PM Lee Kuan Yew Dari Singapura

Profil Tamu Pemerintah

PM Lee Kuan Yew Dari Singapura

Nama Kotanya Diberikan Oleh Sang Nila Utama, Pangeran Sriwijaya

Sinar Harapan, 24 Mei 1973 – Untuk kedua kalinya tapi pertama kali dalam sejarah pemerintahan Soeharto, PM Lee Kuan Yew akan menjadi tamu pemerintah Indonesia selama seminggu mulai tangal 25 Mei.

Sebelumnya, PM Lee sudah berkunjung ke Indonesia pada bulan Januari 1960, segera setelah partainya, Partai Aksi Rakyat (PAR) berhasil memenangkan Pemilihan Umum di negara tersebut.

Lahir di kampung Jawa
Walaupun selama 13 tahun terakhir ini Lee Kuan Yew tak pernah berkunjung ke Indonesia namun berita mengenai usaha yang dilakukannya di Republik Kepulauan yang paling terdekat dengan wilayah RI itu cukup banyak diketahui rakyat Indonesia.

Akan tetapi mengenai diri pribadinya mungkin baru sedikit orang yang mengetahuinnya. Untuk lebih mengenal pribadi Lee Kuan Yew, maka berikut ini akan dimuatkan secara singkat latar belakang pribadi dan asal-usul PM Singapura itu.

Lee dilahirkan pada tanggal 16 September 1923 di jalan Kampung Jawa, Singapura, dan mendapat pendidikan SD-SMP di Institut Raffles, suatu institut tertua di Singapura.
Sejak kecil, memang ia sudah menunjukkan suatu pengetahuan yang sangat menonjol.

Ia berhasill mendapatkan bea siswa atas kepintarannya tapi pecahnya perang di Eropa telah mengurungkan niatnya untuk belajar ke Inggris. Sebagai gantinya, ia belajar selama 2 tahun di Faffles College yang sekarang ini terkenal dengan Universitas Singapura.

Setelah perang mereda, Lee memasuki London School of Economics untuk satu semester dan terus ke Cambridge dimana ia mendapatkan gelar kesarjanaan dalam bidang hukum.

Kawin dengan Kwa Geok Choo
Sekembalinya dari Inggris Lee kemudian menikah dengan Kwa Geok Choo, seorang teman belajarnya ketika di Cambrdge. Miss Kwa waktu itu juga belajar ilmu hukum dan kemudian membuka praktek sebagai penasehat hukum.
Dari perkawinan tersebut, keluarga Lee dianugerahi 2 putra dan soerang putri. Putri mereka itu Lee Wei Ling, akan menyertai kunjungan orang tuanya ke Jakarta.

Sewaktu belajar di Inggris Lee dikenal sebagai seorang Nasionalis tapi belakangan ini penulis Barat sering menjuluki Lee sebagai seorang sosialis.
Memang, dengan modal pengetahuan yang diperolehnya di negara Barat, ia juga sejak lama memikirkan penduduk negaranya yang terdiri dari multi ras itu.

Ia juga pernah menjadi penasehat hukum dari berbagai organisasi buruh, dimana sebagian diantaranya adalah merupakan organisasi Front Komunis.

Pengalamannya itu kemudian mendorong ia untuk bekerjasama dengan orang Komunis membentuk Partai Aksi Rakyat (PAP) yang lahir bulan November 1954. Lee terus menjabat Sekjen, jabatan mana terus dipegangnya hingga saat ini. Partai itu sendiri terdiri atas kaum moderat (sosialis-demokrat yang dipimpin oleh Lee sendiri) dengan orang yang berpaham komunis.

Singapura dari Pangeran Sriwijaya
Nama palirs dari Singapura adalah “Temasek” yang mempunyai arti kota laut. Para ahli sejarah kemudian mengemukakan bahwa pada tahun 1299 seorang Pangeran dari Kerajaan Sriwijaya (Palembang) bernama Sang Nila Utama, dalam usahanya mencari tempat untuk mendirikan kotanya sendiri, telah sampai di Temasek. Setelah mendarat di pulau itu ia melihat seekor hewan Singa yang masih asing baginya.

Dengan inspirasi dari melihat hewan itu maka Sang Nila Utama memutuskan untuk menamakan tempat itu Singapura. Kota baru itu kemudian berkembang sebagai suatu pusat perdagangan dibawah Kerajaan Sriwijaya di Sumatera Selatan.
Pada abad ke-14 Singapura telah menjadi daerah perebutan kekuasaan antara Kerajaan Majapahit dan Siam yang berusaha mendominir Semenanjung Malaka.

Dalam suatu pertempuran, seorang Pangeran Palembang turunan Syailendra yang bernama Pamaswara berhasil menyusup ke Singapura. Parameswara kemudian berhasil membunuh tuan rumahnya akan tetapi ketika Majapahit berhasil menaklukkan Sriwijaya, maka raja terakhir ini dipaksa menyingkir ke Malaya dan mendirikan suatu daerah kekuasaan baru yang dewasa ini dikenal dengan Malaka.

Penduduk
Sewaktu Raffles mendarat di Singapura, penduduk kepulauan tersebut hanya ratusan orang saja.
Orang Melayu diperkirakan sekitar 120 orang sedang China 30 orang, akan tetapi dewasa ini perbandingan penduduk keturunan China dengan Melayu justru sebaliknya. Sensus tahun 1971 memberikan angka bahwa penduduk Singapura berjumlah sekitar 2,1 juta dengan 76,1% China, 15% Melayu dan 7% India, Pakistan dan Ceylon. Dengan demikian nampaklah bahwa orang Melayu di Singapura dewasa ini menjadi suatu golongan penduduk minoritas. (Sam Pardede)