ada yang memperhatikan ibu itu. Pastor paroki sudah lama mengamati dia. Pastor itu kagum. Bukan karena apa-apa. Pastor kagum, betapa lutut dan pahanya kuat berlutut sepanjang jalan salib. Di atas lantai gereja yang keras, kasar, dan berpasir. Dari minggu pertama sampai minggu kelima. Pada minggu kelima, pastor ingin berdialog dengan perempuan itu. Ia ingin tahu dasar praksisnya. Saat itu, pastor segera keluar dari gereja dan menunggu di depan pintu. Ia menunggu perempuan itu pulang.

Begitu perempuan itu keluar, pastor pun menyapanya untuk mencegahnya agar tidak segera pergi. Perempuan itu pun tersipu-sipu. Ia sama sekali tidak merasa bahwa bakal ada seseorang yang istimewa menunggu dia di luar sana. Pastor itu tersenyum lebar kepada dia.

“Selamat sore bu.” Kata Romo menyapa perempuan tadi.

“Sore Romo.” Balas wanita itu cepat-cepat.

“Ada apa romo?” Perempuan itu bertanya lagi.

“Oh tidak. Hanya mau bertanya, kok ibu kuat yah, berlutut sepanjang upacara jalan salib dan “berjalan” dengan lutut dari perhentian pertama hingga perhentian keempatbelas. Dan itu dilakukan tiap hari Jum’at. Itu sangat luar biasa lho bu.”

“Ah Romo, itu biasa-biasa saja.” Tukas perempuan itu.

“Tidak. Itu tidak biasa. Itu luar biasa. Ibu kuat sekali.” Timpal pastor itu.

Wanita itu pun tersipu-sipu karena dipuji sang Romo paroki. Usia mereka juga tampak tidak terpaut jauh. Mungkin seusia. Menjelang limapuluhan.

“Boleh saya tahu, apa dasar praksis ini?” tanya pastor itu.

“Ah Romo, itu hanya berangkat dari praksis devosi cinta, devosi sengsara, devosi duka dan devosi luka-luka Tuhan Yesus saja. Hanya itu. Tidak lebih dari itu.”

“Terus terang, saya kagum sekali. Ini teladan yang sangat inspiratif.” Begitu kata Romo mengomentari jawaban ibu itu.

“Ah Pater, tidak juga. Jangan ikut saya pater. Pater jangan mendorong umat lain mengikuti saya.” Kemudian ia berhenti. Terdiam. Tampak seperti salah tingkah. Tetapi ia mencoba menutupinya. Lalu, tiba-tiba…

“Saya ini pendosa berat pater.“ Aku perempuan itu seperti setengah sadar.

Tiba-tiba perempuan itu sadar, ia keceplosan. Romo terdiam mendengar pengakuan itu. Tetapi Romo tentu tidak mengerti maksudnya.

“Ibu, semua manusia di dunia ini adalah pendosa. Romo juga pendosa. Tidak ada yang tidak berdosa di dunia ini”. Begitu kata Romo memberi penjelasan.

“Tetapi Romo…..” ia berhenti sejenak. Terdiam. Merunduk. Mencoba menahan sesuatu. Entah apa. Sembunyikan sesuatu. Ia tidak sanggup melanjutkan percakapannya. Serasa ada sesuatu yang tertumpah dari dirinya, entah apa, entah bagaimana?

“Kenapa bu? Jangankan Romo, Uskup juga ada dosa. Paus juga begitu. Selama kita ini masih manusia, kita semua pendosa.”

*****

Lama kelamaan perempuan itu mencoba berdiri dengan bersandar pada dinding gereja; tampak tangannya mencoba mencari pegangan. Serasa ia mau limbung dan jatuh. Terjerembab. Seakan-akan ada sebuah beban kasat mata yang menimpanya dari atas.

“Ada apa bu? Ibu sakit?” tanya Romo yang tampak bingung. Pastor itu mendekat, memegang tangannya. Pastor bingung melihat perempuan itu menangis.

