Menjadi Indonesia, Menyingkap Harmoni Keberagaman Di Lampung Timur

Menjadi Indonesia, Menyingkap Harmoni Keberagaman Di Lampung Timur

Bupati Lampung Timur, Nunik (Chusnunia Salim) (Ist)

Tidak mudah saat ini untuk memperjuangkan persatuan dalam kebhinnekaan. Bupati Lampung Timur, Nunik (Chusnunia Salim),  adalah salah satu pemimpin perempuan yang bersama rakyatnya,— saat ini tengah memperjuangkan Bhinneka Tunggal Ika di Pedalaman Provinsi Lampung. Muchamad Fatchurochman, seorang jurnalis dan budayawan muda merekamnya dalam tulisan untuk SHNet. (Redaksi)

Oleh: Muchamad Fatchurochman

EKSPRESI budaya Hindu, selama ini lekat dengan pulau Bali benar adanya.  Namun keberadaan pemeluk agama Hindu di nusantara tersebar ke banyak tempat di Indonesia.  Lampung Timur, salah satunya atau tepatnya di provinsi Lampung, pemeluk agama Hindu hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain.  Itulah gambaran harmoni di sejumlah kabupaten di provinsi yang ada di gerbang pulau Sumatra ini.

Jika berkesempatan menjelajah lebih dalam ke pelosok, silakan berkunjung ke kampung-kampung Bali yang banyak tersebar di Lampung.  Saat berkunjung, berkeliling dan bertegur sapa dengan keramahan warga desa, sangat terasa bahwa tak jauh beda dengan lingkungan kehidupan masyarakat Hindu di Bali, meski sebenarnya tengah berada di pulau Sumatra.

“Orang Hindu di sini itu ramah, kompak dan bisa menyatu dan saling peduli. Mereka juga pekerja keras,” kata Salim, warga Brajaselebah, Lampung Timur.

Salim, seorang muslim menyatakan dirinya memang bukan asli orang Lampung namun lahir dan tumbuh menjadi dewasa di Lampung Timur. Sebagai muslim, bersentuhan dengan budaya di luar agama yang diyakini membawa pemahaman bahwa ada banyak kebudayaan di nusantara. Merasa wajar, ada perbedaan keyakinan namun bisa tetap hidup harmoni dalam kebersamaan membangun desa, membangun lingkungan.

“Kampung Bali banyak tersebar di Lampung, termasuk di kabupaten Lampung Timur. Di sekitar desa saya, sudah sering ada kunjungan turis asing yang datang ke Braja Indah, Brajayekti dan Brajaharjosari,” kata Salim.

Harmoni kebersamaan dan terjadinya akulturasi kebudayaan kini memang terlembaga dengan adanya beragam festival yang difasilitasi oleh pemerintah daerah Kabupaten Lampung Timur. Chusnunia, Bupati Lampung Timur, sosok pemimpin perempuan pertama di provinsi Lampung ini memilih jalan yang mempersatukan perbedaan ekspresi kebudayaan dalam satu festival.

Festival Way Kambas, yang digelar tiap tahun di bulan November adalah satu contohnya. Gelaran budaya sesuai saat seperti festival ogoh-ogoh bisa diikuti seperti saat rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi  umat Hindu.

Satu contoh akulturasi ekspresi budaya, bisa dilihat dari hadirnya tari jaranan yang berpadu dengan Tari Ceblek, tari kipas yang biasa dibawakan oleh suku Bali.

“Mbak Nunik, Bupati Lampung Timur fasilitasi adakan aneka festival. Ekspresi budaya dalam bentuk tarian, jadi perekat dan mempersatukan perbedaan yang ada,” kata Salim.

Langkah Bupati Chusnunia dengan pengembangan pariwisata lewat pemberdayaan budaya lokal ini sangat efektif menciptakan perekat di masyarakat.

Di desa wisata Brajaharjosari misalnya kini mulai berkembang paket wisata kunjungan adat. Paket ini mulai ditawarkan dan menarik banyak minat wisata, utamanya wisatawan asing untuk menikmati budaya dan kuliner yang ada di Lampung Timur.

Desa yang jaraknya sekitar 100 kilometer dari ibukota provinsi, dan 25 kilometer dari Sukadana ini disebutkan cukup menarik untuk jadi titik kunjungan berwisata.

