Lewat Mural, Wanto Lee Titipkan Pesan Moral Pada Nunik

Lewat Mural, Wanto Lee Titipkan Pesan Moral Pada Nunik

Rakyat sedang menikmati lukisan mural karya Wanto Lee yang sarat pesan kebhinnekaan. (Ist)

BANDAR LAMPUNG- Ekspresi seni kaum muda Lampung Timur ini sebenarnya terbilang mahal untuk ukuran sebuah lukisan.  Namun,  belasan anak muda yang memilih pulang kampung ini memberikan karya lukis mural kepada publik secara gratis.

“Berbeda itu biasa” pesan tulisan dengan figur Gatotkaca vs Captain America berhadapan di satu panel mural dengan cat tembok warna-warni.

Di sampingnya ada lukisan punokawan naik sepeda dan ada juga mural berisi nasehat pitutur “Waras,  waris wareg. Jaga kewarasan” sampai  tulisan “Sing podo eling”.

“Awalnya hanya ide sederhana saja,  ingin melukis tapi media biasa, muncul keinginan bikin mural, jadilah” kata Yulianto di sela proses mewarnai mural di sekitar Lapangan Merdeka Taman Fajar,  Purbolinggo Lampung Timur.

Di sore jelang berbuka,  Yulianto bersama rekan yang memiliki hobi sama yaitu melukis terlihat tekun menyelesaikan dan mewarnai tembok dengan cat yang dibeli secara urunan.

Yulianto mengaku apa yang dilakukan hanya untuk mengisi waktu luang. Beberapa rekan yang tertarik dan memiliki keahlian melukis lalu bergabung bersama menyelesaikan mural di tembok milik kantor pos.

“Kalau berkarya sendiri bisa saja, asyik juga kalau dikerjakan bersama-sama,” kata Yulianto.

Menurut seniman lukis mural asal Tamanbogo,  Purbolinggo ini sebelum balik ke kampung dirinya bekerja jadi desainer perusahaan kaos di Yogyakarta. Keinginan untuk pulang kampung karena didasari rindu suasana alam dan tanah Lampung.

Yulianto menyebutkan saat ini,  di tengah kondisi kebangsaan Indonesia kini sebagai anak muda dirinya ingin berbagi nilai-nilai yang mulai luntur.

“Kita bebaskan mau buat mural apa saja. Intinya kita buat mural yang bermoral agar bisa dinikmati publik,” kata Yulianto.

Lokasi titik mural berada di lokasi yang strategis untuk jadi ajang pameran karya ke publik.  Saat proses pembuatan karya bahkan sudah jadi ajang selfie warga yang melintas.  Mereka bergantian memilih aneka gaya di depan mural yang ada.

Wawan, salah seorang seniman muda menyatakan dirinya tertarik bergabung dengan aktifitas melukis mural karena memiliki minat yang sama untuk bisa berkarya.

“Kita kesulitan dapat ruang pamer untuk karya lukis mural seperti ini.  Senang juga bisa gabung bikin mural,” kata Wawan.

Kepada SHNet dilaporkan, sehari-hari dengan aktifitas sebagai pengelola Antero, distro kaos di Lampung Timur, Wawan menyebutkan dirinya mendapatkan ruang yang diisi dengan gambar sosok perempuan lalu disampingnya ada ajakan untuk memanfaatkan jasa pos untuk aneka keperluan mulai berkirim surat hingga pelayanan jasa logistik.

“Modal buat melukis mural kita donasi mandiri,  ada juga donatur untuk beli cat tembok, ” kata Wawan.

Melihat dari dekat karya seniman muda Lampung Timur yang kaya pesan kebangsaan ini memang menarik untuk jadi titik berfoto bersama.

Selain tokoh Punokawan vs Avenger dan Gatotkaca vs Captain America,  ada juga mural pitutur yang mewariskan konten nilai-nilai budaya setempat.

“Kenapa saya pulang kampung,  kembali ke desa? Ingin memajukan desa dan mewarnai dengan karya seni,” kata Wawan.

Wanto Lee,  seniman sekaligus pelatih Capoeira menambahkan kini anak muda di Lampung butuh ruang ekspresi bersama.  Kesempatan memiliki karya yang bisa dinikmati publik memang harus lebih banyak tercipta.

Seni mural hadir untuk membuat ruang terbuka yang ada menjadi lebih indah dan bisa jadi refleksi bersama.

Ada nasehat dan pesan utama yang ingin dihadirkan oleh seniman muda Lampung Timur, yang kini kepala daerahnya yaitu Chusnunia tengah cuti kampanye untuk maju Pilgub Lampung sebagai wakil gubernur ini.

“Kita butuh ruang ekspresi seni yang lebih banyak.  Inilah cara kami bertegur sapa dengan rakyat Lampung Timur, ” kata Wanto. (Muchamad Fatchurochman)