“Adakah yang salah dalam kata-kataku bu? Saya mohon maaf kalau saya menyinggung perasaan ibu. Maaf. Saya tidak ada maksud begitu.”

“Tidak romo. Romo tidak ada salah. Tidak perlu minta maaf. Saya yang salah.”

Lalu ia terdiam lagi. Ia memandang ke tanah. Kemudian ke langit. Lalu ke Romo. Mau berbicara tetapi tidak keluar sesuatu apa pun dari bibirnya. Melihat gelagat itu, Romo tidak mau memaksa; ia menunggu. Takut salah bicara. Tiba-tiba….

“Romo, sekarang ada waktu?”

“Untuk apa?”

“Menerima saya di ruang pengakuan”.

“Oh baik. Romo harus siap setiap saat untuk urusan itu. Harus seperti itu. Kalau begitu, silahkan ibu masuk ke gereja lagi. Saya ambil stola dulu.

Ist

Wanita itu menunggu di depan ruang pengakuan. Dengan jubah dan stola Romo masuk ruang pengakuan. Wanita itu menyusul masuk ke ruang sebelah kamar pengakuan itu. Ia berhadapan dengan pastor; ada kisi-kisi pemisah di antara mereka. Wanita itu tidak mengawali pengakuan dosanya dengan ritual pengakuan biasa dengan rumusan baku. Tidak. Ia langsung ke poinnya. Ia sharing, membuka hatinya.

“Pater. Saya pendosa pater. Pendosa besar. Dosa saya sangat berat pater. Pater mau tahu kenapa saya berlutut?”

Semula pastor itu bingung karena katanya mau mengaku, eh malahan ia mengajak Romo mendengarkan sharing-nya. Tetapi pastor itu segera siap.

“Ya, saya kagum seperti kataku di luar tadi. Itu sesuatu yang luar biasa.”

“Anu pater…. anu…..”

Ia merunduk. Bicaranya tertahan-tahan. Tampak ia menggigit bibirnya. Seperti menahan sesuatu. Entah apa.

“Anu Pater… saya sedang mengikuti bunda Maria ke Golgota, ke salib Anaknya, dan ikut menguburkannya di sana.”

“Ya, kita yang lain juga begitu”. Kata Romo.

“Tidak Romo. Tidak semua orang seperti saya. Tidak semua begitu.” katanya.

“Bunda Maria pergi ikut menyaksikan anaknya wafat di salib. Bunda melihat anaknya dimakamkan. Bunda Maria melihat anaknya dibunuh orang. Anaknya dibunuh orang Romo. Perlahan sekali, lewat penyiksaan bengis dan ngeri. Semuanya berlangsung lama dan pasti sangat berat.”

Sejenak ia terdiam. Pastor itu tidak bisa menduga arah obrolan perempuan ini.

“Saya tidak seperti itu romo.”

“Emangnya ibu kenapa?” tanya pastor menyelidik.

“Saya romo…. saya… nganu….. sayalah yang membunuh anakku sendiri romo.”

Tiba-tiba saja pengakuan itu keluar, seperti air tertumpah dari ember penuh, dan tidak tertahankan lagi. Ia pun menangis terisak-isak dengan suara yang hampir meratap. Dalam ruang pengakuan.

“Saya bunuh anakku sendiri Romo. Saya pembunuh. Saya ini pendosa berat. Saya pembunuh. Pembunuh manusia, homisida. Saya pembunuh….” katanya terbata-bata, sambil menahan tangis dan suaranya. Lalu suaranya melambat, pelan dan mengecil.

“Saya pembunuh romo.”

“Maksud ibu?” tanya Romo menyelidik dan tidak mengerti. Lama ada hening di antara mereka berdua. Sebuah rasa hening yang aneh. Ganjil sekali. Kaku.