“Sebenarnya tak melulu untuk berwisata saja. Kita bisa belajar bagaimana menjadi Indonesia di Lampung ini, apa resepnya,” kata Salim, yang kini aktif sebagai pengurus Partai Kebangkitan Bangsa di Lampung Timur.

Keberagaman dan adanya perbedaan memang harus ada yang merawat. Di sinilah hadir kebersamaan dalam naungan kebangsaan, semangat ke-Indonesiaan yang nyata.

Chusnunia, Bupati Lampung Timur yang kini tengah cuti karena maju berkampanye sebagai calon Wakil Gubernur mendampingi Arinal Djunaidi di Pilkada Lampung 2018 dalam beberapa kesempatan menyampaikan pilihan mengadakan  aneka festival kesenian, jadi panggung kebersamaan yang bisa dijalankan oleh semua.

“Lampung itu indah, Lampung itu cantik. Kita pilih festival kebudayaan, sampai ke desa tanpa EO besar untuk angkat potensi lokal, ada kebersamaan, ada harmoni,” kata Chusnunia.

Diakui, ada banyak tantangan untuk menjaga kerukunan, hidup bersama dalam perbedaan. Bersama unsur forum komunikasi pimpinan daerah, dilakukan dialog rutin untuk mendapatkan solusi kebijakan yang tepat saat ada masalah.

“Intinya koordinasi semua pihak, terus melakukan dialog agar bisa saling memahami. Kepala daerah, pemerintah daerah melayani warga,” kata Chusnunia.

Syamsul Arifin, budayawan asal Metro Gibang Lampung Timur  yang selama ini menginisiasi Maiyahan Ambengan (Ameguru Bekti Pangeran) satu forum dialog yang rutin digelar tiap bulan menyatakan kebersamaan dalam ikatan kebangsaan sebagai implementasi dari nilai-nilai Pancasila sudah mewujud dalam keseharian.

“Kami berusaha terbuka, agar bisa selalu merawat kearifan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Keniscayaan kalau ada perbedaan agama, beda suku. Islam hadir dalam sejarahnya untuk menyempurnakan,” kata Syamsul Arifin.

Ke-bhinnekaan di Lampung adalah hal yang niscaya. Maka tak heran, jika dengan mudah menemukan ekspresi budaya yang berbeda dari tiap desa. Diakui, jika ada gesekan atau konflik bisa segera teredam karena sumber konflik bisa dilokalisir setelah dibuka forum dialog.

“Kalau ada konflik, biasanya bersumber soal kriminal. Gesekan itu motifnya masalah kesenjangan ekonomi. Bukan karena adanya perbedaan kebudayaan, apalagi karena berbeda suku,” kata Syamsul Arifin.

Budayawan yang mengaku sebagai pujakesuma, putra jawa kelahiran sumatera ini mengakui saatnya untuk secara terbuka saling membuka diri, saling berdialog. Kini saatnya  implementasikan Pancasila dalam praktek, bukan pada level teori dan kegiatan yang elitis.

Melalui rutinan Maiyahan Ambengan, praktek kebersamaan hadir dalam proses mengerjakan iringan musik untuk dipentaskan. Forum rutinan, yang diikuti oleh banyak kelompok usia termasuk anak-anak muda ini adalah forum berbagi.

“Tentu menyenangkan, saat ada perbedaan keyakinan, beda agama tapi bisa menanam bibit untuk konservasi hutan bersama, tanam jagung bersama, tanam komoditas pertanian bersama-sama,” kata Syamsul Arifin.

Melalui musik, melalui lantunan lagu dengan iringan musik yang dikerjakan maka hadirlah lantunan Mantra Gayatri dari komunitas Hindu dinyanyikan bersama, lirik lagu Malam Kudus bisa tampil dalam kenduri musik yang dihadirkan bersama untuk dipentaskan di panggung kesenian, panggung festival.

Syamsul Arifin percaya, dengan semangat kuat, langkah merawat ke-bhinneka tunggal ikaan, budaya gotong royong, menumbuhkan rasa kebangsaan akan tertanam kuat kala semua yang berbeda agama, suku, berbeda golongan mau duduk bersama, mau tampil bersama dalam panggung untuk merawat keberagaman yang niscaya.

“Kita sinau (belajar-red) bersama. Sekarang yang datang, tak hanya dari Lampung Timur tapi juga kabupaten yang lain. Ada yang Kristen, Hindu, Buddha, kita merawat bersama. Akidah di jaga masing-masing,” kata Syamsul Arifin.