Mengapa Kampung Janda Ciburayut, Cigombong Berkembang?

Mengapa Kampung Janda Ciburayut, Cigombong Berkembang?

Ist

SHNet, JAKARTA –Ini adalah salah satu kampung janda yang besar dari sejumlah kampung janda di Indonesia. Banyak perempuan ditinggal suami karena berbagai faktor. Perempuan menjadi kepala keluarga yang harus menghidupi anak-anak sepeninggalan suami.

Kampung Panyarang, Desa Ciburayut, Kecamatan Cigombong, Bogor, Jawa Barat. Di kampung ini, perempuan usia 16 tahun sudah jadi janda. Sebelum berusia 20 tahun sudah kali menjanda. Itu hal biasa! Banyak perempuan nikah muda, bahkan masih sangat muda. Demikian juga laki-laki, menikah di usia dini, bahkan sangat dini.

Di kampung yang terletak di antara Gunung Salak dan Gede Pangarango ini, jumlah perempuan dewasa jauh lebih banyak dari laki-laki. Laki-laki umumnya bekerja sebagai penambang pasir  (loji) dan penggali tanah sebagai bahan baku pembuat batako. Sementara perempuan menjadi ibu rumah tangga jika masih bersuami atau ikut menjadi penambang pasir dan penggali tanah jika menjanda.

Pekerjaan yang sangat berbahaya. Galian pasir dan tanah yang berbentuk gua sering kali jadi malapetaka bagi para penambang. Banyak laki-laki harus mengakhiri hidup karena tertimpa reuntuhan pasir dan tanah.

Inilah salah satu penyebab utama terus meningkatnya jumlah janda di Kampung Panyarang. Dalam sekali runtuhan, terkadang hingga lima orang lelaki tewas seketika. Bahkan bisa lebih banyak.

Meski ada sebab lain mengapa jumlah janda makin berkembang. Ada yang meninggal karena penyakit, ada yang karena bercerai, ada yang ditinggal begitu saja karena suami pergi keluar kampung tanpa meninggalkan pesan apapun.

Banyaknya janda adalah keunikan dari Desa Ciburayut yang hanya berjarak 18 kilometer dari Kota Bogor. Jika desa lain lebih dikenal sebagai desa wisata, desa teknologi, desa industri, desa batik, desa tenun, desa ini dikenal sebagai Desa Janda karena keberadaan Kampung Janda.

Siapapun tidak ingin menjanda! Namun, malang tak bisa dielak, Allah Yang Maha Kuasa memiliki kehendak sendiri yang berada di luar jangkauan manusia. Bencana reuntuhan galian pasir dan tanah sangat akrab dengan warga Kampung Panyarang. Tidak banyak pilihan lain bagi warga kampung tersebut untuk mendapat sesuap nasi. Ya itu: penggali pasir, penyaring pasir, dan pemecah batu.

Di Desa Ciburayut, jumlah pernikahan dini juga sangat tinggi. Menikah dengan beda usia sangat jauh adalah hal biasa. Kebanyakan perempuan takut tidak akan menikah karena ketersediaan laki-laki menipis dari tahun ke tahun. Banyak laki-laki juga memutuskan menikah di usia dini karena ia tidak tahu kapan kemalangan akan dating, sementara ia belum memiliki keturunan. Ini adalah situasi yang tidak mudah bagi mereka. Masalah kemiskinan menyatu dengan tingkat pendidikan yang masih sangat minim.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Susanto, Senin (28/5) masyarakat tidak banyak yang mengadukan masalah pernikahan dini. Hal yang banyak diadukan hanya kekerasan seksual. Mungkin karena pernikahan dini tidak dianggap sebagai hal serius. Atau juga kerena pernikahan dini dipandang sebagai solusi atas sejumlah masalah dalam keluarga, tak ada kaitannya dengan tindak seksual. Padahal dampak pernikahan dini sangat besar, terutama secara psikologis.

Namun, dalam kasus Kampung Janda, Kampung Panyarang, titik masalah adalah kesulitan ekonomi. Jika ada pekerjaan tidak seresiko menambang pasir dan menggali tanah, dengan keuntungan ekonomi lebih baik, siapa tak tertarik? Jika itu ada, jumlah janda Cigombong tak akan terus berkembang. (IJ)