Mendesak, Audit Teknologi untuk Kemandirian Bangsa

Mendesak, Audit Teknologi untuk Kemandirian Bangsa

Menristek Dikti Mohamad Nasir pada acara bincang-bincang bertajuk “Urgensi Audit Teknologi untuk Kemandirian Bangsa,” di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (9/5). [SHNet/Ist]

SHNet, Jakarta – Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Mohamad Nasir menegaskan bahwa di era digital, khususnya menghadapi revolusi industri 4.0, peran kontrol dan audit teknologi menjadi semakin krusial. Menristek menyatakan hal ini pada acara bincang-bincang (Talk Show) bertajuk “Urgensi Audit Teknologi untuk Kemandirian Bangsa,” di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (9/5).

Menristek menyampaikan bahwa audit teknologi tidak dimaksudkan untuk mencari kesalahan, namun suatu upaya perbaikan yang dilakukan melalui proses sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif aset teknologi berupa tindakan, pemilihan, penerapan, analisis dan evaluasi. Tujuannya, untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara teknologi dengan kriteria dan/atau standar yang telah ditetapkan.

Demikian pernyataan Menristek dalam acara yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristek Dikti ini.

Direktur Sistem Inovasi Kemenristek Dikti Ophirtus Sumule menyampaikan dalam keterangannya, bahwa penyeleggaraan acara bincang-bincang tersebut merupakan wadah bertemunya para pemangku kepentingan terkait penggunaan teknologi yang bersifat strategis dan vital bagi kedaulatan bangsa.

Memetakan Potensi

“Acara ini bertujuan memetakan potensi inovasi teknologi nasional, utamanya pada bidang infrastruktur dan pertahanan. Selain itu, mensosialisasikan urgensi audit teknologi kepada publik, dan meningkatkan kesadaran pemangku kepentingan akan peran audit teknologi untuk mewujudkan kemandirian bangsa,” demikian penjelasan Ophirtus.

Keynote speech dalam acara ini adalah Menteri PUPR, M Basuki Hadimuljono. Narasumber utama Dirjen Penguatan Inovasi Jumain Appe didampingi para panelis, yakni Marzan Aziz Iskandar (Komite Kebijakan Industri Pertahanan); Fajar Harry Sampurno (Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media, Kementerian BUMN); Unggul Priyanto (Kepala BPPT); Daryatmo Mardiyanto (Anggota DPR RI Komisi VII); dan Yanuar Nugroho (Deputi II KSP) dengan moderator Ashwin Sasongko (LIPI).

“Sekitar 150 peserta dari Kementerian/Lembaga, Perguruan Tinggi, Pemerintah Provinsi & Kabupaten/Kota, BUMN bidang Kontruksi dan Pertahanan dan Asosiasi Profesi menghadiri acara ini,” kata Ophirtus.

Menristek lebih lanjut menegaskan, substansi audit teknologi merupakan proses identifikasi, analisis dan evaluasi aset teknologi secara sistematis. Tujuannya untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan, posisi terhadap kompetitor, status, kemampuan, potensi nilai komersial, kapasitas, prosedur dan kebutuhan, serta kemampuan inovasi dari organisasi/perusahaan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan. (whm/pr)