“Dulu Romo, saya pernah hamil. Saya bercinta dengan kekasih saya. Tetapi ia tidak mau bertanggung-jawab. Saya tidak sanggup menghadapi masa depan dengan kehamilan itu. Saya khilaf. Saya memilih jalan pintas. Saya menggugurkan kandungan itu setelah berusia lebih dari tiga bulan. Aborsi. Itu anak saya Romo. Saya membunuh dia. Ia tidak berdosa. Saya berdosa. Saya membunuhnya. Ia yang tidak berdosa, tetapi justru dialah yang menanggung akibat dosa saja. Dialah yang memikul dosa-dosa kami, eh dosa-dosa saya.”

Pastor itu dengan sabar mendengarkan dia. Sebab sedikit-sedikit semua kata-kata pengakuan itu keluar.

“Romo, bagi saya ibadat jalan salib ini adalah seperti pergi mengubur anakku sendiri yang sudah kubunuh. Itu sebabnya saya berlutut, karena saya menghayati ibadat itu sebagai perjalanan mengantar jazad anakku sendiri yang tidak berdosa, ke kuburan.”

Kemudian ia terdiam lagi. Ada hening. Pastor itu tidak mau memotong keheningan itu. Pastor itu bersabar memberi ruang dan peluang yang luas agar wanita itu bisa mengungkapkan dan menumpahkan semuanya.

“Romo, hanya itu saja anakku romo. Itulah satu-satunya rahmat yang Tuhan berikan kepada saya, tetapi saya sudah menyia-nyiakannya.”

Mendengar itu, entah mengapa, pastor itu juga kemudian menjadi terharu. Bahkan pastor itu juga hampir menangis. Dalam hatinya Pastor itu teringat akan buku Surat dari dan Kepada si Kuncup. Khususnya ingat salah satu surat dari si Kuncup, di mana ia menulis kepada ibunya, “Mami, saya tidak akan pernah mati. Melainkan, saya akan tetap hidup dalam suara hati mami.” Romo membayangkan, mungkin ibu ini mengalami pengadilan suara hati oleh suara anak yang tidak akan pernah mati itu dalam suara hatinya sendiri. Ia sudah ada di sana. Menjadi hakim bagi suara hati. Dengan suara yang bertalu-talu dan tidak akan pernah bisa diam, tidak akan pernah bisa dibungkam. Selamanya.

“Di mana lelaki itu sekarang?” tanya pastor itu menyelidik.

Perempuan itu lama terdiam. Ia tampak seperti tidak sanggup menjawab pertanyaan Pastor itu. Atau malah tampak seperti tidak mau menjawab pertanyaan itu.

Pastor itu sabar menunggu. Dan akhirnya…..

“Ia tetap memilih mau menjadi Romo, Romo….” tukas perempuan itu. Lalu ada keheningan lagi. Yang terasa lebih mencengkam daripada sebelumnya. Ia melanjutkan:

“Ia tetap mau memilih menjadi Romo; saat itu saya tinggal sendirian mencoba menghadapi masa depan.”

“Apakah Romo itu tahu bahwa saat itu ibu hamil?” selidik pastor itu.

“Ia Romo. Ia sangat tahu. Tetapi tidak mau tahu. Bahkan saya berkesan ia tidak menyukaiku lagi saat ia tahu saya hamil. Saat itu saya tiba-tiba teringat akan nasib tragis Tamar yang dibenci Amnon setelah Amnon berhubungan badan dengannya (2Sam 13:1-19).” Ia terdiam lagi.

“Saya tidak sanggup berbuat apa-apa. Saya juga takut dan malu menuntut. Yang saya lihat sebagai kemungkinan hanya satu, aborsi. Itu saja. Jalan itu yang saya tempuh.

Ist

Sejenak ia terdiam. Pastor itu juga terdiam. Entah apa yang ia pikirkan.

“Saya juga tidak akan memberitahu siapa nama Romo itu, biarpun Romo memintanya di ruang pengakuan ini. Saya akan tetap rahasiakan.”

Pastor itu juga tidak mau memaksakan.

