Kemensos Tetap Melakukan Pendampingan untuk Anak Korban Radikalisasi

Kemensos Tetap Melakukan Pendampingan untuk Anak Korban Radikalisasi

Dirjen Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial Edi Suharto (tengah), di Jakarta, Kamis (17/5). (Ist)

SHNet, Jakarta- Kementerian Sosial (Kemensos) tetap melakukan pendampingan terhadap anak-anak korban radikalisasi, termasuk di dalamnya anak-anak dari pelaku terorisme di Surabaya.

Hal tersebut diutarakan oleh Dirjen Rehabilitasi Sosial, Kementerian Sosial (Kemensos) Edi Suharto usai membuka acara Assessment of the Effectiveness of ASEAN Children Forum as Platform to Promote Children’s Appreciation, di Jakarta, Kamis (17/5)

“Melalui Ditjen Linjamsos, kita sudah kirim pekerja sosial (peksos), sakti peksos dan relawan, Mereka melakukan konseling dan pendampingan ke rumah. Kami yakin anak-anak yang terlibat dalam peristiwa tersebut, mereka adaah korban yang harus dibantu, “ ujarnya.

Menurut Edi, pihaknya pernah melakukan rehabilitasi terhadap 200 keluarga yang akan berangkat ke Turki. Mereka banyak yang berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Dalam rombongan itu juga ada anak-anak.

“Mereka telah selesai menjalani rehabilitasi di Bambu Apus Jakarta,” lanjut Edi. Setelah selesai rehabilitasi, mereka tetap didampingi oleh sakti peksos. Sakti peksos juga memberikan assesment untuk lingkungan agar mereka bisa diterima kembali oleh lingkungannya.

Lingkungan sekolah tempat anak-anak mereka menuntut ilmu juga di assesment. “Sakti peksos ikut ke sekolah untuk memberikan assesment kepada pihak sekolah termasuk para pelajar agar mereka bisa menerima mereka,” paparnya.

Apakah anak-anak yang telah terpapar faham radikal bisa berubah? Edi mengatakan, mereka bisa berubah, asal lingkungannya juga mendukung untuk mereka berubah. Menurutnya, setelah anak-anak ini ditreatmen, mereka terus didampingi hingga mereka kondusif.

Edi menjelaskan Perlindungan Khusus bagi Anak korban jaringan terorisme dilakukan melalui upaya edukasi tentang pendidikan, ideologi, dan nilai nasionalisme; konseling tentang bahaya terorisme; rehabilitasi sosial; dan pendampingan sosial.

Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Ditjen Rehabilitasi Sosial Nahar mengatakan upaya perlindungan terhadap anak korban jaringan terorisme ini telah dilakukan pada tahun 2017 terhadap 87 anak-anak bersama dengan 139 orang yang di deportasi dari Suriah melalui Turki yang diduga terkait jaringan terorisme. Mereka menjalani rehabilitasi sosial di Rumah Aman milik Kementerian Sosial.

“Masa rehabilitasi sosial antara satu hingga tiga bulan. Materi yang diberikan seputar wawasan kebangsaan, nilai-nilai keagamaan, toleransi dan keberagaman. Kami bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Densus 88,” papar Nahar. (Stevani Elisabeth)