Masih Terdapat Mental PKI Pada Masyarakat Kita

Panglima Siliwangi Witono

Masih Terdapat Mental PKI Pada Masyarakat Kita

Bandung, 8 Mei 1970 – Panglima Kodam VI/Siliwangi Mayjen AJ.Witono mengkonstatir bahwa dewasa ini pada masyarakat kita terdapat ciri-ciri yang memperingatkan kepada kita semua, bahwasannya masyarakat kita sekarang ini masih terdapat kelemahan, terutama dibidang mental.

Kita, kata Pak Wit, telah menolak ajaran komunis tetapi ternyata mental PKI yang dahulu ditanamkan oleh PKI kepada masyarakat kita ternyata sekarang masih digunakan oleh sebagian masyarakat kita. Sebagai contohnya dikemukakan bahwa masih terdapatnya anggapan bahwasannya pemerintah itu hanyalah merupakan suatu sociale instelling.

Kelemahana ini, menurut pendapat Panglima Siliwangi, akan mendapat usaha kita di dalam menuju kepada realisasi daripada apa yang terurai dalam pembukaan UUD 45. kelemahan inipun tidak bisa jadikan sebagai satu landasan yang pokok untuk kita dalam suasana dan susunan yang sesuai dengan kehendak jaman.

Panglima Witono mengemukakan hal ini dalam rapat kerja Satlak (Satuan Pelaksana) Prodidjas (Produksi – Distribusi – Jasa) Kodam VI/Siliwangi hari Sabtu yang lalu di aula Intdam VI/Siliwangi Bandung. Sebelumnya, Ketua Satlak Prodidjas Kodam VI/Siliwangi M. Sani telah menguraikan kegiatan Satlak Prodidjas Siliwangi selama 3 tahun ini.

Dengan secara panjang lebar, Panglima Siliwangi telah menguraikan ciri yang menggambarkan kelemahan yang terdapat dalam masyarakat kita dewasa ini. Diantaranya, ialah pada masyarakat kita dewasa ini selalu ada yang dinamakan fiesta dan upacara.

Sebagai bukti dikemukakan oleh Panglima bahwa setiap harinya ia menerima paling sedikit 3 undangan fiesta dan upacara sehingga kalau undangan itu dikabulkan maka dalam setiap bulannya harus berada di tengah-tengah fiesta. Akibatnya kita tidak mungkin bisa bekerja seperti yang diharapkan karena waktunya habis untuk menghadiri fiesta atau upacara, umpamanya upacara ulangtahun, upacara ini dan itu.

Ciri lainnya yang diketemukan oleh Panglima Witono, inilah kita ini mempunyai banyak yang mempunyai ide dan idenya itu ternyata baik dan brilian misalnya ide untuk membuat ini, mendirikan itu, tetapi dalam kenyataannya itunya itu hanya ide belaka. Biasanya ide itu diserahkan kepada oran lain untuk pelaksanaannya dan pembiayaannya.

Ini, kata Pangllima Siliwangi “suatu ciri bahwa cara berpikir kita belum pragmatis dan realistis”.
Panglima mengingatkan pula, bahwa dalam follow up-nya dari pelaksanaan ide itu ternyata kadang tidak dipikirkan akibatnya dan ini menunjukkan ketiadaannya tanggung jawab sosial atas idenya itu (Ant)