“Biar hanya saya, Tuhan, dan dia sendiri yang tahu. Dan pasti anak kami, anak kami, juga tahu Romo. Sebab saya percaya akan ada hidup kekal, di surga. Anakku sudah di sana, Romo. Ia kudus romo, ia suci. Tetapi dalam usia semuda itu sudah menanggung dan memikul dosa kami, dosa saya.” Katanya lagi sambil terisak-isak.

Pastor itu kemudian merasa letih dengan pengakuan itu. Ia pun memberi absolusi untuk memberi ketenangan batin kepada perempuan itu. Dosa besar yang ia lakukan, rasanya harus dihukum dengan penitensi yang berat dan lama. Pastor itu berkata:

“Ibu, dosa itu berat. Saya memberi penitensi yang berat bagi ibu, agar ibu bisa merasa lega setelah pengakuan ini. Berdoalah Rosario, peristiwa Duka, selama setengah tahun, setiap hari. Nanti sesudah itu, pasti akan akan kelegaan bagi hidup ibu. Kelegaan itu adalah tanda rahmat pengampunan Allah.” Kemudian pastor itu menutup pengakuan itu dengan ritual yang biasa.

Pastor itu kembali ke pastoran. Perempuan itu itu juga pulang ke rumahnya. Tampak langkahnya ringan. Seperti ada beban yang terlepas dari punggungnya. Seperti ada kebebasan, seperti ada sebuah kelepasan yang sulit dijelaskan. Pastor itu masih menunggu, sampai perempuan itu hilang di tikungan dari tatapan pastor dari depan gereja.

Di pastoran, Romo duduk di ruang duduknya. Ia tampak seperti memikirkan sesuatu. Lama pastor itu tercenung karena sedang membayangkan bagaimana mungkin seorang pastor seperti yang dilukiskan ibu tadi bisa hidup tenang dengan suara hatinya selama ini? Bagaimana mungkin ia bisa merayakan ekaristi untuk umat tanpa merasa terganggu hati nuraninya? Bagaimana pastor itu bisa menghayati detik-detik konsekrasi tetapi dengan kesadaran akan dosa yang telah dilakukannya di masa silam? Memang benar, semua manusia itu adalah pendosa. Omnis homo peccator. Seperti kata pemazmur. Omnis homo mendax. Semua manusia adalah penipu. Tetapi dosa moral-seksual seperti ini menyangkut nasib dan hidup orang lain. Bahkan nasib anak manusia masa depan. Ah. Entahlah. Mungkin ia sudah mendapat rahmat pengampunan Allah atas dosa itu. Hemmmm….. apakah itu memang dosa?

Kemudian dalam mimpinya, pastor itu melihat seorang teman, juga Romo, tetapi diam-diam mempunyai anak dengan seorang perempuan. Dalam mimpi itu, ia melihat tampaknya mereka bahagia. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada rasa berdosa. Mereka tampak seperti sedang bertamasya, dalam pasangan cinta. Ya, itu cinta. Tetapi mengapa harus diam-diam? Dosakah itu? Mengapa hanya dalam mimpi ia bisa melihat hal itu? Ia tidak mendapat jawaban. Sampai dini hari. Saat mentari terbit pastor itu memulai lagi rutinitasnya dengan doa ini: Domine, labia mea aperies. Et os meum annuntiabit laudem tuam. Gloria Patri, et Filio, et Spiritui Sancto. Sicut erat in principio, et nunc et semper, et in saecula saeculorum, Amen. Sejak semula, pastor ini mengabdikan hidupnya pada kalimat itu. Dan ia menjadi bahagia karenanya.

Sedan, Yogyakarta Maret 2016

(Cerita ini hanya rekaan. Tidak berdasarkan fakta atau pengalaman. Tetapi dilandaskan pada pengalaman membaca buku beberapa tahun silam: SURAT DARI DAN KEPADA SI KUNCUP, karya pastor SDB di Filipina, yang ia tulis dengan gaya ringan dan indah, untuk kampanye anti aborsi. Cerita itu sangat menyentuh perasaan. Bisa membangkitkan ilham kreatif dalam diri saya sehingga bisa menghasilkan cerita rekaan seperti ini.)